alexametrics

Bikin Robot Hidrolik, Sudah Menulis Delapan Buku

Aris Kukuh Prasetyo, Guru SD yang Masuk 50 Besar Guru Berdedikasi Internasional

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Aris Kukuh Prasetyo gigih menjadi guru SD di daerah perbatasan sejak masih kuliah. Ia masuk 50 besar penghargaan tertinggi bagi dedikasi guru tingkat internasional.

IDA FADILAH, Radar Semarang

JIWA sebagai pendidik telah tertanam di diri Aris Kukuh Prasetyo sejak kuliah D2 PGSD Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Sejak 2010, ia telah mengabdi di SD perbatasan Kabupaten Semarang dan Demak. Tepatnya di SD Penawangan 02 Kecamatan Pringapus yang berada di tengah hutan jati.

Alumnus S1 PGSD UKSW ini mendaftar guru di Kabupaten Semarang dan ditempatkan di daerah pelosok. Kali pertama ia menjadi guru kelas. Tekadnya mengajar memang besar. Ia bahkan melaju dari Salatiga ke sekolahnya yang memakan waktu tempuh 1 jam 15 menit.

“Saat itu, saya nggak kenal sama sekali dengan daerah Kabupaten Semarang, bahkan pusatnya di Ungaran saja saya tidak tahu. Waktu itu, saya masih menyelesaikan skripsi, keterusan sampai lulus masih nglajo,” ujarnya.

Di sana, ia mendorong dan membantu teman-teman guru untuk menyelesaikan kuliah S1, karena kebanyakan guru SD lulusan SMA atau D2. Mayoritas pekerjaan penduduk adalah becocok tanam jati dan jagung. Tidak sedikit anak-anak mereka ditinggal ke sawah hingga petang.

Baca juga:  Menulis Teks Deskripsi dengan Mind Mapping

Dengan keadaan seperti itu, ia tergerak melakukan kunjungan ke rumah siswa. Ada pula siswa yang putus sekolah lantaran membantu orang tua bekerja. Ia lalu memberikan konseling. Ada yang berhasil, mau kembali ke sekolah, ada juga yang tidak.

Usai mengabdi selama empat tahun di SD perbatasan, pada 2014 ia dipindah ke SD Negeri Delik 02. Tak berhenti berkreasi, di sekolah yang berlokasi di Jalan Karanglo Jelok Km 5 Desa Delik, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang ini, ia membuat media robot hidrolik terintegrasi. Robot ini, lanjutnya, menjelaskan tentang sifat zat cair. Ia menggunakan teori konsep hukum archimedes.

“Saya buatnya memang rumit pakai teori ini-itu dan lain-lain. Siswa tidak harus tahu sampai detail, yang penting konsep dasarnya sampai guna mempermudah penjelasan kepada siswa,” jelasnya.

Selain itu, terobosan ini menjawab salah satu masalah di Kabupaten Semarang tentang sampah eceng gondok. Hal itu juga menjadi upayanya untuk meningkatkan kesadaran lingkungan, terutama bagi siswanya.

Baca juga:  Belum Punya Karyawan, Toko Dijaga Berdua

“Robot ini untuk menjaga kebersihan dan menanggulangi meningkatnya eceng gondok di Rawa Pening, karena sekolah kami berada di dekat sungai yang alirannya dari Rawa Pening,” katanya.

Tak hanya itu, ia juga membuat media stop motion pada 2015. Kreasi itu terinspirasi dari kartun Shaun The Sheep yang disukai anak didiknya. Ia lantas membagikan kreasi itu kepada siswa untuk dinikmati bersama keluarga di rumah. Dengan tujuan untuk mendorong peran orang tua dalam proses belajar anak.

Perihal penghargaan itu, Aris mengaku awalnya hanya coba-coba daftar karena beberapa teman-temannya juga mendaftar. Bagi ayah satu anak ini, hal yang kadang disalahartikan di Global Teacher Prize adalah menilai prestasi. Padahal, sebenarnya yang diutamakan adalah dedikasi. Sama halnya yang dilakukan Aris untuk mengabdi mencerdaskan anak bangsa. Dedikasinya sebagai guru SD itu, Aris masuk 50 besar penghargaan Internasional Global Teacher Prize 2020 di ajang Varkey Foundation London Inggris.

Baca juga:  Meningkatkan Keterampilan Menulis Cerita melalui Model Pembelajaran Inovatif TTW

Ia mengaku tidak menyangka lolos 50 besar dunia. Sebab, pendaftar lain bagus-bagus. Guru SMP dan SMA yang mendunia dan bergelar tinggi “Tapi sudah sangat senang karena menyisihkan teman-teman yang bagus. Jadi, prestasi, dedikasi dan inovasi tiga hal itu yang menjadi penilaian,” tuturnya.

Pengumuman 50 besar Global Teacher Prize itu disampaikan pada 19 Maret 2020 lalu. Sementara pengumuman 10 besar masih menunggu karena terdampak korona.

Prestasi yang diukir Aris cukup banyak. Seabrek prestasi itu juga yang mengantarkannya menjadi finalis GTP. Setidaknya ada 17 prestasi baik tingkat lokal hingga internasional. Bahkan, ia juga mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sebagai insan pendidikan berprestasi mewakili Jateng dalam ajang Anugerah Konstitusi Tingkat Nasional oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Arif Hidayat 2016. Selain itu menjadi guru kelas SD, ia juga menjadi peneliti, inovator serta penulis buku. Setidaknya Aris telah menulis delapan buku anak. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya