Gunakan Metode Fisika, Diklaim Bisa Basmi segala Virus

Agustinus Andy Toryanto, Notaris yang Ciptakan Alat Penjernih Udara

2524
INOVATIF: Agustinus Andy Toryanto dan alat penjernih udara IOV buatannya. (kanan) alat pengukur keaslian Ionizer dan Ozonizer. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
INOVATIF: Agustinus Andy Toryanto dan alat penjernih udara IOV buatannya. (kanan) alat pengukur keaslian Ionizer dan Ozonizer. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Pemilik dua gelar doktor dan dua gelar calon doktor dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Agustinus Andy Toryanto, berhasil merakit alat untuk menjernihkan udara di ruangan. Namanya IOV atau Ionizer, Ozonizer, Ultraviolet C.


JOKO SUSANTO, Radar Semarang

AGUSTINUS Andy Toryanto adalah seorang notaris. Namun ia sangat kreatif. Agustinus berhasil merangkai alat untuk menjernihkan udara di ruangan. Alat ini diklaim bisa untuk pembasmi segala virus. Ia menciptakannya setelah belajar dari air purifier yang dulu dibelinya seharga Rp 12 juta.

“Saya beli air purifier seharga Rp 12 juta karena salah satu anak saya alergi debu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Nah, dalam perjalanannya, merawat alat tersebut ternyata butuh biaya tidak murah. Ia harus rutin servis dan terkadang mengganti sparepart. “Lama-lama yang mahal sparepart filternya, bisa sampai Rp 1,5 juta sekali servis. Padahal dua bulan sekali ganti. Ya, berat juga dari sisi keuangan,”ujar doktor bidang ilmu hukum dan ekonomi ini.

Dari situlah ia memutar otak untuk membuat alat sendiri yang lebih murah. Ia baru paham kalau di air purifier itu terdapat ionizer, ozonizer, dan ultraviolet C. Ozonizer dan ionizer ini banyak dijual bebas di pasaran. Namun belum jelas keasliannya. Ia sendiri memiliki alat ukurnya. Karena itu, ia berani merakit sendiri yang sudah jelas terukur dan betul-betul ultraviolet, ozonizer, dan ionizer.

“Saya uji coba tiga bulan terus-menerus. Habis 30 macam lebih. Saya beli lalu bongkar, beli bongkar. Setelah punya alat ukurnya, baru merangkai sendiri. Saya memang paham dari awal, karena membaca di literatur dan jurnal,”ujarnya.

Alat itu sudah dirakit sejak Januari 2019. Lalu Desember 2019 mulai membuka, membedah, mengukur, yang akhirnya bisa dirangkai. Alat itu sudah dicoba di rumahnya. Terbukti anaknya yang alergi debu merasa nyaman. Hingga saat ini sudah jadi sekitar 1.500 set. Namun alat ini hanya didistribusikan ke kolega-koleganya. Tidak dikomersialkan.

“Harganya sekitar Rp 1 juta, tapi saya bukan pengusaha untuk dijual bebas. Alat ini membuktikan komponen-komponen yang terbukti andal dan awet. Ada kipas angin untuk sirkulasinya. Ada lampu khusus untuk ultraviolet C dan lampu merah menghasilkan ozon,”jelasnya.

Dikatakannya, satu alat ini bisa digunakan untuk ruang tertutup ukuran 5×10 atau 50 meter persegi. Ia mengatakan, alat buatannya sudah digunakan di beberapa klinik dan hotel. “Sehari bisa buat 30-40 set. Ini saya kerahkan semua staf. Kadang kalau libur buat di rumah. Alat ini bisa ditaruh di ruangan atau mobil. Kalau ozonizer full bisa untuk ruangan yang agak besar,”ungkapnya.

Alat ini diklaim bisa membasmi virus dengan metode fisika bukan kimia. Dalam satu alat rakitan, lanjutnya, kekuatannya bisa sampai enam ribu jam dan bertahan sekitar dua sampai tiga tahun. Namun hingga kini, Agustinus belum mematenkan alat temuannya itu. “Karena memang tidak dibisniskan,” ucapnya. (*/aro)





Tinggalkan Balasan