alexametrics

Beri Materi Kuliah sambil Momong Anak

Kisah Dosen dan Guru yang Mengajar secara Online dari Rumah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Work from home (WFH) menjadi kebijakan yang diambil pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Salah satunya di lingkup kampus yang telah menerapkan perkuliahan secara daring. Hal ini dialami oleh Ella Izzatin Nada, Dosen Pendidikan Kimia UIN Walisongo Semarang. Di tengah sistem WFH, ia memiliki banyak waktu untuk keluarga. Anaknya pun senang karena tidak perlu dititipkan pengasuh.

IDA FADILAH, Radar Semarang

SEJAK 27 Maret lalu, Ella Izzatin Nada mulai mengikuti kebijakan work from home. Praktis, dosen Pendidikan Kimia UIN Walisongo Semarang ini memberikan tugas-tugas perkulihan kepada mahasiswanya secara online. Ia melakukannya sembari mengasuh putri semata wayangnya, Meyra Chayra, yang masih berusia 2 tahun.

Selama ini, wanita yang akrab disapa Ella ini menitipkan putrinya ke seorang pengasuh setiap kali mengajar di kampus. Namun selama WFH, putrinya ia asuh sendiri. Meski begitu, ia tetap menjalankan pekerjaan seperti biasa. Hanya saja, dilakukan di rumah. Misalnya, tanggung jawab untuk mengajar, melakukan penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, tetap dilakukan.

Baca juga:  Baik untuk Kesehatan, Bisa Jadi Sumber Pendapatan Warga

“Saya memang di rumah, tapi bukan berarti libur. Kegiatan saya sehari-hari selain melaksanakan kewajiban mengajar, saya juga mengasuh anak dan beberes rumah. Karena saya ibu pekerja tanpa asisten rumah tangga,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ella mengaku sempat kuwalahan membagi waktu untuk mengajar sembari momong. Namun baginya ini momen langka. Ia senang karena bisa mengasuh secara langsung, dan bisa selalu bersama dengan sang putri.

Perempuan kelahiran Jepara 6 Oktober 1992 ini mengaku antara senang dan tidak bekerja sistem WFH ini. Sebab, ia merasakan justru pekerjaannya menjadi lebih berat. “Seperti memberikan kuliah online misalnya, saya harus benar-benar mempersiapkan dengan detail. Karena kuliah ini bukan hanya memberi tugas, tapi lebih ke arah pemberian motivasi dan transformasi ilmu di sana,” tuturnya.

Sedangkan jika bekerja di kampus, baginya juga menyenangkan. Karena bisa bersilaturrahim dengan teman dan mengajar secara langsung. Sehingga tidak merasa jenuh. Beda kalau hanya di rumah, terkesan monoton. “Yang terpenting memang harus menikmati peran, karena bekerja diniatkan untuk ibadah,” ujarnya.

Baca juga:  Masker Bisa Dicuci, Produksi Hand Sanitizer Terkendala Bahan

Menurut istri dari Dewanta Ash Shiddiqi ini, untuk mengusir kejenuhan perkulihan lewat daring, baik bagi dirinya dan mahasiswanya, dia harus pintar-pintar dalam memilih materi perkulihan. Juga harus ada selingan hiburan, agar tidak monoton.

Ella mengaku, di sela kuliah daring, ia juga disibukkan dalam penjualan hand sanitizer lewat online. Ia membuat barang yang banyak dibutuhkan selama pandemi Covid-19 itu bersama bersama kakaknya yang juga dosen Biologi Universitas Negeri Semarang (UNNES). “Saya bekerja sama menggarap pesanan hand sanitizer. Awalnya hanya untuk konsumsi sendiri, sekarang banyak pesanan,”kata Ella yang suaminya bekerja di sebuah perusahan furniture.

Dikatakan, meski permintaan tinggi, namun ia tetap membantu masyarakat tanpa menaikkan harga. “Hand sanitizer kami jual per 100 ml seharga Rp 20 ribuan. Sekarang sudah mulai langka bahan baku ataupun botolnya. Meski begitu, kami tidak menjual dengan harga yang bombastis. Karena sekali lagi, ada unsur kemanusian. Kami tidak berniat meraih untung sebanyak-banyaknya,” tambahnya.

Baca juga:  Kejati Jateng Berlakukan WFH 50 Persen

Tetap kreatif selama WFH juga dilakukan Zustina Indriyati, guru SMK Ma’arif NU 1 Semarang. Ia mengatakan dengan sistem sekolah daring, ia bisa memanfaatkan waktu bersama anaknya yang berusia dua tahun. Meski begitu, WFH harus tetap dijalankan sesuai jadwal sekolah. Setiap jam pelajaran, ia memberikan materi, tugas, dan tanya jawab via online.

“Tapi ya lebih enak pembelajaran dengan tatap muka, kita bisa interaksi secara langsung ke anak-anak. Karena ada hal yang tidak bisa dijelaskan secara daring, apalagi mapel matematika,” katanya.

Sistem daring menuntut guru harus pintar memberikan penjelasan sampai siswa bisa memahami materi yang disampaikan mesti tidak bertatap muka. Guru juga harus kreatif dan inovatif agar siswa tidak bosan dan tetap memerhatikan pelajaran. “Itu yang jadi PR setiap guru. Karena sistem daring ini sepertinya akan lama. Makanya, harus pintar-pintar berinovasi agar siswa tidak jenuh,” ujar guru yang juga berjualan online di sela mengajar ini. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya