Narasi Kemijen dan Sedulur Banyu Memikat Hati Para Juri

Kolektif Hysteria Pemenang Grand Price Youfab Award di Shibuya Tokyo Jepang

276
SENIMAN INOVATOR : Direktur Kolektif Hysteria Adin saat menerima penghargaan di Jepang.(ISTIMEWA)
SENIMAN INOVATOR : Direktur Kolektif Hysteria Adin saat menerima penghargaan di Jepang.(ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.ID, Belum lama ini, kolektif Hysteria berhasil memenangkan Grand Price Youfab Award di Shibuya, Tokyo, Jepang. Apa yang ditawarkan komunitas dari Semarang ini hingga mengungguli sejumlah negara lain?

Sigit Andrianto, Radar Semarang

PENGHARGAAN ini diraih akhir Februari lalu. Sebuah apresiasi tertinggi dalam event tahunan yang dihelat Fabcafe Tokyo di bawah manajemen Loftwork Inc, sebuah perusahaan kreatif global yang mempunyai cabang di Hong Kong, Hida, Tokyo, Kyoto, Bangkok, Taipei, Barcelona, Toulouse, Strasbourg, dan Monterrey.

Direktur Hysteria Adin mengatakan, Loftwork Inc mendedikasikan dirinya untuk membuat dampak positif melalui desain berbagai inovator dari seluruh dunia. Di antara satu terobosannya adalah Youfab Award. Kompetisi global yang mencari inovasi teknologi dari para seniman, inovator, maupun maker dari dunia.

“Kompetisinya sudah berlangsung sejak 2012. Mencari solusi atau inspirasi dari relasi tradisional antara individu dan industri untuk kepentingan masyarakat,” terang Adin saat dijumpai di kawasan Kota Lama Semarang.
Pada kesempatan lalu, kompetisi tersebut diikuti 285 partisipan dari 43 negara. Termasuk di dalamnya Kolektif Hysteria yang mengajukan Penta KLabs (sites spesifik art project biennale) sebagai gacoan lomba. Penta KLabs bersanding dengan sejumlah inovasi lainnya dalam hal artificial intelligent, big data analis, internet of things, dan semacamnya.
“Kemarin itu temanya mempertanyakan relasi antara yang manual dan digital, perubahan terus menerus dalam operating system secara sosial maupun kultural,” jelasnya.

Karya Hysteria ini bersanding dengan 20 finalis lain dari berbagai negara. Menariknya, dikatakan Adin, yang ditawarkan Hysteria bukan teknologi yang fancy dan atau advance. Melainkan kerja-kerja pengorganisasian yang bersentuhan dengan darah dan daging.
“Bandingkan misalnya karya The Common Thread, Amir Zobel dan Itay Blumenthal (Israel) yang meraih First Prize. Itu menggunakan teknologi pemrosesan data spesifik. Atau karya Helena Nikonole dkk, Bird Language, yang mencoba alat penerjemah bahasa burung ke manusia dan sebaliknya,” bebernya.

Adin katakan, sejak awal memang tidak mengulik software dan hardware seperti yang kebanyakan orang lakukan hari ini. Membuat start up untuk menjadi unicorn. “Fenomena Gojek membuat orang berlomba membuat start up dan berburu investor. Kemudian mitos smart city mendorong kota berlomba mencipta aplikasi-aplikasi baru tanpa mengetahui siapa user-nya,” ujarnya.
“Hal ini bukannya tidak baik tetapi perburuan eksesif seperti itu tak jarang menemui kesia-siaan karena salah strategi,” tambahnya.

Mayoritas karya peserta memang sangat teknologis dan canggih seperti lazimnya karya-karya new media art atau multimedia. Karya-karya berbasis big data, sensor maupun artificial intelligent banyak disajikan. Hysteria justru menciptakan sesuatu yang manual seolah membawa perhelatan menengok ke belakang apa yang sudah dicapai teknologi demi kebaikan masyarakat.
Dalam hal ini, Hysteria memanfaatkan aplikasi yang sudah tersedia seperti media sosial populer untuk sarana advokasi komunitas. Seperti ketika ramai seruan banning terhadap tik-tok karena dianggap sampah dengan trigger meet and greet Bowo Alpenliebe, Hysteria justru menggunakan tik tok untuk membuat video dengan latar belakang situs penting di kampung misalnya pepunden (tempat bersemayamnya leluhur) di Rembang.

Hysteria, ia katakan, juga menggunakan Open Street Map dan Ushahidi untuk platfom pemetaan hingga akhirnya diundang ikut berpameran di Pasific Place dalam Big Data Fest oleh Mediatrec. “Selain itu untuk keperluan mengungkap cerita di kampung bersama seniman Inggris, Liam Symth Hysteria menggunakan Aurasma (belakangan dibeli oleh HP) untuk menciptakan augmented reality. Hal-hal itulah yang dilakukan Hysteria dalam menyiasati teknologi,” tukasnya.
Ditambahkan Adin, melalui Penta KLabs Hysteria menghubungkan jejaring yang kompleks antara kamu/kami/kita, kelas/kampus, komunitas, kampung, dan kota dalam sebuah festival bersama merespons isu spesifik di tempat yang khusus. Relevansi, konteks, dan signifikansi adalah kata-kata kunci untuk menggambarkan kerja-kerja Hysteria yang berhubungan langsung dengan isu perkotaan di mana ia bertumbuh.

Humam Zidni Ahmad, yang berangkat ke Jepang bersama Adin mengatakan, Penta Klabs sudah berlangsung dua kali di Semarang, yakni di Kemijen (Narasi Kemijen, 2016 tentang ketahanan kampung) dan di Nongkosawit (Sedulur Banyu, 2018 tentang ekosistem air). Platform inilah yang memenangkan hati para juri. “Karena secara umum seperti mengingatkan kembali bahwa dimensi manusia dan sosial itu penting untuk diretas,” ujarnya.

Sayangnya awarding tersebut tidak berjalan semestinya karena pandemi Covid 19 sedang ganas-ganasnnya sehingga acara ditutup untuk publik. (*/ida)





Tinggalkan Balasan