Baca Kali Pertama Langsung Masuk ke Hati

Eko Santoso saat membaca koran Jawa Pos Radar Semarang di kios mininya. (Alvi Nur Janah/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Bagi Eko Santoso, membaca koran sudah menjadi menu wajib setiap hari. Dan, sejak 10 tahun terakhir, ia selalu setia membaca koran Jawa Pos Radar Semarang.

EKO Santoso adalah pemilik toko alat sepeda dan pertukangan. Toko Mini itu terletak di Jalan Peterongan Raya, Kelurahan Peterongan, Semarang Selatan. Tepatnya, sekitar 50 meter dari perempatan Sompok Bugel.

Sambil menunggu pembeli, pria berkacamata itu asyik membaca koran. Tak lupa segelas kopi dan rokok menemaninya.

“Saya suka membaca Jawa Pos Radar Semarang karena beritanya bagus dan lebih menarik dari yang lain. Dari segi isi, beritanya lebih detail dan lebih mudah dipahami bahasanya. Mudah dicerna,” ujar Eko Santoso saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Senin (30/3/2020).

Dia masih mengingat saat kali pertama menyukai koran Jawa Pos Radar Semarang. “Saya sebenarnya sudah berjualan sejak 1995. Tapi, baru aktif membaca koran Jawa Pos Radar Semarang sejak 10 tahun terakhir. Ya, awalnya buat mengisi waktu luang dan kebetulan saya hobi membaca. Ternyata membaca Jawa Pos Radar Semarang itu asyik,” ucap pria ramah ini.

Ia sendiri tidak tahu kenapa begitu kali pertama membaca koran Jawa Pos Radar Semarang langsung masuk ke hati. Ia merasa sangat pas, dan tidak mau ke koran lain.

“Langsung nresep ke ati. Mengalir saja. Dari dulu bacanya cuma koran ini. Nggak baca koran lain,”terangnya sembari memegang koran Jawa Pos Radar Semarang.

Namun ia mengaku pernah setahun libur membaca gara-gara Sodiq, loper koran setianya mengalami kecelakaan.

“Kebetulan loper koran langganan saya jatuh sakit. Kecelakaan waktu pulang ke Wonosobo. Jadi, tidak bisa mengantar. Sekarang sudah aktif lagi. Ya, dari dulu lopernya tidak pernah ganti. Korannya juga tetap Jawa Pos Radar Semarang,” katanya.

Eko sendiri mulai buka toko pukul 07.00. Tak berselang lama, koran langganannya datang. Di kios berukuran panjang sekitar 5 meter dan lebar 2 meter itu, ia menunggu pembeli sambil membaca Jawa Pos Radar Semarang.

“Koran itu mencegah hoaks, Mbak. Kalau berita online dan media sosial itu rentan serta rawan hoaks. Lha saya baca koran ini untuk menghindari hoaks,”ucapnya.

Ia menilai Jawa Pos Radar Semarang itu koran unik dan beda. Ia menceritakan, pernah membaca berita kasus pemukulan yang dilakukan oleh lurah terhadap ketua RW. Di Jawa Pos Radar Semarang, berita itu sudah terbit yang pertama. Sedangkan di koran lain nggak ada. “Itu yang saya suka. Jawa Pos Radar Semarang ini memang beda,” pujinya.

Baginya, membaca koran juga melatih fokus dan ketenangan. Diakuinya, sampai saat ini ia tidak pernah mengakses berita online. “Saya hanya baca koran. Tidak mengakses online,”ucapnya penuh keyakinan.

Eko paling suka rubrik olahraga. “Suka baca di halaman Sportaintmen. Usul saya, halaman olahraganya diperbanyak. Khususnya, rubrik olahraga Kota Semarang,”katanya.

Ia berharap di ulang tahun ke-20 Jawa Pos Radar Semarang, koran akan tetap eksis. “Beritanya harus lebih up to date lagi. Kalau dari tampilan koran sudah bagus. Berita khusus Semarang ditambahin. Karena tinggalnya kan di Semarang. Biar lebih mengangkat Semarang saja,”harapnya. (avi/aro) 

 





Tinggalkan Balasan