Dari Bisnis Perorangan, Berdayakan Warga, Wujudkan Kampung Bangul

Lebih Dekat Pringgo Sucahyo Tunggal Rino dan Sri Utami, Pasutri Pengusaha Bantal Guling

393
BERSAMA WARGA : Pringgo Rino dan Sri Utami beserta para warga memperlihatkan bahan baku bantal guling di RW 4 Keluharan Tegalsari Semarang. (Dewi Akmalah/Jawa Pos Radar Semarang)
BERSAMA WARGA : Pringgo Rino dan Sri Utami beserta para warga memperlihatkan bahan baku bantal guling di RW 4 Keluharan Tegalsari Semarang. (Dewi Akmalah/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Jatuh bangun dialami oleh Pringgo Sucahyo Tunggal Rino dan Sri Utami dalam mengelola bisnis bantal guling (bangul). Hingga akhirnya kesuksesan dapat diraih pasangan suami istri (pasutri) tersebut. Tidak ingin menikmati kesuksesan sendiri, keduanya membentuk Kampung Tematik Bangul di daerah tempat tinggalnya.

Dewi Akmalah, Radar Semarang

SIAPA yang bisa tidur tidak menggunakan bantal dan guling? Pasti hampir semua orang membutuhkan dua peralatan tersebut. Pernahkan bertanya dari manakah kedua barang tersebut berasal? Mungkin, salah satunya merupakan karya dari pasutri asal Jalan Genuk Krajan RT 03 RW 04 Kelurahan Tegalsari ini.
Ya, Pringgo Sucahyo Tunggal Rino dan Sri Utami cukup sukses mengembangkan bisnis tersebut. Terbukti, produk mereka telah beredar hampir di seluruh supermarket dan toko di seluruh Jawa Tengah dan DI Jogjakarta.

Sri Utami mengaku telah merintis bisnis tersebut sejak tahun 1995. Bersama suaminya, ia mulai merangkak dari bawah dengan menawarkan secara berkeliling produk bantal gulingnya. Bisnisnya tidak berjalan mulus begitu saja. Terdapat berbagai cobaan yang ia hadapi. Mulai dari tempat produksi yang terbakar hingga persaingan dengan pengusaha lainnya yang semakin modern. Namun dengan tekad dan semangat kerja keras ia mampu lewati. Alhasil, sekarang bisnisnya berkembang pesat. “Ya Alhamdulillah sudah jalan 15 tahun sampai sekarang,” ujarnya.
Dirinya mengaku saat ini sudah memiliki dua tempat produksi bantal guling. Dengan 14 pekerja yang membantunya. Setiap hari, ia mampu memproduksi puluhan bantal dan guling. Bahkan jika pesanan meningkat seperti menjelang hari raya, ia mampu memproduksi hingga 100 bantal guling. Bersyukur, semua laku terjual ke berbagai supermarket dan toko yang telah menjadi langganannya. Terutama di sekitar Jawa Tengah dan DIJ. “Untuk produk, saya banderol dengan harga Rp 35 ribu sampai Rp 65 ribu. Kalau yang paling mahal itu tentu paling awet. Ada harga, ada rupa,” lanjutnya.
Pada awalnya, ibu tiga anak ini memproduksi bantal guling dengan bentuk biasa seperti pada umumya. Namun dirinya menyadari persaingan bisnis semakin sengit. Banyak pengusaha yang mulai meng-upgrade produk-produknya. Dirinya pun tak ingin ketinggalan. Ia melakukan berbagai inovasi. Salah satunya dengan bantal guling printing. Dimana foto atau gambar yang diminta konsumen dapat dicetak pada bantal atau guling produksinya.

“Kami juga menge-print tempat-tempat ikonik Kota Semarang. Seperti Lawang Sewu, Sam Poo Kong, dan masih banyak lainnya. Lumayan kan bisa menjadi oleh-oleh khas Semarang,” lanjutnya.
Tidak hanya motif, pihaknya juga memodifikasi bentuk bantal guling. Seperti produk bantal cinta yang menjadi andalannya. Bantal cinta berbentuk memanjang dan dapat digunakan untuk dua orang. Ada pula bantal guling yang dimodifikasi menjadi satu yang tengah viral di sosial media. Selain itu, di bidang pemasaran, dirinya juga mulai menjajakan produk melalui media online. Sehingga tidak kalah dengan pengusaha lainnya. “Ya Alhamdulillah dengan adanya inovasi, bisa menambah penjualan produk kami,” lanjutnya.
Meski telah sukses dengan usahanya, tidak menjadikan pasutri ini lupa untuk berbagi. Mereka masih memiliki keinginan untuk membantu masyarakat sekitar rumahnya agar lebih sejahtera. Terbukti mereka memberdayakan warga sekitar untuk menjadi karyawan pada tempat usahanya. Selain itu, pihaknya juga sering memberikan pelatihan bisnis bantal guling kepada para tetangga. Ia berharap warga dapat turut serta mengembangkan bisnis bantal guling di kampungnya. “Ya kami berbagi ilmu. Kami berikan pelatihan ke warga. Nanti warga bisa membentuk UMKM bantal guling di kampung,” ujar sang suami Rino.

Bahkan ia memiliki niat luhur membentuk kampung tematik bantal guling (bangul) di RW 4 Kelurahan Tegalsari. Dimana ia mendorong warga dapat bersama-sama produktif memproduksi bantal dan guling. Sehingga tidak hanya ia saja yang sukses. Namun seluruh warga kampungnya juga merasakan manfaat dan menaikkan kesejahteraan.
“Yang jelas tujuan Kampung Tematik Bangul Patsari (Bantal Guling RW 4 Tegalsari) adalah memberdayakan warga guna menaikan taraf hidup mereka. Syukur-syukur bisa jadi destinasi wisata kalau datang ke Semarang,” pungkasnya. (*/ida)





Tinggalkan Balasan