Masker Bisa Dicuci, Produksi Hand Sanitizer Terkendala Bahan

Melongok Aktivitas Pembuatan Hand Sanitizer dan Masker Mahasiswa Unnes

340
PRODUK MAHASISWA: Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Unnes memproduksi masker (kanan) Dekan Fakultas Teknik Unnes Nur Qudus menunjukkan hand sanitizer dan masker buatan mahasiswa. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PRODUK MAHASISWA: Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Unnes memproduksi masker (kanan) Dekan Fakultas Teknik Unnes Nur Qudus menunjukkan hand sanitizer dan masker buatan mahasiswa. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Langkah positif untuk mengantisipasi penyebaran virus korona dilakukan oleh mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes). Mereka memroduksi hand sanitizer dan masker yang kini banyak dicari. Produk mahasiswa Unnes ini tidak diperperjualbelikan.

PAMERKAN PRODUK : Dekan FT Unnes, Dr. Nur Qudus saat mamerkan produk hand sanitizer yang dikembangkan Unnes. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
PAMERKAN PRODUK : Dekan FT Unnes, Dr. Nur Qudus saat mamerkan produk hand sanitizer yang dikembangkan Unnes. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)

ADENNYAR WYCAKSONO, Radar Semarang

Protokol kesehatan ketat diterapkan oleh Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Semarang ketika koran ini ingin meliput pembuatan hand sanitizer dan masker di tengah pandemi Covid-19. Dua barang tersebut kini menjadi buruan dan langka. Kalau pun ada, harganya sudah berlipat-lipat dibanding saat normal.

“Silakan mas cuci tangan dulu, setelah itu pakai hand sanitizer dan melakukan pengecekan suhu tubuh,” ujar salah satu petugas di kampus FT Unnes dengan ramah.

Koran ini pun mencuci tangan dan menggunakan hand sanitizer serta diperiksa suhu tubuh. Setelah dinyatakan sehat dengan suhu tubuh normal sekitar 36 derajat, baru diizinkan masuk ke kompleks kampus FT Unnes. Di sana sudah menyambut Kepala UPT Humas Unnes M Burhanuddin dan Dekan FT Nur Qudus. Keduanya mengajak keliling untuk melihat proses pembuatan hand sanitizer dan masker secara lengkap, ditemani oleh Ketua Tim Satgas Covid-19 Unnes, Yuni Wijayanti.

Berjalan melewati rimbunnya kampus dengan jargon Kampus Konservasi ini, sekitar 10 menit akhirnya rombongan sampai di sebuah ruangan. Di mana ada sekitar lima mahasiswa yang menggunakan pakaian pelindung ala peneliti. Mereka tampak sibuk mencampur bahan-bahan untuk membuat hand sanitizer, seperti ethanol, grisrol, dan hidrogen priroksida.

“Kita sudah produksi sejak sepekan lalu, hand sanitizer ini dibuat oleh tiga fakultas, yakni Fakultas MIPA, Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Keolahragaan,” kata Nur Qudus kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia mengaku, pembuatan hand sanitizer ini terkendala minimnya bahan baku alkohol yang ada di pasaran. Padahal secara total dari tiga fakultas tersebut, sampai Kamis (26/3) kemarin berhasil membuat 3.500 botol dengan kemasan 500 mililiter.

“Kesulitannya adalah bahan baku. Produksi dilakukan oleh mahasiswa yang berkompeten dalam bidangnya serta di bawah koordinasi dan pengawasan Tim Satgas Covid-19 Unnes dan Pusat Layanan Kesehatan (Puslakes) Unnes,” tambahnya.

Nur Qudus kemudian mengajak koran ini untuk berpindah ke gedung lain untuk melihat proses pembuatan masker. Tepatnya di laboratoriun Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Unnes.

Ada sekitar sembilan mahasiswa yang membuat masker. Lagi-lagi mereka juga ditemani Tim Satgas Covid-19. Bahkan antara satu dan mahasiswa lainnya diberlakukan protokol kesehatan yang ketat atau social distancing.

“Kita tetap berlakukan protokol kesehatan, jarak satu mahasiswa dengan lainnya diatur dan semuanya menggunakan masker,” jelasnya.

Setiap harinya, mereka berhasil membuat 200 masker. Masker ini berbahan kain yang bisa dicuci dan dipakai lagi. Produksi dilakukan oleh mahasiswa yang berkompeten dalam bidang tata busana dan menjahit masker. Sampai kemarin, produksi masker tercatat telah mencapai 4.500 buah. “Ini bukan masker medis, tapi yang untuk umum. Uniknya ini bisa diselipkan filter sendiri dan memiliki dua lapisan yang cukup tebal,” sambung Yuni.

Ia mengaku banyak permintaan dari masyarakat untuk bisa mendapatkan hand sanitizer dan masker buatan Unnes ini. Sayangnya, keterbatasan bahan membuat mereka memilih mendistribusiksan ke intern Unnes, seperti dosen, tenaga pendidikan, staf, satpam, cleaning servis dan yang lainnya.
“Produksi masih untuk kalangan intern, karena bahan yang terbatas. Untuk masker saja, bahan katun juga sangat sulit didapatkan,” keluhnya.

“Pendistribusiannya pakai protokol kesehatan, disalurkan melalui fakultas terkait atau bagian terkait. Sehingga tidak ada yang antre dan berdesakan,” katanya. (*/aro)





Tinggalkan Balasan