Khusus Warga Tidak Mampu, Ikhlas Tidak Dibayar

Lebih Dekat dengan Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kota Semarang, Istirochah

238
PROFESI KEMANUSIAAN: Bidan Istirochah saat melayani pasien di tempat praktiknya. (ISTIMEWA)
PROFESI KEMANUSIAAN: Bidan Istirochah saat melayani pasien di tempat praktiknya. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.ID, Menjalani profesi sebagai bidan puluhan tahun tentunya banyak cerita. Seperti bidan Istirochah. Ia sudah lebih dari 31 tahun menjadi bidan di Kota Semarang. Kini ia menjadi Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kota Semarang.

EKO WAHYU BUDIYANTO, Radar Semarang

BU Isti – begitu sapaan akrab bidan Istirochah. Ia menjadi bidan sejak 1989. Profesi itu ditekuni sejak ia lulus dari Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) PPNI. Pada tahun itu, dirinya lantas mengabdi menjadi bidan desa selama satu tahun. Ketika itu, ia mengikuti program pemerintah yang menerjunkan para bidan ke desa-desa.

“Tetapi saya tidak tahu kok surat pengangkatan saya sebagai bidan PNS justru turunnya di RSUP Dr Kariadi. Sampai sekarang, saya berdinas di rumah sakit tersebut,” ujar wanita kelahiran 13 Juli 1968 ini saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di rumahnya Jalan Puri Anjasmoro Blok B Kelurahan Tawangmas, Semarang Barat.

Isti menceritakan, ia tertarik dengan profesi sebagai bidan lantaran panggilan hati. Bermula saat Isti kecil melihat tetangganya yang menjadi seorang bidan. Melihat bagaimana bidan berjuang menyelamatkan nyawa ibu dan anak yang sedang dilahirkan. “Menurut saya itu profesi yang mulia, karena menolong orang,” katanya.

Dari situlah terbesit keinginan hatinya menjadi seorang bidan. Cita-citanya itu pun akhirnya tercapai. Bahkan sekarang ia menjabat Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kota Semarang.

Isti mengaku dalam melayani ibu yang memeriksakan kehamilan ataupun melahirkan, ia tidak pernah mematok harga. Khusus warga yang tidak mampu, ia mengaku ikhlas apabila tidak dibayar. Yang terpenting baginya, dalam proses kelahiran tersebut, ibu dan anak selamat. “Ada rasa bangga tersendiri bisa menolong orang seperti itu,” ujarnya.

Saking seringnya menolong orang yang tidak mampu, sampai sekarang beberapa ibu yang pernah dibantu melahirkan, masih mengingat jasanya. “Dulu pernah, ada ibu yang saya bantu melahirkan. Habis lahiran, saya dibayar pakai terasi,” kenangnya sambil tersenyum.

Diceritakan, ibu yang memberinya terasi tersebut kebetulan sehari-hari berjualan terasi di salah satu pasar tradisional Kota Semarang. Kejadiannya pada 1994. “Sampai sekarang anak dan ibunya kerap bersilaturahmi ke rumah. Anaknya sekarang sudah besar,” ujarnya.

Ia mengaku, sampai saat ini sudah 6.000 proses kelahiran yang ditangani. “Semuanya Alhamdulillah selamat ibu dan bayinya,” katanya.

Saat ini, Isti terus mengabdi sebagai bidan, sekaligus membantu Pemkot Semarang dalam penurunan angka kematian ibu dan bayi yang dilahirkan. Setiap hari, Isti di RSUP Dr Kariadi juga memegang peranan penting, yaitu sebagai Komite Keperawatan di bagian Sub Komite Etik Disiplin Profesi. Dia juga membuka praktik bidan di rumahnya, serta kerap menerima panggilan. Terutama panggilan melahirkan bagi keluarga yang kurang mampu. Dengan senang hati, dirinya menolong pasiennya tersebut. Bahkan, setiap tahun dirinya jarang merasakan suasana lebaran dan berlibur bersama keluarga. Sebab, dia harus melayani semua pasien yang datang ke tempat praktiknya. Termasuk tetap berdinas di RSUP Dr Kariadi.

“Risikonya ya seperti itu, kalau lebaran jarang bisa berkumpul pas hari H,” ujarnya.

Beruntung, sampai saat ini, keluarganya bisa memaklumi. Dan memberikan dukungan penuh terhadap profesi yang dijalaninya tersebut. “Keluarga Alhamdulillah mendukung, bahkan ketika harus menolong (melahirkan) tengah malam dan itu jauh, sering diantar oleh suami atau anak-anak,” katanya.

Ia berharap, para bidan sekarang terus meningkatkan kompetensinya. “Dan juga memperbanyak pengalamannya, tidak sedikit-sedikit mematok harga. Karena profesi kita ini sebagai profesi kemanusiaan,” ucapnya. (*/aro)

Tinggalkan Balasan