Selipkan Kisah Cinta Buat Tarik Pembaca

Pradipta, Komikus Semarang yang Mengangkat Komik Sejarah

429
KOMIK SEJARAH: Karakter Tirto dalam komik “A Tempo Doeloe Story” karya A. Pradipta ini terinspirasi dari bapak pers Indonesia, Tirto Adhi Soerjo. (DOKUMEN PRIBADI)
KOMIK SEJARAH: Karakter Tirto dalam komik “A Tempo Doeloe Story” karya A. Pradipta ini terinspirasi dari bapak pers Indonesia, Tirto Adhi Soerjo. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.ID, Tertantang mengajak generasi muda untuk terus mengingat sejarah, A. Pradipta, komikus asal Semarang mencoba mengangkat komik sejarah. Ia pun menyelipkan penggalan kisah cinta untuk membuat sejarah menjadi menarik.

SIGIT ANDRIANTO, Radar Semarang


A. Pradipta melihat, biasanya yang disajikan dalam buku sejarah adalah hal-hal yang melulu pertentangan antara yang baik dan yang jahat. Antara yang dijajah dengan yang menjajah. Selain itu, sejarah selalu diidentikkan dengan perang. Padahal, menurutnya, ada sisi lain dari sejarah jika mau menggali lebih dalam.

”Kalau mau menggali lebih dalam, akan jauh lebih bermakna. Membuka sudut pandang kita,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia mengatakan, selama ini memang sudah ada komik yang mengangkat sejarah Indonesia. Hanya saja, ia menilai, belum banyak pembaca yang mengarahkan minatnya ke sana. Ia pun mencoba untuk masuk dengan cara yang berbeda.

”Ada. Tapi jarang ada yang kemudian populer. Kami ingin, kalau bisa komik ini nanti menjadi rujukan bahan ajar. Atau, kalau bisa kami pengin dibuat film atau drama. Sehingga bisa menjadi alternatif belajar sejarah,” katanya.

Untuk lebih menarik minat anak muda, ia menciptakan beberapa seri komik sejarah dengan membubuhkan kisah romance di dalamnya. Ia ingin mengarahkan pandangan bahwa sejarah bukan melulu soal perang saja. Ada hal-hal lain di dalamnya yang bisa membantu untuk memahami peristiwa lampau.

Memang, menjadi tantangan bagi A. Pradipta untuk menggiring pembaca ke komik sejarah. Padahal, dari pengalamannya, tidak sedikit yang jutsru ketagihan ketika sudah membaca komiknya.

”Jadi untuk menarik minat, saya bikin karakter ganteng. Jadi lebih dapat dinikmati. Kemudian bikin sudut pandang pada kegiatan sehari-hari sehingga bisa enak mengikutinya,” ujarnya.

Tidak asal, untuk membuat komiknya ini, ia memerlukan sejumlah riset. Riset memang menjadi hal wajib. Riset ini juga yang membuat komiknya lebih detil daripada komik sejarah lainnya.

”Setting dan latar belakang cerita itu asli, tapi karakter dan alur/timeline/universe ceritanya fiksi. Jadi memang membutuhkan riset,” katanya.

Untuk kebutuhan riset ini, ia menggandeng anak-anak muda dari komunitas sejarah di Semarang. Selain itu, juga mencari melalui buku-buku sejarah. ”Riset saya lakukan sambil berjalan. Jadi, ketika saya temukan informasi baru, kemudian saya perbaiki. Terus menerus saya perbaiki,” bebernya.

Ke depan, A. Pradipta ingin agar generasi muda bisa membaca komik tidak hanya untuk bersenang-senang saja. Lebih dari itu, ia ingin komik bisa menjadi sarana untuk belajar. ”Saya pengin pembaca tertarik dan memicu mereka untuk belajar lebih tentang sejarah,” harapnya.

”Komikku sejarah yang official, A Tempo Doeloe Story (Ciayo Comics), Hindia Kala Itu (Kompilasi di Line Webtoon). Komikku sejarah yang nggak official dan masih on going ada Nostalgia Dua Warna (Line Webtoon Canvas),” bebernya. (*/aro)

Tinggalkan Balasan