Anak Penjual Ayam, Raih IPK Nyaris Sempurna

Bilqis Fikrotul Uliya, Wisudawati Terbaik Universitas Ngudi Waluyo Ungaran

621
LULUSAN TERBAIK: Bilqis Fikrotul Uliya bersama kedua orangtuanya, Tri Wusono dan Kastianah, usai diwisuda di Universitas Ngudi Waluyo, kemarin.(Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang)
LULUSAN TERBAIK: Bilqis Fikrotul Uliya bersama kedua orangtuanya, Tri Wusono dan Kastianah, usai diwisuda di Universitas Ngudi Waluyo, kemarin.(Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID,- Keterbatasan biaya tak menyurutkan semangat Bilqis Fikrotul Uliya untuk berprestasi. Terbukti, putri penjual ayam ini menjadi wisudawati terbaik Universitas Ngudi Waluyo (UNW) Ungaran pada acara wisuda, Rabu (11/3) kemarin. Ia meraih IPK nyaris sempurna, 3,96.

MARIA NOVENA, Ungaran, Radar Semarang

RONA bahagia terpancar di wajah Bilqis Fikrotul Uliya saat prosesi Wisuda ke VIII dan Sumpah Profesi Ners Universitas Ngudi Waluyo di The Wujil Resort & Conventions Jalan Soekarno Hatta, Bergas, Kabupaten Semarang. Ia selalu menebar senyum. Termasuk saat didaulat menyampaikan kesan dan pesannya sebagai wisudawati terbaik di atas mimbar.

Mahasiswi Prodi Kesehatan Masyarakat ini mengaku setelah lulus akan mengabdikan ilmunya kepada masyarakat. Apalagi berkaitan dengan kesehatan yang merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. “Sekarang lagi ramai soal virus korona, wabah penyakit DBD dan lainnya. Tugas saya tentu mengajak orang untuk hidup sehat. Meski tidak mudah, itu akan saya lakukan,” katanya.

Warga Desa Kaliaman RT 04 RW 01 Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara ini mengaku menempuh kuliah di UNW dengan penuh liku. Kebetulan dia berasal dari keluarga biasa. Kedua orangtuanya, Tri Wusono dan Kastianah, sehari-hari menjadi penjual ayam. Bahkan, jika pulang ke desanya, Bilqis selalu membantu ayahnya merawat ayam dan ikut berjualan untuk biaya kuliah dirinya dan sekolah adik-adiknya.

Beruntung Bilqis termasuk mahasiswi berprestasi. Sehingga sejak semester dua, dirinya sudah mendapatkan beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) sebesar Rp 1 juta per tahun. Beasiswa itu sangat meringankan beban orangtuanya.

“Aku kuliah mau menaikkan derajat orangtua. Karena aku anak pertama, di hati aku ada keinginan untuk membantu bapak meringankan biaya sekolah adik-adik,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang usai acara wisuda.

Gadis 21 tahun ini bercerita, saat masuk kuliah pertama, ia harus membayar Rp 9 juta. Sedangkan hasil penjualan ayam setiap dua bulan sekali hanya sekitar Rp 4 juta. Sehingga biaya kuliah itu terpaksa dicicil. “Saya jadi ikut mikir, bagaimana biaya kuliah nanti. Alhamdulillah di semester kedua, saya dapat beasiswa PPA dari kampus,” kenangnya.

Gadis yang aktif di sejumlah organisasi ini mengaku bersyukur perjuangannya selama kuliah akhirnya menuai hasil. Ia terpilih menjadi wisudawati terbaik di prodinya, sekaligus menjadi wisudawati terbaik dalam prosesi wisuda VIII tersebut. Ia sangat berterima kasih kepada kedua orangtuanya. Berkat doa dan kerja kerasnya, ia mampu menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu dan nilai IPK nyaris sempurna.

Ia semakin bangga, karena di momen istimewa itu, kedua orangtuanya, Tri Wusono dan Kastianah, hadir di tengah keluarga wisudawan lainnya. Melihat putri sulungnya dipanggil sebagai wisudawati terbaik, tampak Tri Wusono dan Kastianah tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Ia juga tampak terharu ketika putrinya berpidato di atas mimbar. Tak terasa air mata menetes dari sudut mata Kastinah. “Dia itu anak yang tekun, dan sangat berbakti pada orangtua, termasuk sayang kepada ketiga adiknya,” kata Kastianah.

Sedangkan sang ayah ikut tidak banyak bicara. Ia hanya mengucapkan terima kasih kepada putrinya karena telah meraih prestasi yang membuat bangga keluarga. “Saya sangat bangga,” ucap lirih bapak empat anak ini.

Sementara itu, prosesi Wisuda ke VIII dan Sumpah Profesi Ners UNW kemarin diikuti 220 wisudawan. Wisuda dengan jumlah terbanyak di Program Studi Farmasi sejumlah 70 wisudawan. Di luar itu, ada Prodi Kebidanan, Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat. Dengan wisuda ke VIII ini, total lulusan Universitas Ngudi Waluyo sebanyak 12.500 lulusan.

Rektor UNW Prof Dr Subyantoro MHum mengatakan, dari jumlah itu, sebanyak 71 wisudawan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Ia menambahkan, di bulan September mendatang, tidak hanya lulusan kesehatan saja, jurusan di luar kesehatan sudah siap diterjunkan. Kebetulan sejak tiga tahun lalu, UNW sudah membuka jurusan umum.

“Tahun ini mereka (mahasiswa jurusan di luar kesehatan, Red) sudah mulai skripsi. September mendatang akan kami wisuda untuk jurusan di luar kesehatan. Kami juga menyediakan jurusan lain. Sehingga lulusan SMA di Kabupaten Semarang jangan bingung lagi dalam memilih perguruan tinggi. Bisa kuliah di UNW,” katanya. (*/aro)

Tinggalkan Balasan