Hasilkan Listrik hingga 6000 mAh, Bisa untuk Charger HP

Siswa SMA Negeri 5 SemarangCiptakan Helm Berpanel Surya

973
INOVATIF: Adira Danuarta bersama guru pembimbing Ristavo Student Company Titi Priyatiningsih menunjukkan helm berpanel surya. (ALVI NUR JANAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
INOVATIF: Adira Danuarta bersama guru pembimbing Ristavo Student Company Titi Priyatiningsih menunjukkan helm berpanel surya. (ALVI NUR JANAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Generasi milenial saat ini dituntut untuk bisa berinovasi dan berkompetisi tinggi. Bukan hanya di bidang akademik, tetapi juga di bidang teknologi. Melalui tangan dingin siswa SMA Negeri 5 Semarang, diciptakan helm berpanel surya yang diklaim bisa mengurangi emisi karbon dan menghasilkan energi listrik. Seperti apa?

ALVI NUR JANAH, Radar Semarang

Berawal dari tingginya penggunaan listrik di SMA Negeri 5 Semarang, para siswa setempat yang tergabung dalam Ristavo Student Company berhasil menciptakan helm berpanel surya. Helm produksi siswa tersebut diklaim bisa menghemat penggunaan listrik di lingkungan sekolah.

Salah satu siswa yang tergabung dalam Ristavo Student Company, Adira Danuarta, menjelaskan, ide kreatif tersebut muncul di saat mata pelajaran kewirausahaan berlangsung.

“Di mata pelajaran tersebut, kami dilatih berpikir kritis untuk memberikan inovasi, khususnya di bidang teknologi. Kebetulan ada lomba juga dari Prestasi Junior Indonesia bekerja sama dengan Citibank untuk mengadakan lomba student company. Tema yang diusung adalah ecopreneur yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah lingkungan,”katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (3/3).

Masalah yang ditemukan adalah tingginya penggunaan listrik di kalangan siswa. Oleh karena itu, bersama 19 temannya tercetuskan ide untuk membuat helm berpanel surya. “Helm bisa digunakan untuk mengurangi gas emisi karbon yang tersebar di udara karena penggunaan listrik. Ternyata ide kami diterima dan mengeksekusi helm ini,”jelas siswa berusia 16 tahun tersebut.

Emisi karbon yang berkurang minimal bisa diaplikasikan di lingkungan sekolah. Apalagi 80 persen siswa setempat membawa helm. “Di helm akan dipasang komponen seperti kabel, baterai, step up, step down, dan dioda. Ketika helm diletakkan di parkiran, helm tersebut akan menyerap energi matahari secara penuh. Sehingga menghasilkan energi listrik yang bisa digunakan untuk men-charger handphone,”katanya.

Biaya dikeluarkan untuk merakit helm berpanel surya relatif terjangkau. Pembuatannya membutuhkan waktu selama satu bulan untuk survei dan merakit helm. “Saya menggunakan helm jenis bogo seharga Rp 100 ribu. Untuk rangkaian komponen Rp 50 ribu dan panelnya kurang lebih Rp 250 ribu. Untuk panel memang cenderung mahal karena harus merakit secara teliti,” jelasnya.

Adira berharap, karyanya bersama teman-temannya itu bisa dipatenkan “Agar tidak ditiru orang lain, kalau sudah dipatenkan, maka akan diproduksi dengan jumlah besar,” ujarnya.

Jika helm sudah diproduksi massal, maka penggunaannya bisa dirasakan oleh semua orang. “Jadi men-charger bisa di mana saja dan kapan saja, bahkan saat berkendara motor. Misalnya, kita kehabisan baterai di tengah jalan, kita bisa men-charger di jalan. Waktu malam juga bisa dipakai, karena helm sudah terisi baterai pada siang hari,”tutur siswa kelas X IPA 1 tersebut.

Agar bisa digunakan secara maksimal, maka pengecasan maksimal dilakukan selama enam jam batas normal. “ Waktu pengecasan paling full membutuhkan waktu enam jam. Kalau tidak sampai enam jam, tetap bisa buat men-charger handphone, karena daya sudah tersimpan di baterai. Tetapi, itu juga tergantung jenis handphone yang dimiliki. Fast charging atau tidak,”katanya.

Pembina Ristavo Student Company SMA Negeri 5 Semarang Titi Priyatiningsih mengatakan, penggunaan listrik untuk charger di kalangan siswa semakin tinggi, terutama saat proses belajar berlangsung. Ketika men-charger handphone dengan kapasitas banyak, berarti juga membutuhkan daya listrik yang tidak sedikit

“Kami dorong siswa untuk menciptakan inovasi yang minimal bisa diaplikasikan di lingkungan sekolah. Karena hampir semua siswa membawa android. Yakni, mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik, sehingga bisa untuk men-charger handphone. Secara otomatis nanti bisa mengurangi penggunaan daya listrik di sekolah,” paparnya.

Melihat ide kreatif anak muncul, maka ia melakukan diskusi, observasi, bahkan melakukan Forum Group Discussion (FGD) untuk melihat lebih jauh. “Karena anak-anak hampir 80 persen memakai motor dan mengenakan helm,” tambahnya.

Dijelaskan, helm yang dimodifikasi itu di luar terpasang panel sebagai penyerap energi matahari. Di dalamnya tertempel kabel USB dan komponen lain yang bisa digunakan men-charger handphone. Ketika siang hari, helm terpapar sinar matahari. Panel tersebut akan menyerap cahaya yang dikonversikan menjadi daya listrik. Helm tersebut otomatis sudah berfungsi sebagai sumber energi listrik hingga 6.000 mAh.

“Harapannya helm ini bisa diproduksi massal, khususnya untuk driver ojek online yang bisa memudahkan dalam penghematan baterai untuk orderan. Otomatis mengurangi pemakaian listrik di rumah,” katanya.

Menurut Titi, sebagai pembimbing ia hanya bisa mengarahkan dan membantu mewujudkan ide siswanya. “Saya sebagai pembimbing hanya memberikan ide saja, lalu dikembangkan oleh anak-anak sejak November 2019. Inovasi helm berpanel ini akan dilombakan pada Juni 2020 mendatang,”tambahnya

Titi berharap, inovasi siswanya itu bisa ditularkan kepada generasi saat ini. Saat ini, siswanya secara intensif melakukan observasi dan pembenahan agar produk helm berpanel surya itu bisa dipatenkan. “Target selanjutnya adalah tinggal penjualan sesuai dengan pre-order sambil ada pembenahan. Karena yang diproduksi masih helm satu varian. Model helm kan macam-macam,” katanya. (*/aro)

Tinggalkan Balasan