Mitologi Sela Tiga, Menggugat Cerita Asal Nama Salatiga

Sabar Subadri, Pelukis tanpa Tangan Menulis Buku Sejarah Salatiga

1630
BUKU KETIGA: Wartawan Jawa Pos Radar Semarang Dhinar Sasongko menunjukkan buku karya Sabar Subadri, pelukis tanpa tangan asal Salatiga. (ISTIMEWA)
BUKU KETIGA: Wartawan Jawa Pos Radar Semarang Dhinar Sasongko menunjukkan buku karya Sabar Subadri, pelukis tanpa tangan asal Salatiga. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.ID, Nama Sabar Subadri sudah sangat dikenal di Salatiga. Ia adalah pelukis tanpa tangan. Kini di sela melukis, ia menulis buku tentang sejarah Salatiga. Isi bukunya menimbulkan pro dan kontra. Seperti apa?

DHINAR SASONGKO, Salatiga

Mitologi adalah sebuah kajian dari mitos atau kumpulan mitos. Mitos merupakan cerita tentang sesuatu yang diyakini kebenarannya. Hal itu yang menjadi awal mula tergeraknya Sabar Subadri menulis mitologi Kota Salatiga.

“Saya dua kali menjadi juri lomba mendongeng asal muasal Kota Salatiga di Perpusda. Saat itu, peserta semua ceritanya sama. Akhirnya saya tergelitik untuk mencari tahu tentang mitos ini,” ujar Sabar ketika ditemui Jawa Pos Radar Semarang di Saung Kelir, galeri lukisan miliknya di Jalan Merak, Klaseman, Salatiga.

Ia makin tergerak mengetahui cerita yang dipaparkan bahwa Salatiga berasal dari kata Salah Tiga. “Mosok kota ini berasal dari kesalahan? Maka dari itu, saya mencari sumber lain agar bisa jelas,” terangnya sambil duduk lesehan.

Berbagai sumber dibedahnya. Akhirnya, ia mulai mendapatkan kerangka untuk menyusun mitos baru tentang Salatiga. “Memang ada beberapa perbedaan dibanding mitos yang sudah ada selama ini. Tetapi sekali lagi, ini hanya mitos,” kata Sabar menekankan.

Dalam mitos asal mula nama Salatiga memang ada beberapa perbedaan dengan mitos yang selama ini ada. Sabar berusaha menceritakan dengan versinya yang berlatar belakang tahun 800 M atau 50 tahun setelah Salatiga ditetapkan sebagai tanah perdikan oleh raja saat itu. Seperti yang tertera di prasasti Plumpungan.

Proses penulisan buku berjudul “Mitologi Sela Tiga” ini dimulai Agustus tahun lalu. Sabar yang tidak mempunyai tangan ini mengetik sendiri dengan komputer miliknya. Buku setebal 252 halaman itu semua hasil ketikannya.

“Menulis buku ternyata susah. Mencari kata yang tepat, serta menunggu momentum untuk bisa lancar menulis,” papar pria yang sudah menerbitkan tiga buku ini.

Ia mengetik menggunakan komputer yang ada di kamarnya. Waktu yang digunakan untuk mengetik adalah malam hari. Hal itu dilakukan karena layar komputer membelakangi matahari. Backlight.

Sabar juga mengedit sendiri semua tulisannya. Juga cover bukunya. Tidak ketinggalan layout-nya. Singkat kata, semua dikerjakan Sabar Subadri. Ia mengaku tidak ada kesulitan saat mengetik menggunakan jari kakinya.

Setelah enam bulan, buku ini diluncurkan. Diakuinya, proses yang lama dilakukan saat percetakan. Beberapa kali ada perbaikan penulisan. “Biasanya perbaikan dilakukan setelah ada perbaikan istilah dalam penulisan,” jelas dia.

Dalam terbitan awal Januari lalu, Sabar mencetak 500 eksemplar. Beberapa saat setelah cetak, sudah muncul suara kontra akan isi buku ini. Namun ia menanggapi enteng hal tersebut.

“Ada yang kontra dan menyatakan jika penulisan sejarah harus disusun setelah ada seminar atau kajian bersama. Namun sekali lagi saya tegaskan bahwa yang saya tulis adalah mitos,” imbuh pelukis beraliran naturalis realistis ini.

Ia berharap semua karyanya bisa menambah khasanah mitos positif tentang Kota Salatiga. Sehingga generasi mendatang memiliki banyak referensi dan pengetahuan tentang Salatiga.

Sebelum menulis buku berjudul “Mitologi Sela Tiga” ini, ia telah menerbitkan buku “Memoar Sang Pelukis Kaki” pada 2015 dan Antologi Cerpen tanpa Mimpi pada 2019. (*/aro)

Tinggalkan Balasan