Gandeng Pakar Lakukan Penelitian, Luruskan Pandangan Sejarah Tentang Raden Fatah

Ketika Takmir Masjid Agung Demak Terbitkan Buku Induk Sejarah Kasultanan Demak Bintoro (1)

1102
Ketua Takmir Masjid Agung Demak KH Abdullah Syifa didampingi KH Muhamad Mahali menunjukkan buku induk sejarah Kasultanan Demak Bintoro kemarin. (wahibpribadi)
Ketua Takmir Masjid Agung Demak KH Abdullah Syifa didampingi KH Muhamad Mahali menunjukkan buku induk sejarah Kasultanan Demak Bintoro kemarin. (wahibpribadi)

RADARSEMARANG.ID, Takmir Masjid Agung Demak menerbitkan sebuah karya buku babon (induk) untuk mengungkap sejarah Kasultanan Demak Bintoro. Pembuatan buku yang baru diluncurkan ini merupakan hasil kerjasama dengan para pakar sejarah Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Adapun, untuk pembuatan buku itu, telah dilakukan penelitian sejak 2017. Setidaknya prosesnya butuh 3 tahun. Seperti apa?

WAHIB PRIBADI, Demak

Selain untuk memperkaya khazanah keilmuan, hadirnya buku bersampul dominan warna hijau dengan judul Sejarah Kasultanan Demak Bintoro ini dimaksudkan untuk menjawab berbagai pertanyaan yang selama ini cukup sulit dijawab terkait dengan sejarah kasultanan tersebut.

Ketua Takmir Masjid Agung Demak, KH Abdullah Syifa menyampaikan, setidaknya ada tiga hal pokok yang menjadi fokus pembahasan buku masterpiece ini. Pertama adalah terkait dengan biografi Kanjeng Sultan Fatah, Masjid Agung Demak dan pendirian Kasultanan Demak Bintoro.

“Nah, dengan adanya buku induk ini, tentu kita berkepentingan untuk meluruskan sejarah yang ada. Selama ini banyak penafsiran penafsiran yang berbeda beda sehingga perlu ada penelitian yang lebih serius terkait masalah ini. Hasilnya, kita sepakat menerbitkan buku tersebut,”ujar Kiai Abdullah Syifa didampingi pengurus takmir lainnya, KH Muhamad Mahali saat ditemui diruang Takmir Masjid Agung Demak kemarin.

Menurutnya, kebutuhan buku tersebut juga diharapkan dapat membantu Takmir Masjid Agung untuk mempermudah menjelaskan secara sistematis perihal sejarah tentang tiga pokok bahasan tersebut. “Para peziarah (wisatawan) yang datang ke Makam Sultan Fatah maupun Masjid Agung karya Walisongo ini tidak hanya dari lokal saja, tapi juga mancanegara. Misalnya, ada yang dari Brunai Darussalam, Malaysia, Filipina, Amerika Serikat, Timur Tengah dan Negara lainnya,”katanya.

Karena itu, kata Syifa, buku yang ditulis oleh H Anasom, MHum, Prof Dr Hj Ismawati, MA dan Dr Hj Naili Anafah dari UIN Walisongo ini sangat membantu para peziarah dalam memahami alur sejarah Kasultanan Demak Bintoro, termasuk sejarah Raden Fatah dan Masjid Agung Demak. “Selama ini, belum ada referensi yang bisa menjadi pegangan oleh Takmir Masjid Agung. Sebab, banyak buku yang menulis dengan banyak versi sehingga sulit untuk dijadikan dasar penjelasan tentang sejarah yang ada. “Banyak versi buku yang akhirnya membingungkan lantaran berbeda beda sudut pandang dan data. Sekarang, setidaknya sudah ada satu buku hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan terkait sejarah Kasultanan Demak Bintoro ini,”ujarnya bergembira.

Menurutnya, tidak mudah membukukan karya sejarah tersebut. Sebab, selain butuh biaya cukup besar juga butuh waktu relatif lama. “Sudah dimulai penelitian sejak 2017. Dan, 2020 ini baru terbit. Dalam prosesnya juga diiringi dengan berbagai kegiatan, termasuk 5 kali seminar dengan mengundang para pakar atau ahli sejarah dari berbagai perguruan tinggi. Misalnya, pakar sejarah dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja, UIN Walisongo, Unnes Semarang dan Undip Semarang. Karena itu, hasil penelitian yang dibukukan ini sangat layak dijadikan referensi kelimuan maupun rujukan untuk penelitian lainnya, termasuk dalam berdakwah,”katanya.

Menurutnya, buku tersebut siap disebar ke berbagai instansi termasuk ke sekolahan agar para pelajar mengetahui dengan pasti sejarah Kasultanan Demak Bintoro. “Nanti, Dinas Pariwisata akan membantu ikut meluruskan sejarah ini dengan memperbanyak penerbitan buku yang sementara baru dicetak 100 eksemplar untuk kalangan terbatas,”ujar Syifa.

Dalam buku tersebut, yang paling menonjol adalah keberadaan Masjid Agung Demak menjadi salah satu bukti yang tak terbantahkan terkait dengan sejarah perjuangan Sultan Fatah dalam menyebarkan agam Islam bersama Walisongo di tanah Jawa. Adanya makam Sultan Fatah dan keluarganya termasuk makam Sultan Trenggono, Raden Pati Unus beserta punggawa Kasultanan Demak Bintoro yang ada di kompleks Masjid Agung Demak juga menjadi bukti nyata perjuangan Sultan Fatah tersebut.

Situs situs bersejarah tersebut telah menjadi cagar budaya yang dilindungi undang undang. “Kita baca misalnya, usia Raden Fatah ternyata sampai 70 tahun. Tentu, dengan usia ini cukup waktu bagi beliau untuk berjuang mensyi’arkan Islam di nusantara ketika itu,”kata dia. Lantas, bagaimana yang sebenarnya sosok Sultan Fatah, sejarah Masjid Agung Demak dan Kasultanan Demak Bintoro yang tertulis dalam buku karya Takmir Masjid Agung Demak tersebut?. (bersambung)

Tinggalkan Balasan