Bangun Masjid Kayu Bersejarah Ditepi Sungai Kuin, Bentuknya Mirip dengan Masjid Agung Demak

Jejak Historis Kasultanan Demak Bintoro di Banjarmasin Kalimantan Selatan (2-Habis)

308
Mimbar Masjid Sultan Suriansyah. (Wahibpribadi)
Mimbar Masjid Sultan Suriansyah. (Wahibpribadi)

RADARSEMARANG.ID-Sejak Sultan Suriansyah masuk Islam atas bimbingan Ulama Besar Khatib Dayan utusan Sultan Trenggono dari Kasultanan Demak Bintoro, kini jejak sejarah berkembangnya Islam di bumi Banjarmasin tersebut dapat diketahui diantaranya adalah adanya bangunan Masjid kayu yang bentuknya mirip Masjid Agung Demak. Seperti apa?

Bangunan masjid dari bahan kayu dengan motif khas Kalimantan. (Wahibpribadi)
Bangunan masjid dari bahan kayu dengan motif khas Kalimantan. (Wahibpribadi)

WAHIB PRIBADI, Banjarmasin-RADARSEMARANG.ID

Masjid Sultan Suriansyah tersebut merupakan masjid tertua. Masjid yang terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550) selaku raja pertama Kerajaan Banjar. Masjid ini dapat dijangkau dengan perjalanan darat sekitar setengah jam dari pusat kota Banjarmasin. Selain dengan angkutan kendaraan darat, pengunjung juga bisa ke masjid ini dengan menggunakan trasnportasi sungai. Sebab, bangunan masjid juga berada dipinggir Sungai Kuin.

Bedug sarana panggilan salat jamaah untuk masyarakat sekitar masjid. (WahibPribadi)
Bedug sarana panggilan salat jamaah untuk masyarakat sekitar masjid. (WahibPribadi)

Masjid dengan arsitektur kuno ini masih kokoh berdiri hingga sekarang. Didalamnya bisa dilihat ornament ornament khas Banjar. Antara lain terdapat mimbar Kuni yang dipakai oleh khatib untuk khutbah Jumat. Meski tidak terlalu besar, namun Masjid Sultan Suriansyah tersebut merupakan saksi bisu perkembangan Kota Banjarmasin dari masa ke masa.

Kekunoan masjid ini antara lain dapat dilihat pada 2 buah inskripsi yang tertulis pada bidang berbentuk segi delapan berukuran 50 cm x 50 cm. Yakni, pada 2 daun pintu lawing agung. Juga pada 2 daun pintu sebelah kanan terdapat 5 baris inskripsi Arab-Melayu.

Takmir Masjid Sultan Suriansyah, Budiyanto mengungkapkan, bentuk bangunan masjid tidak beda jauh dengan Masjid Agung Demak karya Walisongo. “Jadi, ada kaitannya dengan Kasultanan Demak Bintoro. Sebab, datangnya Islam di bumi Banjarmasin ini juga ada kaitannya dengan Khatib Dayan yang mengislamkan Sultan Suriansyah,”ujarnya. Budyanto menambahkan, banyak pengunjung yang berziarah dan salat jamaah di masjid kuno tersebut. “Mereka datang dari berbagai daerah di Kalimantan ini,”katanya. Setiap hari, masjid digunakan untuk belajar mengaji, dan kegiatan keagamaan lainnya.

Berdasarkan keterangan situs masjid disebutkan, bahwa bangunan masjid tersebut termasuk benda cagar budaya. Bangunan juga dilindungi Perda Nomor 21 Tahun 2009. Sesuai perda itu, siapapun dilarang merusak benda cagar budaya yang berada dilingkungan Masjid Sultan Suriansyah. Jika dengan sengaja merusak benda cagar budaya tersebut, maka sesuai dengan pasal 13 akan dikenai kurungan selama 3 bulan dan denda sebesar Rp 50 juta.

Seperti diketahui, keberadaan Masjid Sultan Suriansyah salah satu penanda berkembangnya Islam di tanah Kalimantan. Bahkan, masjid itu menjadi cikal bakal masjid lain di Kalimantan Selatan. Dari masjid inipula, model dakwah Islam yang rahmatan lil alamin dapat dilakukan dengan terarah dan terpadu semasa Sultan Suriansyah. Khatib Dayan, menjadi pendamping utama sultan dalam menyebarkan Islam.

Khatib Dayan selain utusan Sultan Trenggono, ia juga tercatat sebagai murid salah satu Walisongo, yakni Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim) Tuban. Dengan piawai, Khatib Dayan berhasil menerapkan cara mengadaptasi adat istiadat lokal setempat sembari memasukkan ajaran Islam didalamnya. Adat lama seperti upacara kematian, 3 hari, 7 hari, 25 hari, tapung tawar, bermandi mandi dan lain sebagainya.

Setelah berkiprah selama hampir 20 tahun menyebarkan Islam di Kalimantan Selatan ini, Sultan Suriansyah wafat pada 1546 dan dimakamkan di Kuin Utara. Raja Kerajaan Banjar tersebut kemudian digantikan anaknya Sultan Rahmatillah. Ketika itupula, pengaruh Islam menjangkau hingga pantai barat Kalimantan, yaitu Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Didaerah tersebut, sultan diwakili Hulubalang kerajaan bernama Adipati Antakusuma untuk menjalankan pemerintahan. Karenanya, pengaruh islam makin meluas hingga Kotawaringin Timur dan dibangun Kota Sampit sebagai pusat pemerintahan. Karena itu, sejarah juga mencatat, pada permulaan abad ke-15, penyebaran Islam di Indonesia mempunyai pengaruh besar, utamanya di pulau Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi. Semula dibawa para pedagang Arab, Persia dan China hingga agama Islam merambah ke pelosok nusantara, termasuk di Banjarmasin. (*)

Tinggalkan Balasan