Mesin Terkoneksi Internet, Jadi Destinasi Wisata Edukasi

Mengunjungi Pabrik Coklat 4.0 Tercanggih di Kandeman, Batang

376
PERTAMA DI INDONESIA: Pabrik coklat UGM Cocoa Teaching Industry di Kandeman, Batang yang diklaim tercanggih. (kanan) General Manager Nur Muhib menunjukkan bubuk coklat hasil produksi pabrik tersebut. (RIYAN FADLI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
PERTAMA DI INDONESIA: Pabrik coklat UGM Cocoa Teaching Industry di Kandeman, Batang yang diklaim tercanggih. (kanan) General Manager Nur Muhib menunjukkan bubuk coklat hasil produksi pabrik tersebut. (RIYAN FADLI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

RADARSEMARANG.ID, – Pabrik bubuk dan butter coklat UGM Cocoa Teaching Industry diklaim sebagai pabrik tercanggih. Di pabrik ini dipasang perangkat industri 4.0 pada mesin produksinya. Semua dapat dikontrol melalui koneksi internet. Klaimnya lagi, ini pertama di Indonesia.

Saat ini Indonesia terkenal sebagai produsen kopi terbesar di dunia. Berbagai macam jenisnya telah tersohor dan terkenal cita rasanya. Mengetahui keunggulan dari hasil alam tersebut, sebuah pabrik coklat besar di Kabupaten Batang mencoba meniru kejayaan produk kopi di dunia.

Pabrik tersebut merupakan rancangan dari pemerintah pusat. Berlokasi di Dukuh Sraman, Desa Wonokerso, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang. Satu-satunya pabrik di Indonesia yang menggunakan proyeksi industri 4.0 langsung dari pelopor industri 4.0 dunia di Jerman.

Instalasi perangkat canggih tersebut diimpor dari Jerman, melalui leader industri 4.0 dunia, perusahaan Siemens. Pabrik tersebut berada di tengah perkembunan kakao seluas 165 hektare.

Akses menuju lokasi sebenarnya cukup mudah dari jalan utama. Namun mayoritas pengunjung yang ke sana akan memutar melalui jalan sempit. Akses jalan utama belum terdeteksi map dari Google.

Besar dan canggih, itu kesan pertama usai melihat pabrik tersebut. Pabrik ini menempati bangunan seluas 4.000 meter persegi, berdiri di lahan seluas 2,5 hektare. Selain memproduksi coklat, pabrik bernama UGM Cocoa Teaching Industry ini juga menjadi destinasi wisata edukasi yang bisa diakses untuk umum.

Terdapat lorong khusus untuk melihat mesin-mesin besar beroperasi. Mulai mesin pemisah kakao dari kotoran yang menempel atau mesin bean cleaning. Hingga mesin pemroduksi hasil jadi berupa bubuk dan butter coklat.

“Di sini juga menerima pengunjung, pelajar atau mahasiswa untuk bisa melihat secara langsung produksi coklat,” kata Nur Muhib, general manager pabrik tersebut kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Koran ini dibawa berkeliling melihat mesin-mesin besar setinggi 12 meter. Mesin tersebut 90 persen diproduksi teknisi lokal. Semerbak aroma khas coklat tercium dari tiap sudut ruangan. Semua mesin saat itu sedang dihentikan pengoperasiannya, karena dalam proses pemasangan perangkat 4.0.

Kabel-kabel panjang ditempelkan pada mesin-mesin raksasa. Bermuara pada lemari besi setinggi kurang lebih 2,5 meter. Sebelum pemasangan perangkat itu, 10 ton kakao tiap hari diolah menjadi produk coklat. Setelah pemasangannya, 15 ton kakao ditarget dapat terolah dalam sehari.

“Semua masuk ke sistem, juga ke satelit untuk mengirimkan data langsung ke Siemens Jerman. Ini nanti akan dibawa ke Hanover Jerman, mewakili Indonesia di pameran industri dunia,” imbuhnya.

Seluruh data akan tersimpan melalui satelit. Tiap operasi mesin terdeteksi oleh komputer. Bahkan bisa dikontrol melalui ponsel. Begitu juga dengan bencana, curah hujan, kegempaan, serta angin topan yang bakal melewati pabrik akan terdeteksi. Semua terhubung di internet.

“Ini tempat pembelajaran dan pusat sertifikasi kakao. Biji coklat di sini kami kelola sendiri. Kami pakai biji coklat yang full fermentasi. Di Indonesia jarang dipakai, kecuali impor dari luar,” ucapnya.

Menurutnya, produsen di Indonesia belum terdidik mengolah kakao full fermentasi. Indonesia sendiri satu-satunya negara dunia yang menggunakan jenis non fermentasi. Pabrik tersebut mencoba mengubah mindset dunia terhadap coklat Indonesia.

Bahan baku dipetik dari perkebunan sendiri. Juga dari petani di Jawa Tengah. Sementara hasil jadi berupa paket 25 kg per zak untuk bubuk coklat dan 25 kg per karton untuk butter.

“Coklat Indonesia akan mulai terkenal seperti kopi. Kami akan memulai mem-branding itu dengan coklat organik yang berkualitas,” kata Muhib.

Sebagai produk nyata industri 4.0, pabrik tersebut bakal mengekspor produknya ke berbagai negara. Amerika, Jerman dan Belanda. Persentase yang ditarget 50 persen ekspor. Sementara sisanya bisa dirasakan kenikmatannya oleh bangsa sendiri.

Selain itu, tambah dia, sektor wisata akan digarap serius. Harapannya akan banyak wisatawan berkunjung ke perkebungan kakao dan pabrik coklat ini. “Nanti akan dinamai Republik Coklat.”

Dijelaskan, destinasi Republik Coklat ini akan menggunakan konsep agrowisata dan edukasi. Pengunjung dibawa berkeliling di luasnya kebun kakao. Sembari bersantai, pengunjung juga bisa melihat secara langsung produksi di pabrik.

“Target terbesar kami adalah kami punya perusahaan berbasis makanan dengan jumlah volume besar. Didukung agrowisata coklat dan agro edukasi,” tuturnya. (*/aro)

Tinggalkan Balasan