Lestarikan Dolanan Tradisional, Aktif Kampanye dari Kampung ke Kampung

396

RADARSEMARANG.ID Gelisah melihat anak-anak meninggalkan permainan tradisional membuat Komunitas Kampoeng Hompimpa Semarang tergerak ingin mengenalkannya kembali. Mereka kampanyekan dari kampung ke kampung hingga event ke event.

NANANG RENDI AHMAD, Radar Semarang

BAGI Komunitas Kampoeng Hompimpa Semarang, permainan (dolanan) tradisional bukanlah hal sepele dan remeh-temeh. Bagi mereka, dolanan tradisional memiliki nilai dan makna yang dalam. Karena itu, mereka merasa perlu melestarikannya di tengah era yang semuanya serba modern ini.

Meski beranggotakan muda-mudi yang rata-rata berusia di atas 20 tahun, mereka tak jemu mengampanyekan dolanan anak-anak ke masyarakat. Dengan sabar dan telaten rela door to door ke kampung-kampung dan beraam event di Semarang.

Kampoeng Hompimpa Semarang ini berdiri pada 22 Desember 2016 di Gunungpati. Pemicunya, kata Ketua Komunitas, Ahmad Misbakhul Munir karena prihatin hilangnya dolanan tradisional anak-anak di kampung-kampung. “Kami teringat masa kecil. Di kampung-kampung, kami bermain bersama. Kini pemandangan itu nyaris tidak ada,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Atas dasar itu, kata Munir, bersama teman yang biasa kumpul, sepakat membentuk Kampoeng Hompimpa. Kata “Hompimpa” dalam nama komunitas ini diambil dari nyanyian saat memulai sebuah permainan tradisional.

“Selain itu, Hompimpa memang punya arti yang sangat dalam atau filosofis. Berasal dari bahasa Sansekerta, yakni dari Tuhan kembali ke Tuhan mari bermain,” jelasnya.

Kegiatan Kampoeng Hompimpa tak lain adalah mengenalkan berbagai macam permainan tradisional kepada masyarakat. Menurut Munir, ada tiga kalangan yang menjadi sasarannya. Yakni anak-anak, remaja, dan orangtua.

“Kepada anak-anak, kami fokus mengenalkan kembali dolanan tradisional. Kepada remaja, kami tekankan untuk mengajak mereka bermain sekaligus bergabung dengan kami. Sedangkan kepada orangtua kami upayakan agar mereka dapat mendorong anak-anaknya memainkannya di rumah,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu anggota Kampoeng Hompimpa Ahmad Rozikin mengaku, selama ini Kampoeng Hompimpa aktif berkampanye di kampung-kampung, sekolah, kampus, dan event-event Kota Semarang.

“Tiap dua minggu sekali, kami ada di car free day Jalan Pahlawan. Masuk ke sekolah-sekolah, kami agendakan setahun sekali. Ke kampus kapanpun, biasanya saat ada ajakan kerjasama. Sedangkan di event-event biasanya kami diundang,” tuturnya.

Ia menambahkan, awalnya biaya operasional dibebankan ke anggota lewat iuran. Karena sering mendapat undangan baik dari kampus maupun instansi, akhirnya Kampoeng Hompimpa punya kas di luar iuran anggota.

“Kami gunakan itu untuk membeli perlengkapan dolanan. Ada kelereng, egrang, lompat tali, dakon, gasing, bakiak, dan banyak lainnya,” bebernya.

Menurut Rozikin, apa yang komunitasnya gerakkan merupakan aksi sosial dan budaya. Ia mengatakan, Kampoeng Hompimpa akan terus berupaya menjaga kelestarian dolanan tradisional. “Sesuai dengan tagline kami, yakni bermain, belajar, lestarikan,” pungkasnya. (*/ida)

Tinggalkan Balasan