Seminggu Hanya Mampu Produksi 200 Kilogram

Prastyoko, Penggerak Warga Produksi Pupuk Kompos dari Sampah dan Kotoran Ternak

125
BERGERAK BERSAMA : Prastyoko, warga RT 1 RW 5 Kelurahan Karangayu Semarang Barat bersama warga dan perangkat kelurahan menunjukkan produksi pupuk kompos di samping jalan kampung. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERGERAK BERSAMA : Prastyoko, warga RT 1 RW 5 Kelurahan Karangayu Semarang Barat bersama warga dan perangkat kelurahan menunjukkan produksi pupuk kompos di samping jalan kampung. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Sampah dedaunan dan kotoran ternak kerap dianggap sampah yang harus dibuang. Namun oleh Prastyoko, warga Kelurahan Karangayu Semarang Barat, disulap menjadi penyubur tumbuhan dan ternak ikan.

M HARIYANTO

DENGAN pupuk kompos, Prastyoko, warga Kelurahan Karangayu Semarang Barat, berhasil menggerakkan warga RT 1 RW 5. Terlihat, di lokasi tersebut terdapat mesin penggiling dan bahan pembuat pupuk dari sampah organik, seperti dedaunan pohon mangga dari permukiman warga yang dicampur dengan kotoran kandang. Bahkan, tersedia pupuk kompos yang sudah jadi.

“Bahan utamanya pupuk kandang yang sudah terurai. Kemudian dilakukan pengayaan. Diproses lagi, dengan ditambah arang sekam. Kalau disini namanya hijauan yang sudah diproses dengan mesin. Supaya lebih kecil-kecil sampah-sampahnya, dicampur juga bekatul dan tetes tebu,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.
Menurut Pras –sapaan akrab Prastyoko, proses pembuatan pupuk kompos sangatlah praktis. Tidak memerlukan waktu lama. Hanya saja, pembuatan yang dilakukan masih terbatas, lantaran terkendala bahan dan tenaga. Makanya dalam satu minggu hanya mampu membuat pupuk sebanyak 200 kilogram.

“Buat harian tidak bisa, jadi menyesuaikan. Kalau ini sudah habis atau hampir habis, kami baru buat lagi. Buatnya mingguan. Ya ini akan kami coba buat harian untuk membantu ekonomi masyarakat sini dan sebagian dimasukkan ke kas RT. Bu Lurah juga sudah pesan, ya untuk penghijauan disini,” katanya.

Laki-laki kelahiran 27 Pebruari 1965 ini membeberkan bergelut dengan pembuatan pupuk kompos diawali ketika sedang bertugas sebagai pegawai Perhutani di KPH Mantingan Kabupaten Rembang, tahun 1998 silam. Selama bertugas, ia gemar berkebun di sekitaran rumah tempatnya bertugas.

“Kebetulan saya lulusan dari Pertanian di STIE yang ada di Sampangan (Semarang), wisuda tahun 1990. Kemudian masuk Perhutani tahun 1995. Kebetulan pendidikannya hampir sama dengan ilmu saya, terus saya kembangkan terus,” ungkapnya.
Selama di Rembang, Pras terus menyalurkan pemikirannya untuk berkebun. Pras juga membuat hutan kecil-kecilan. Tak hanya itu, ia juga bereksperimen untuk membuat pupuk kompos dari bahan sampah hutan dan kotoran. Tak butuh waktu lalu, hasilnya pupuk kompos berhasil digunakan untuk tanaman dan perikanan.

“Jadi proses uji cobanya, tambak dikasih pupuk plus diberi kapur dolmit. Ternyata bisa menyuburkan ikan. Jadi, istimewanya disitu. Kalau disini (Semarang, red) yang sudah nyata ya tanaman lombok. Jadi pupuk ini untuk tumbuhan, tapi yang spesialis justru ikan tambak atau kolam,” katanya.

Lanjut Pras, pupuk kompos buatannya dikenal banyak orang. Pelanggan yang mengambil dalam jumlah besar, biasanya dari Kota Semarang dan Cepu.

“Dulu, tiap hari saya kirim ke Mangkang sehabis Maghrib 4 truk, di Cepu 5 truk. Jadi sehari disana hasilnya lumayan banyak. Sudah punya gudang besar, punya tenaga 50 orang, ada yang bikin pupuk, poliback dan tugas lain,” jelasnya.

Bahkan pernah diganjar penghargaan 3 kali, terkait pembuatan pupuk kompos dan pembuatan hutan industri di wilayah Rembang. “Tapi itu waktu dulu, di Pamotan RPH Gunem BKPH dan KPH Mantingan,” bebernya.

Pras mengakui, bahan utama di Rembang lebih mudah didapat ketimbang di Kota Semarang. Apalagi lahan hutan di Rembang masih lebih luas, termasuk di tempat tersebut banyak peternak kambing dan sapi.

“Tetes tebu di Semarang sulit, ambilnya harus dari Rembang atau Pati dan Kudus. Kalau sulit mendapatkan tetes tebu, bisa membuat sendiri dari gula Jawa dicampur dengan air dan direbus. Itu bisa menjadi pupuk. Tapi ya harus mengeluarkan banyak gula. Dari bahan lainnya saya buat racikan, air kelapa sama gula,” bebernya.

Pegawai Negeri Sipil (PNS) Perum Perhutani Divisi Regional Jateng ini menambahkan bahwa pembuatan pupuk di tempat tinggalnya di Semarang ini sudah dilakukan sejak tahun 2011 silam. Yakni, selepas tugas dari Rembang pada tahun 2008. Pembuatan ini diawali karena warga sekitar telah mengetahui karier dan ceritanya yang pernah membuat pupuk kompos.

“Saya tergugah, kemudian warga saya undang untuk belajar bersama membuat pupuk. Jadi disini saya hanya pembina, kalau ada yang kurang jelas, saya datang membantu,” katanya.

“Terus terang dari Sukofindo, saya sudah punya uji lab, punya sertifikat, jadi saya berani. Saya dulu dengan instansi lainnya pasti minta uji lab, dan saya ada. Yang di Rembang sudah punya uji lab, kalau disini belum, tapi saya siap,” sambungnya.

Menangapi terkait lebel atau brand pupuk kompos yang dibuatnya bersama warga, Pras mengakui belum ada. Namun demikian, pihaknya akan terus berupaya mengembangkan pembuatan pupuk kompos tersebut. Manakala mengalami kendala bahan utama, akan mengambil dari wilayah Rembang milik rekannya.

“Disini kendalanya hanya satu bahan pupuk kandang agak kesulitan, kalau di daerah lebih mudah. Yang di Rembang, dilanjutkan teman saya. Namun dia kurang tekun. Jadi modalnya malah habis, lalu gulung tikar,” pungkasnya. (*/ida)

Tinggalkan Balasan