Kasturah, Jaga Perlintasan Kereta Api tanpa Upah

351

RADARSEMARANG.ID, PEKALONGAN – Hanya bermodalkan peluit, rompi, dan caping, seorang nenek berusia 52 tahun dengan sukarela menjaga perlintasan kereta api tanpa palang di Desa Kampil, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan. Adalah Kasturah perempuan paruh baya yang belum lama ini menjadi buah bibir karena kerelaannya menjaga perlintasan kereta api tanpa upah.

Tepat setelah tujuh hari kepergian sang suami, Kasturah memantapkan hatinya untuk menjadi penjaga perlintasan kereta api. Semuanya bermula ketika ia bermimpi didatangi oleh sang suami dan diajak untuk menjaga perlintasan kereta. Saat itu tak banyak yang jadi pertimbangannya. Ia hanya memikirkan bahwa banyak orang membutuhkan jasanya untuk melewati perlintasan kereta api di desa tempatnya tinggal itu.

Ibu empat orang anak itu mengaku bahwa sebelum adanya penjaga, perlintasan kereta api tersebut merupakan daerah rawan kecelakaan. Selain karena tidak adanya palang, minimnya penerangan juga menjadi penyebab banyaknya jatuh korban.

“Sebelum dijaga oleh suami saya, daerah ini dulunya rawan kecelakaan. Setelah bapak meninggal, saya jadi kepikiran kalau tidak ada yang jaga nanti bagaimana nasib orang-orang yang mau menyeberang,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (4/2).

Meskipun bersifat sukarela, Kasturah tampak profesional dan serius dalam melakoni tugas kemanusiaan itu. Ia sangat jeli dalam memastikan kedatangan kereta meski tak tahu jadwal tepatnya.

Nenek yang dulunya merupakan seorang pedagang ini mengaku bahwa selama ini hanya mengandalkan perasaan dan daya ingat. Selain itu, ia juga tahu betul kapan kereta api akan melintas dari suara yang dibunyikan.

Kasturah menambahkan, bahwa suara kereta api yang hendak melintas merupakan alarm tersendiri untuknya. Tak jarang, jika ia mendengar ada suara kereta saat dini hari, maka ia akan segera bergegas ke perlintasan. Ia akan dengan sigap mengawasi barangkali ada orang yang hendak menyeberang.

Atas dedikasinya tersebut, peringatan keamanan dari Kasturah kemudian sangat dipatuhi oleh orang-orang yang hendak melintas. Berkat peringatan dari Kasturah pula, anak-anak yang dulunya kerap nongkrong di bantaran rel kereta kini mulai berpindah tempat.

Segala pengorbanan Kasturah agaknya tak setimpal dengan apa yang ia dapatkan. Berjaga setiap hari sejak pukul tujuh pagi hingga pukul empat sore, paling banyak ia mendapat uang sukarela sejumlah 30 ribu.

Selain itu, tempat berteduh miliknya juga tampak tidak memadai dan memiliki atap asbes yang berlubang. Tapi itu semua sama sekali tak menyurutkan niatnya untuk mengamankan perlintasan kereta api. Menurutnya, ini merupakan amanah dari sang suami yang harus ia jaga.

“Saya akan tetap jaga rel ini walaupun banyak susahnya. Walau jadi sering pusing juga karena terlalu lama kena sengatan matahari. Karena siapa lagi yang akan jaga perlintasan ini kalau bukan saya?” paparnya dengan senyum tulus. (nor/ap)

Tinggalkan Balasan