alexametrics

Gunakan Media Wayang Kertas, Mudah Dipahami Anak-Anak

Muhajir Arrosyid, Dosen Upgris Kampanye Antibullying lewat Dongeng

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Bullying atau perundungan yang kerap terjadi di dunia pendidikan, membuat Muhajir Arrosyid tergerak. Melalui pentas dongeng dengan judul Sidang Para Menthok, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang (Upgris) ini mencoba memberikan edukasi tentang dampak negatif dari praktik bullying.

ADENNYAR WYCAKSONO, RADARSEMARANG.ID

Inovasi dari Muhajir Arrosyid, patut diapresiasi. Ia menggunakan media dongeng melalui wayang dalam menyampaikan pesan-pesan tentang kebaikan dan edukasi tentang antibullying. Apa yang dilakukan tentu mudah dicerna dan dipahami anak-anak dengan cara yang menyenangkan. Apalagi dongeng juga bisa membuat anak-anak mengembangkan imajinasi, sehingga bisa berpikir lebih nalar.

“Isu yang saya angkat adalah bullying ataupun perundungan. Lewat dongeng, saya ingin anak-anak bisa meninggalkan kebiasaan menghina kekurangan fisik seseorang,” kata Muhajir saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (31/1).

Baca juga:  Solar Cell Rusak, Jendela Jebol, Penuh Debu

Belum lama ini, Muhajir melakukan serangkaian pentas dongeng bertajuk “Sidang Para Menthok” di Kantor Penerbit Beruang, Peterongan Timur, Kota Semarang. Lewat dongengnya, pria yang juga dikenal sebagai penulis ini menceritakan aksi perundungan lewat penokohan kucing dan menthok.
“Di sini kucing menghina menthok karena pendek, dan jalannya lambat. Tidak secepat kucing yang bisa berlari kencang dan memiliki tubuh lebih tinggi,” jelasnya.

Dalam dongengnya, ia mengisahkan menthok dan kucing tiba-tiba terkena musibah banjir. Dalam bencana tersebut, menthok yang menjadi bahan bullying kucing bisa selamat. Sedangkan kucing tidak bisa berenang hingga tidak selamat dari banjir. “Lewat cerita menthok ini, saya ingin anak-anak tidak menghina kekurangan fisik orang lain. Dengan dongeng, pesan ini akan mengena di benak anak-anak,” katanya.

Baca juga:  Agar Anak-Anak Tak Bosan, Diselingi Game dan Dongeng Wayang Fabel

Tokoh kucing dan menthok ataupun karakter hewan lainnya yang dibentuk menjadi wayang dari kertas karton akan lebih menarik minat anak-anak untuk mendengarkan dongeng. Perundungan, kata dia, bisa muncul dari lingkungan ataupun media sosial dengan komentar negatif.

“Isu perundungan atau bullying harus diperangi, dan terus dibicarakan di ruang yang lebih representatif. Apalagi media sosial terkadang membuat bullying kian melebar dan membuat korbannya semakin tertekan,” jelasnya.

Dengan media dongeng, isu-isu terkini bisa dikontekstualisasikan. Misalnya, bullying yang berimbas buruk kepada korbannya. Ia pun berpesan agar orang tua mau menyisihkan waktu bercengkerama dan mendengar keluhan sang buah hati. “Peran orang tua sangat penting dalam pencegahan bullying, apalagi korban bullying bisa saja berbuat hal-hal yang negatif dan merugikan diri sendiri,” tuturnya.

Baca juga:  Penulis Buku, Motivator dan Seorang Youtuber

Muhajir mengaku akan lebih getol memerangi bullying dengan dongeng, yang diselingi diskusi pada akhir pentas. Rencananya, pentas akan kembali digelar di empat lokasi, yakni Bonangrejo Demak, Semarang, Kendal, dan Wonosalam Demak sebagai langkah edukasi serta antisipasi praktik bullying. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya