Dargo Margono, Generasi Ketiga Bengkel Dokar Legendaris di Kota Magelang

409
BERTAHAN: Dargo Margono saat memperbaiki dokar di bengkel kerjanya. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERTAHAN: Dargo Margono saat memperbaiki dokar di bengkel kerjanya. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID,  Dulu Sehari Perbaiki 10-15 Dokar, Kini Sebulan hanya Satu Dokar atau andong begitu orang menyebutnya. Angkutan umum tradisional ini sudah jarang ditemui. Kalaupun ada, saat ini dokar menjadi kendaraan wisata. Di Kota Magelang, ada bengkel dokar legendaris. Kini bengkel dokar itu dijalankan Dargo Margono. Seperti apa?

AGUS HADIANTO, Radar Semarang
TUBUHNYA cukup renta, namun terlihat tegap dengan sorot mata tajam menatap. Deretan gigi putih terlihat masih utuh. Padahal usianya 70 tahun. Dia adalah Dargo Margono, generasi ketiga pemilik bengkel dokar satu-satunya yang masih bertahan di eks Karesidenan Kedu. Bengkel dokarnya terletak di Jalan Sunan Bonang Nomor 22 RT 5 RW 6 Kampung Karet, Kelurahan Jurangombo Selatan, Kecamatan Magelang Selatan, Kota Magelang.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di bengkel dokar miliknya, Dargo mengaku sedang menggarap dua dokar dari Kecamatan Borobudur, dan satu dari kolektor dokar. Satu dokar khas Magelangan, sedang satu lainnya khas Purworejo.
“Kalau yang satu ini, khas Magelangan coraknya Ambarawa. Usia dokarnya keliatannya di bawah 50 tahun. Sedang ini dari khas Purworejo, mirip dokar yang ada di Jawa Barat. Usianya mungkin 50 tahun lebih, ini milik kolektor,” ucap Dargo sambil membuka percakapan.

Dargo mengaku, dirinya sekarang hanya seorang diri mengerjakan perbaikan ataupun membuat dokar. Saat dokar masih ramai sekitar lima tahun silam, kata Dargo, dirinya dibantu tiga pekerja.

Dargo menyebut bahwa bengkel dokar miliknya kini semakin sepi. Hanya ada satu atau dua dokar yang datang untuk diperbaiki. Itupun, kata Dargo, tidak tentu waktunya.

“Dulu sekali, setiap hari bisa 10-15 dokar. Sekarang, satu saja dalam sebulan ada yang minta perbaikan, itu sudah bersyukur,” imbuhnya sambil tertawa.

Dargo menuturkan, keahlian memperbaiki dokar belajar dari orangtuanya langsung. Bahkan, dirinya akhirnya rela meninggalkan bangku sekolah karena ikut bapaknya.

“Dulu saya ikut bapak, dibayar juga sama bapak. Anak bapak juga cuma saya. Saya senang dulu karena dapat uang, akhirnya ya keluar sekolah pas SMP atau SR saat itu,” tuturnya.
Dargo menyebut bengkel dokar miliknya seluas 8 x 6 meter persegi berusia lebih tua darinya, yakni dibangun sejak 1921. Saat itu, kata Dargo, bapaknya yang mengelola. Dirinya baru menggantikan bapaknya pada 1970.

Saat ditanya bapaknya mulai membuka sejak kapak? Dargo mengungkapkan, tidak mengetahui secara persis. “Bengkel ini saja dibangun tahun 1921, mungkin bapak sebelumnya tahun 1910-an sudah buka bengkel. Karena memang simbah juga buka bengkel di Ambarawa. Kebetulan dari keturunan simbah, hanya bapak yang meneruskan usahanya,” imbuhnya.

Dargo menyebut, memperbaiki atau membuat dokar membutuhkan keahlian khusus. Bahkan karyawannya sendiri sudah ikut selama lima tahun pun tidak mampu membuat roda dokar. Selain itu, menurut Dargo, pengerjaan perbaikan dokar membutuhkan waktu yang cukup lama. Satu dokar lama dikerjakan, bisa sampai 1/2 tahun tergantung tingkat kerusakan. Untuk perbaikan roda saja, membutuhkan waktu dua bulan.

“Saya jamin, kalau belajar di sini selama lima tahun pun tidak menguasai membuat dokar. Karena memang butuh keahlian khusus. Mungkin belajar montir motor, cukup setengah tahun belajar pasti sudah bisa bongkar pasang mesin. Beda dengan memperbaiki dokar,” ujar pria kelahiran Ambarawa, 1 Agustus 1950 silam tersebut.

Dargo menyebut, selain membutuhkan keahlian khusus, juga ada perlakuan khusus dalam memperbaiki dokar. Kayu yang digunakan, kata Dargo, harus menggunakan kayu jati. Mentok-mentoknya, adalah kayun mahoni.

Kayu nangka, kata Dargo, dihindari mengingat itu pantangan sebagaimana pesan dari mendiang bapak dan simbahnya.
“Pernah ada yang meminta pakai kayu nangka. Pas sudah dipasang, padahal hanya satu batang kecil, dokarnya sering kecelakaan. Ada yang ketabrak mobil lah, njungkel, keserempet lah, dan lainnya. Jadi, saya menggunakan kayu jati,” papar kakek empat cucu ini.

Dargo menjelaskan, selain penggunaan kayu jati, seluruh kerangka besi atau pelat baja yang digunakan dalam perbaikan atau pembuatan dokar pun dibuat sendiri. Baut atau komponen besi, kata Dargo, juga dibuatnya sendiri.

Untuk itulah, kata Dargo, di bengkel miliknya pun terdapat prapen atau tungku bakar yang merupakan peninggalan bapaknya. Tungku pembakaran ini, menurut Dargo, masih menggunakan manual dengan cara ditarik dorong.

“Karena sudah tua, sama anak akhirnya dibuatkan model blower. Model blower juga praktis, karena saya sendirian, jadi tidak perlu ada yang mengoperasikan tungku secara manual. Cukup tombol saja, dan saya bisa menggarap pelat besi atau baja,” tandasnya.
Dargo mengaku, dalam memperbaiki dokar, dirinya mengutip jasa perbaikan tergantung jenis kerusakan. Jika kerusakan cukup ringan, dokar yang diperbaiki pun menyentuh angka Rp 5 juta. Kalau membuat dokar baru, kata Dargo, mencapai Rp 20 juta.

“Terakhir saya membuat dokar baru, sekitar 20 tahun yang lalu,” ujarnya sambil tertawa.

Dargo menyadari bahwa pekerjaan memperbaiki dokar akan habis pada waktunya mengingat saat ini dokar semakin hilang. Terlebih, menurut Dargo, kedua anaknya pun enggan meneruskan bisnis bengkelnya di lahan rumahnya seluas 1.950 m2. Saat ini, bengkel dokarnya pun semakin sepi. Hanya beberapa pemilik dokar dari Borobudur, Temanggung, dan Purworejo yang terkadang membutuhkan jasanya.

“Ya, saya tidak memaksa anak saya untuk meneruskan usaha ini. Pokoknya selama saya masih kuat ngangkat pukul (palu), saya akan terus bekerja. Kalau besok-besok tidak ada yang meneruskan, biarlah. Toh dokar juga semakin hilang,” tutupnya penuh makna (*/aro)

Tinggalkan Balasan