Temukan Silsilah Keluarga, Almarhum A Rafiq sebagai Ikonnya

Lebih Dekat dengan Komunitas Khoja Semarang

300

RADARSEMARANG.ID, Komunitas Khoja Semarang adalah wadah untuk mengakrabkan dan menjalin silaturahmi antarsesama warga keturunan Gujarat (India dan Pakistan) yang tinggal di Kota Semarang. Meski begitu, komunitas yang dibentuk pada 28 Desember 2019 lalu itu tak ingin membuat sekat antara warga asli keturunan Gujarat dengan masyarakat pribumi.

IDA FADILAH, Radar Semarang

BULE Arab, banyak masyarakat yang menyebutnya demikian. Anggota yang tergabung dalam Komunitas Khoja’S yaitu orang Semarang yang merupakan keturunan Gujarat. Dilihat dari gestur fisik, semburat keturunan India begitu terlihat. Hidung mancung, badan tinggi seperti Syah Rukh Khan, aktor Bollywood yang begitu terkenal.

Komunitas Khoja’S sendiri merupakan wadah bagi masyarakat Semarang keturunan Gujarat dari India dan Pakistan yang tinggal di Semarang. Sejarah mengatakan, Gujarat datang ke Indonesia membawa misi berdagang dan syiar agama. Setelah beberapa lama, hingga kini banyak di antaranya menetap dan berinteraksi dengan warga asli Semarang.

Meski tersebar ke berbagai daerah di Indonesia, di Semarang khususnya, masyarakat muslim ini banyak yang tinggal di Kawasan Pekojan Jalan MT Haryono. Ada sebuah kompleks kecil yang dihuni oleh masyarakat Gujarat. Selain itu, juga tersebar di sekitar Pekojan, seperti Jeruk Kingkit, Bonkenep atau Bonarum, Wot Prau, Bustaman, Suburan, Pandean, Progo, Pemali dan Pesanggarahan.

Dalam mengembangkan budaya, Ketua Komunitas Khoja’S Muhammad Sholeh mengatakan, Khoja juga turut andil dalam tradisi pengantin semarangan. “Pengaruh tradisi pengantin semarangan banyak dari budaya Khoja, meskipun ada berbagai akulturasi budaya dari Arab, pengaruh China dan Semarangan sendiri,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Tak hanya itu, seni musik melayu juga menjadi ciri khas dari masyarakat Khoja. Seperti almarhum penyanyi ibukota A Rafiq yang kondang dengan lagu berjudul Pandangan Pertama. Bagi komunitas ini, A Rafiq merupakan ikon seniman Kota Semarang.

Pada saat pembentukan komunitas ini, anak A Rafiq, Farabi El Fouz A Rafiq yang tinggal di Jakarta menyempatkan datang ke Semarang untuk mendukung penuh berdirinya komunitas ini. Baginya, ini ada keterkaitannya dan mengingatkannya pada almarhum sang ayah yang merupakan keturunan Khoja yang lahir di Kota Semarang.

“Adanya komunitas ini diharapkan juga akan menghidupkan kembali grup musik El-Rafiqa yang telah membuat namanya besar. Grup ini sebagai wadah untuk mengabadikan lagu-lagu ciptaan A Rafiq,” ujarnya.

Musik menjadi sarana untuk merekatkan kekerabatan antarmasyarakat Gujarat. Dengan begitu, ia bisa merasakan suasana kampung halamannya. Musik dengan irama India yang khas dengan tabuhan kendang ala Gujarat membuat mereka berjoget ria. Uniknya, saat berjoget mereka saling menggandeng tangan sambal berjoget.

“Jadi, kami saling bergandengan tangan untuk menikmati lagu, gerakannya juga berbeda. Musik-musik ini mengingatkan kami akan rumah,” kata Anas Salim, aktor Semarang yang merupakan sesepuh Khoja Kota Lunpia.

Untuk mengenalkan ke masyarakat luas adanya komunitas ini, nantinya komunitas ini akan membuat Festival Khoja. Menurut Sholeh, festival ini akan diisi dengan berbagai stan kuliner khas Khoja, Pentas Musik Melayu El Rafiqa, Seni Terbangan, dan Tari Samar yang mengenakan pakaian Kurta, pakaian adat orang India dan Pakistan.

Alex Kumar, salah satu anggota mengaku gembira dengan terbentuknya Khoja’S. Pasalnya, dengan komunitas ini dirinya bisa menemukan silsilah saudara dengan keluarga lain yang terbagung dalam Khoja’S. “Dari sini saya bisa tahu ternyata dengan si A dan si B kita saudara,” papar Alex Kumar, warga yang tinggal di Kampung Jeruk Kingkit.

Tokoh perempuan Khoja’S, Hafiza Haitam, berharap Khojas bisa menjadi jembatan kreativitas dan publikasi aneka kuliner khas Khoja Semarang yang lama tenggelam.

“Makanan Khoja itu banyak yang terkenal di eranya dan kini tenggelam karena maraknya kuliner modern, contohnya Kue Putu, Pis Tuban, Ketan Punar, Acar Poh, Nasi Kebuli, Kuah Lada, Pacri Terong dan lain-lain. Semoga dengan beberapa kegiatan Khoja’S bisa angkat kembali kuliner tersebut,” harap Hafiza Haitam. (*/aro)