alexametrics

Mujiati Marni, Kelola Kebosanan Jadi Pengusaha Bandeng Duri Lunak

Tetap Bertahan meski Empat Kelompok Tumbang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID-Siapa bilang hanya kaum muda yang berkarya. Mujiati Marni membuktikan di usianya yang menginjak 57 tahun, ia masih bisa produktif menjadi pengusaha bandeng duri lunak dengan omzet menjanjikan.

SEMARANG terkenal dengan bandeng prestonya. Bahkan makanan tersebut sudah ditasbihkan sebagai kuliner khas kota Atlas tersebut. Tak terhitung banyaknya pengusaha mulai dari skala besar hingga mikro, beramai-ramai menggeluti bisnis ini. Termasuk yang dijalani Mujiati Marni. Bukannya istirahat setelah pensiun dari pekerjaanya. Ibu 57 tahun ini, tetap berkarya mengembangkan bisnis bandeng presto miliknya yang diberi nama bandeng duri lunak Kharisma.

Muji sapaan akrabnya mengaku tidak memiliki bayangan sebelumnya akan menjalankan bisnis bandeng setelah pensiun. Awalnya ia ingin beristirahat menikmati masa tua dengan anak cucunya. Namun karena kebiasaannya yang aktif, membuatnya bosan dan mencari kesibukan lain. Hingga pada 2012 lalu, kesempatan datang dan mengubah kehidupannya.

“Niatnya mau istirahat menemani suami yang pensiun dari Brimob. Tapi ya gimana, saya bosan. Untung pas itu ada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri yang membawa saya sampai seperti sekarang,” ujar ibu tiga anak tersebut.

Baca juga:  Peduli dengan Pendidikan Anak Jalanan sekitar Johar

Dirinya yang terkenal aktif ditunjuk warga untuk mengikuti program tersebut. Disana ia mendapatkan pembekalan dan ilmu mengenai pemberdayaan masyarakat. Dirinya pun diberikan kesempatan memilih bidang mana untuk pengembangan diri. Dan ia memilih Unit Pengelola Sosial (UPS), dimana dirinya mendapat bantuan dari pemerintah dengan syarat harus dapat mengembangkan untuk kesejahteraan masyarakat.

“Waktu itu disuruh membentuk 5 kelompok, masing-masing memiliki 25 anggota. Diberi bantuan pemerintah untuk mengembangkan usaha dan saya memilih bisnis bandeng presto,” lanjutnya.

Dirinya mengaku memilih bandeng presto karena kuliner tersebut merupakan ciri khas Kota Semarang. Selain mudah mendapatkan bahan baku, dirinya juga ingin berperan memajukan oleh-oleh Semarang. Bahkan pemilihan nama produknya dengan “Kharisma” semata-mata ingin menunjukkan bahwa bandeng presto merupakan kharisma Kota Semarang. “Nama ini tidak ada hubungannya dengan nama saya. Tapi berkat itu, saya jadi sering dipanggil Bu Kharisma,” lanjutnya sambil tertawa.

Dari lima kelompok tersebut, hanya dirinyalah yang berhasil bertahan hingga saat ini. Untuk mempertahankan eksistensi tidaklah mudah. Ia mulai merangkak dari bawah dengan memasarkan produk bandengnya. Dari hanya menjual ke tetangga, lambat laun mulai dikenal dan dapat dipasarkan ke pasar tradisional. Dengan banyak koneksi dari pasar tersebut, ia mulai diperkenalkan dengan pengurus UMKM Kota Semarang. Disana lah ia mulai berkenalan dengan berbagai pengusaha oleh-oleh khas Semarang.

Baca juga:  Sekeluarga Jadi Petugas Damkar, Pernah Tugas sampai Patah Tulang

“Sejak ikut UMKM, saya belajar banyak inovasi produk. Dari pemasaran, produksi hingga konektivitas. Produk saya pun mulai dikenal oleh pengusaha oleh-oleh Semarang,” katanya.

Produknya pun mulai banyak diminati pengusaha oleh-oleh untuk dipajang ke gerai mereka. Bahkan hampir seluruh gerai oleh-oleh dan rest area di sekitar Semarang sudah menjajakan bandeng olahannya. Dengan daging bandeng yang tebal dan harga yang terjangkau, membuat produknya laris. Dibantu enam pekerjanya, dalam seminggu ia mampu produksi sebanyak tiga kali dengan 100 kilogram bandeng di setiap prosesnya.

“Kalau sebulan biasanya saya bisa produksi sampai 1,2 ton. Itu masih bisa naik kalau pas musim liburan. Puji tuhan banyak yang suka bandeng saya,” lanjutnya.

Baca juga:  Eksis Sejak 1970-an, Sanggar Kesenian Warangan Merbabu Sudah Pentas Keliling Indonesia

Terdapat dua jenis bandeng duri lunak yang ia jual. Basah dan kering. Jika divakum, bandeng basah dapat bertahan satu minggu di ruangan terbuka dan satu bulan di dalam kulkas. Sedangkan bandeng kering dapat bertahan satu bulan di ruangan biasa dan tiga bulan di dalam kulkas. Meskipun harus bekerja keras mengembangkan bisnis, ia mengaku puas. Sebab di masa tuanya ia masih bisa mandiri dan tidak merepotkan anak-anaknya. “Ya syukur pada Tuhan, masa tua saya masih bisa menghidupi keluarga dan bisa berbagi dengan sesama,” tuturnya.

Dirinya berpesan kepada siapapun yang memiliki usaha untuk dapat berbagi dan mengembangkan relasi. Sebab melalui relasi tersebut bisnis seseorang akan semakin berkembang. Dan dengan berbagi menjadi pengingat sesorang akan nikmat yang diberikan oleh Maha Kuasa. “Kuncinya dua itu, jika ingin sukses berusaha. Jangan sombong dan jangan pelit untuk berbagi dengan sesama,” pungkasnya. (akm/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya