Kerap Bergelut dengan Sampah Plastik, Sofa hingga Kandang Ayam

216
BERSIHKAN SAMPAH: Petugas Stasiun Pompa Drainase Semarang sedang membersihkan sampah yang menghambat laju air ke kolam penampungan.(DOKUMENTASI)
BERSIHKAN SAMPAH: Petugas Stasiun Pompa Drainase Semarang sedang membersihkan sampah yang menghambat laju air ke kolam penampungan.(DOKUMENTASI)

RADARSEMARANG.ID Menjadi operator Stasiun Pompa Drainase tidak ringan. Petugas di stasiun pompa ini setiap hari harus berjibaku dalam mengendalikan banjir di Kota Semarang. Apalagi jika curah hujan tinggi. Mereka tak hanya stand by 24 jam, tapi juga harus bergelut dengan sampah-sampah yang menghambat aliran air ke kolam penampungan.

NANANG RENDI AHMAD, Radar Semarang

BISINGNYA suara genset tak menghambat kerja para petugas operator Stasiun Pompa Drainase Semarang. Mereka justru menganggap mesin-mesin raksasa itu adalah teman kerja. Para pekerja ini tampak sibuk berseliweran. Mengecek dan memastikan semua mesin bekerja dengan baik. Saat istirahat, mereka menceritakan pengalaman-pengalaman tentang pekerjaan mereka kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Salah satu dari mereka, Yusuf Nur Arif. Pria 46 tahun ini mengakui bergelut dengan mesin-mesin raksasa itu tak sebanding dengan repotnya bergelut dengan sampah. Pria berkacamata itu menuturkan bahwa ia dan rekan kerjanya kerap direpotkan oleh sampah-sampah, terutama saat musim penghujan.

“Semua sampah yang mengalir di Kali Semarang kan finish-nya di sini,” katanya saat ditemui di ruang genset Stasiun Pompa Drainase Semarang, Jumat (3/1).

Operator yang bekerja sejak 2014 itu menambahkan, sampah-sampah itu menghambat lajunya air ke kolam penampungan. Jika dibiarkan, Kali Semarang terancam membeludak. Tak hanya itu, jika sampah lolos, bisa masuk ke mesin pompa yang menyebabkan ngadat.

“Maka mau tidak mau itu menjadi tugas kami juga. Tak sekadar menjadi operator pompa, tapi juga masuk ke air memunguti sampah. Beruntungnya, kami selalu bisa menjaga kekompakan. Karena model kerja kami adalah kerja tim,” tuturnya.
Petugas lainnya, Ahmad Samsodin, 24, turut menceritakan pengalamannya. Ia mengungkapkan, sampah yang sampai ke hilir Kali Semarang itu sangat beragam. “Sampahnya bermacam-maca. Ada sofa, kandang ayam, kasur, balok-balok kayu, juga lemari. Paling saya ingat, ada sebuah tong yang ternyata isinya bangkai babi,” ungkapnya.

Subandi, 55, petugas yang kerap turun memungut sampah mengatakan, ia sudah terbiasa dengan sampah-sampah. Menurutnya, sampah-sampah besar seperti lemari dan kandang ayam sulit diangkut dengan alat berat.

“Maka saya harus turun. Dibantu teman-teman operator juga. Mengikat lemari dengan tali, lalu teman-teman operator menarik dari atas,” ceritanya.

Yusuf, Samsodin, dan Subandi berharap masyarakat tak lagi membuang sampah di kali. Menurut mereka, kesadaran itu mesti ditingkatkan demi lingkungan Semarang yang lebih baik dan nyaman.

“Ya sejauh ini kendala kami hanya itu. Sampah dan hujan. Kami berharap tidak ada lagi sampah di kali,” harap mereka. (*/aro)