Dari Berbagi Sarapan hingga Berbagi Darah

135
AKSI NGIDER: Relawan Pagi Berbagi Semarang bersiap melakukan kegiatan ngider atau membagikan ke jalanan. (DOKUMEN PRIBADI)
AKSI NGIDER: Relawan Pagi Berbagi Semarang bersiap melakukan kegiatan ngider atau membagikan ke jalanan. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.ID, Berdiri sejak 2011 tak membuat Komunitas Pagi Berbagi hilang konsisten untuk berbagi donasi. Diawali dengan kegiatan berbagi sarapan, kini komunitas yang beranggotakan lebih dari 30 orang itu telah merambah ke kegiatan-kegiatan sosial lainnya seperti berbagi buku, berbagi baju, berbagi kasih, hingga berbagi darah.

NORMA SARI YULIANINGRUM, Radar Semarang

PAGI Berbagi merupakan sebuah komunitas sosial yang berdiri sejak 11 Juni 2011. Pada awalnya, komunitas ini bertujuan untuk mengajak orang-orang agar memiliki semangat pagi. Dalam menunjukkan semangat pagi tersebut, orang-orang kemudian diajak untuk turut serta melakukan hal kebaikan, seperti membagikan sarapan untuk para tunawisma. Seiring berjalannya waktu, komunitas yang kali pertama terbentuk di Kota Solo ini kemudian mampu merambah ke kegiatan-kegiatan sosial lain yang beragam.

Adalah Shanti Cahyani sang koordinator aksi yang mampu membuat Komunitas Pagi Berbagi dapat berkembang hingga saat ini. Shanti – sapaan akrabnya – mengaku kini Pagi Berbagi tak hanya diidentikan dengan kegiatan berbagi sarapan atau ngider. Berangkat dari melimpahnya donasi yang terkumpul, ia kemudian menginisiasi adanya kegiatan lain seperti berbagi kasih.

Mendapati kenyataan bahwa masyarakat yang kekurangan tak hanya ada di jalanan membuat Komunitas Pagi Berbagi kemudian melebarkan sayap dengan mengadakan kegiatan berbagi kasih. Berbagi kasih sendiri merupakan kegiatan sosial yang fokus memberikan donasi kepada anak-anak di panti asuhan atau kepada para manula di panti jompo. Jika ngider dilaksanakan setiap dua minggu sekali, maka berbagi kasih rutin dilakukan tiap sebulan sekali.

Shanti mengaku bahwa kebahagiaan terbesarnya selama mengikuti kegiatan ngider adalah ketika ia mendapat doa baik dari orang-orang yang diberi. “Yang paling berkesan di setiap kegiatan ngider adalah ketika melihat wajah orang lain bahagia diikuti oleh doa-doa baik yang terucap indah, rasanya priceless,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dengan segala pencapaian yang berhasil diraih, perjuangan yang ditempuh oleh Komunitas Pagi Berbagi tak serta merta berjalan mulus. Shanti bercerita, pernah suatu hari ketika sedang ngider, nasi bungkus yang diberikan dibuang percuma oleh seorang penderita gangguan jiwa. Namun lima tahun bergabung di komunitas ini tak membuat Shanti mudah berkecil hati. Alih-alih marah, ia malah merasa iba akan perlakuan penderita gangguan jiwa tersebut.
Selain itu, Shanti juga mengaku bahwa kendala yang saat ini dialami oleh komunitas adalah minimnya jumlah anggota relawan. Banyaknya kegiatan yang dilakukan membuat Pagi Berbagi membutuhkan lebih banyak lagi sumber daya manusia. Untuk itu, di setiap kesempatan yang ada, Pagi Berbagi selalu terbuka untuk menerima relawan baru yang hendak membantu.

Meski jumlah relawan terbatas, namun itu tak menghentikan Pagi Berbagi untuk terus menebar kebaikan. Selain berbagi kasih, kini Pagi Berbagi juga turut menghimpun donasi berupa buku dan baju, serta tak jarang pula mengadakan acara donor darah. Di samping itu, Komunitas Pagi Berbagi juga dikenal sebagai komunitas yang kerap memberi bantuan donasi untuk komunitas sosial lain. Pagi Berbagi adalah komunitas yang kerap dihubungi pertama kali ketika ada acara sosial di Semarang yang membutuhkan bantuan konsumsi.
Ketika ditanya apakah kegiatan sosial di Pagi Berbagi mengganggu kesibukannya, maka Shanti hanya tersenyum simpul. “Masih banyak yang ingin saya lakukan karena selagi saya diberikan kecukupan, saya ingin membaginya ke orang lain dan melihat wajah berseri-seri itu berulang kali,” tandas guru berusia 32 tahun itu dengan tatapan bahagia. (*/aro)