alexametrics

Komunitas Lemari Buku-Buku Kota Semarang; Galang Donasi Buku lewat Seni Menggambar

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Komunitas Lemari Buku-Buku menggunakan seni menggambar untuk hidupkan budaya literasi di masyarakat. Gambar-gambar yang mereka hasilkan diberikan gratis untuk para donatur buku.

NANANG RENDI AHMAD

Puluhan muda-mudi tampak sibuk bergelut dengan kertas gambar dan pensil warna. Sementara di sudut lain, kawannya sibuk menumpuk puluhan buku. Mereka adalah anggota Komunitas Lemari Buku-Buku (LBB) yang pada Minggu (22/12) lalu sedang membuka donasi buku di Collabox Creative Hub di bilangan Jalan Indraprasta, Semarang. Rencananya, buku yang terkumpul akan disalurkan untuk anak-anak disabilitas.

Di sela-sela kesibukan itu, salah satu dari mereka, Salma Ainuzzahroh, menceritakan tentang perjalanan terbentuknya LBB kepada RadarSemarang.id. Ia mengatakan, LBB kali pertama dibentuk di Jakarta pada 2015. Kemudian seiring berjalannya waktu, LBB tersebar ke beberapa kota, termasuk Kota Semarang. LBB Semarang terbentuk pada 2017. “Kini anggota LBB Semarang ada 25 orang,” katanya.

Baca juga:  Diikuti 19 Negara, Raih 3 Stars dan The Most Favourite Team

Sambil mencatat daftar donatur buku, Salma melanjutkan ceritanya. Ia menuturkan, LBB terbentuk karena rasa prihatin melihat perpustakaan-perpustakaan sekolah di pelosok desa. Menurutnya, banyak perpustakaan sekolah di desa yang keadaannya memprihatinkan. Jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah  di kota, maka yang akan terlihat adalah ketimpangan.

“Dari situ munculah ide mengumpulkan buku-buku lewat donasi. Karena ide itu muncul dari orang yang suka menggambar, akhirnya keahliannya digunakan untuk mengapresiasi donatur. Tiap donasi buku masuk, donaturnya diberi gambar secara gratis. Biasanya gambar wajah si donaturnya, Maka dari itu kami punya slogan Donate Your Books, Get One Drawing For Free, donasikan bukumu, dapatkan satu gambar gratis,” tuturnya.

Baca juga:  Dara Manis Ini Mengaku Dipaksa Ikut Denok Kenang

Anggota lain, Nailul Authari turut pula mengutarakan tentang Komunitas LBB Semarang. Ia menuturkan, selain karena keprihatinan atas kondisi perpustakaan, gerakan LBB juga berangkat dari keprihatinan pada budaya literasi di kalangan anak-anak. Menurutnya, sebagian besar anak-anak kini lebih tertarik pada gadget, game online, dan youtube. “Jarang sekali kita menjumpai anak-anak yang suka membaca buku,”ujarnya.

Nailul nampak bersemangat, ia melanjutkan ceritanya. Menurutnya, apa yang telah, sedang dan akan dilakukan LBB adalah upaya untuk menghidupkan budaya literasi di masyarakat. Budaya literasi tidak akan terwujud tanpa adanya buku. “Akhirnya kami bergerak membuka donasi buku kemudian kami salurkan ke sekolah atau taman baca yang membutuhkan,” ucapnya.

Baca juga:  Calon Mempelai Positif Covid, Lamaran Digelar secara Virtual lewat Zoom

Ia menambahkan, sejauh ini LBB Semarang telah menyalurkan buku-buku hasil donasi ke berbagai daerah. Ia mengatakan, seringnya disalurkan kepada komunitas-komunitas yang memiliki taman baca, perpustakaan sekolah, perpustakaan desa, dan lain sebagainya.

“Kami pernah menyalurkan buku ke Surakarta, Blora dan daerah lain di Jawa Tengah. Di Kendal, kami pernah mengirim ke Boja. Paling jauh ke Nusa Tenggara Timur bersama LBB se-Indonesia,” katanya. (*/aro)

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya