Diduga Tempat Peribadatan Masa Mataram Kuno

Menelisik Asal-Usul Situs Watu Tugu

1094
BUKAN TUGU BATAS : Situs Watu Tugu yang berada di RT 10 RW 1 Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu.(ISTIMEWA)
BUKAN TUGU BATAS : Situs Watu Tugu yang berada di RT 10 RW 1 Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.ID, Situs Watu Tugu yang berada di Kelurahan Tugurejo Kecamatan Tugu memang banyak dikenal masyarakat Kota Semarang. Bagaimana asal-usul dari situs tersebut?

EKO WAHYU BUDIYANTO, Radar Semarang

Siapa sih yang tidak mengenal situs Watu Tugu? Khususnya bagi warga Kota Semarang, situs yang berada di RT 10 RW 1 Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, ini pasti banyak yang tahu. Bahkan nama Tugu pun diabadikan menjadi nama kecamatan di tempat batu itu berdiri.

Namun, asal-usul dari tugu ini sampai sekarang pun belum banyak yang menguak. Beberapa pendapat menyebutkan jika batu ini merupakan tapal batas era kerajaan Majapahit dan Pajajaran. Pendapat berbeda justru dilontarkan oleh Arkeolog Kota Semarang, Tri Subekso.
Menurut Tri, situs Watu Tugu itu merupakan peninggalan kerajaan Mataram Kuno. Bentuk situs Watu Tugu menjulang tinggi ke atas dengan bentuk menyerupai stupa atau caitya, yang berhubungan dengan agama Buddha.

Situs yang berada di atas bukit itu memiliki tinggi sekitar empat meter. Usianya diperkirakan lebih tua dari masa kerajaan Majapahit maupun Pajajaran. “Diperkirakan usia Watu Tugu, sudah ada sejak pada abad ke-8 sampai abad ke-10 Masehi atau era Hindu/Buddha,” kata Tri.
Dikatakannya, hipotesa beberapa ahli ada yang menyebut pembangunan Watu Tugu ini berhubungan dengan tempat peribadatan atau pemujaan pada masa itu. Terutama interaksi antara masyarakat sekitar dengan para pendatang yang datang dari pantai utara. “Memang kalau dilihat dari ciri-ciri di lokasi situs Watu Tugu saat ini berada, dulunya merupakan tepian laut, yang berada di atas tebing sebuah bukit,” ujarnya.

Tentunya jauh sebelum ada sawah dan pabrik seperti sekarang ini.
Situs Watu Tugu merupakan bagian dari permukiman kuno. Sehingga dibangunlah sebuah situs tersebut untuk sarana peribadatan di sekitar permukiman sekaligus sebagai lambang penting pada masa itu.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda periode 1811-1816 Sir Thomas Stamford Raffles memasukkan gambar tangan kondisi Watu Tugu saat ditemukan dalam buku The History of Java. Buku ini diterbitkan pada 1817. Saat itu, Watu Tugu dalam kondisi roboh dan terbagi menjadi dua bagian.
Ia juga menjelaskan fungsi Caitya atau Stupa dalam agama Buddha, biasanya sebagai tempat pemujaan atau koleksi objek pemujaan. Sehingga berfungsi sebagai altar. Jika dilihat secara etimologi, kata Cetiya atau Caitya dalam bahasa Sansekerta berarti gundukan tanah atau tumpukan bata yang berkaitan dengan makam. Atau juga tempat untuk peninggalan relik atau abu hasil kremasi Sang Buddha, biksu dan biarawan yang dikeramatkan dan dihormati. Selain itu juga tempat untuk meditasi menenangkan diri bersemedi maupun tempat perayaan penting dalam hidup Sang Buddha atau para biksu dan dalam penyebaran agama Buddha.

“Sedangkan di Tibet, sebutan bagi Cetiya atau stupa dinamakan Ch’Orten, yang bermakna wadah untuk persembahan dengan berbagai ukuran dan perlambangan,” katanya. Di mana memiliki bentuk lebih langsing daripada Ssupa yang umumnya lebih bulat. Ch’Orten memiliki banyak tingkat dengan bangun berlainan yang masing-masing membawa perlambangan khusus.
Dari sisi lokasi situsnya, lanjutnya, jelas kawasan Watu Tugu pada masa lalu berada di tepi laut. Apalagi ada kabar dulunya pernah ditemukan jangkar kapal di bawah tebing Watu Tugu. “Dulunya Semarang dikenal dengan sebutan Bukit Pragota,” tuturnya.
Menurut catatan Badan dan Perpustakaan Daerah Jawa Tengah pada abad ke-8 Masehi, kawasan Bukit Pragota merupakan wilayah Mataram Kuno.

“Selain itu, secara fisik sebagai bangunan kuno iya, namun fungsinya sebagai apa tentu perlu dikaji lagi,” katanya.

Meski namanya sudah tidak asing bagi warga Kota Semarang, namun banyak masyarakat yang belum tahu korelasi peninggalan bersejarah itu dengan sejarah perkembangan Kota Semarang sendiri. Peninggalan sejarah itu sepertinya belum mendapat perhatian serius dari pemerintah. Jika melihat kondisi situs, kanan kirinya tidak terawat. Bahkan terkesan mangkrak. Selain itu, akses untuk menuju lokasi belum representatif bagi wisatawan maupun pengunjung.

Bahkan tidak ada papan penunjuk arah bahwa ada benda peninggalan sejarah berupa Watu Tugu. Untuk sampai tempat ini, pengunjung harus sedikit jeli mencari petunjuk arahnya sendiri karena posisi Watu Tugu berada di dekat bukit yang ditutupi rerimbunan pohon yang saat ini telah menjadi perkampungan.

Lokasi tepatnya, setelah dari Jalur utama Pantura, yaitu Jalan Walisongo KM 11, atau sekitar 2 KM dari kampus UIN Walisongo, dan 800 meter dari RS Tugurejo, jika dari arah Kaliwungu, Kendal menuju Semarang.

Sementara Candi Tugu yang ada di dekat Watu Tugu, merupakan bangunan tambahan yang dibangun pada tahun 1980an, dengan tujuan memperindah situs Watu Tugu. Namun sayangnya langkah itu seakan malah menghilangkan nilai sejarah Watu Tugu sendiri. Berdasarkan yang ada pada tulisan di bangunan candi itu, bahwa candi ini duplikat candi Gedong Songo yang dibuat pada tahun 1984-1985, oleh prakarsa PT Tanah Mas Semarang, Bapak Djamin CH. (*/ton)