alexametrics

Dari Warung Sederhana, Kini Punya Lima Cabang

Fajar Gilang Garnida, Alumnus Undip yang Sukses Berbisnis Kue Pancong

Artikel Lain

Sejak kuliah di Administrasi Bisnis FISIP Universitas Diponegoro (Undip), Fajar Gilang Garnida sudah menekuni bisnis kue pancong. Bahkan, kini dia sudah memiliki lima cabang dalam kurun waktu dua tahun.

AJENG NOVITA HANDAYANI, RADARSEMARANG.ID 

PEBISNIS MUDA: Fajar Gilang Garnida bersama dua temannya, Muhammad Raihan dan Kamilia Indah. (kanan) Kue pancong. (DOKUMEN PRIBADI)
PEBISNIS MUDA: Fajar Gilang Garnida bersama dua temannya, Muhammad Raihan dan Kamilia Indah. (kanan) Kue pancong. (DOKUMEN PRIBADI)

Fajar Gilang Garnida sekarang sudah lulus kuliah. Ia kini fokus menekuni bisnis kue pancong. Kue ini dibuat dari adonan terigu yang dicampur dengan kelapa dan dipanggang di atas loyang. Lalu diberi taburan gula pasir. Kue pancong hasil modifikasi Fajar itu kini laris manis. Fajar merintis bisnis ini di kawasan kampus Undip Tembalang, Semarang. Ia membuka warung pancong dan bubur kacang ijo atau disingkat Warung Parjo bersama dua sahabatnya, Muhammad Raihan dan Kamilia Indah. Selain di Gondang, Tembalang, Semarang, Warung Parjo didirikan di Purwokerto.

Gilang –sapaan akrabnya– mengaku muncul ide mendirikan Warung Parjo berawal dari obrolan santai bersama dua sahabatnya itu. Saat itulah ketiganya sepakat membuka usaha kuliner. “Selain kue pancong, di warung kami juga disediakan menu makanan berat, seperti nasi goreng, nasi orak-arik, dan nasi ayam bali dengan bentuk yang berbeda,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Baca juga:  Koleksi Helm Valentino Rossi dan Marc Marquez, Harga hingga Rp 18 Jutaan

Dijelaskan, kue pancong memang menjadi andalannya. Kue ini rasanya hampir mirip dengan kue cubit. Namun kue pancong Warung Parjo jauh lebih enak. Kue ini dijual Rp 5 ribu-Rp 7 ribu per biji. Dengan harga segitu, sudah mendapatkan kue pancong yang mengenyangkan perut.

Pemuda 25 tahun ini mengaku merintis bisnis dengan uang hasil tabungan dan bantuan orangtua pada 2017. Saat itu kondisi tempat Warung Parjo masih sederhana. Namun kini warung sudah lebih representatif. Bahkan, ia dan dua partner bisnisnya juga mampu melebarkan sayap dengan menggandeng investor yang tertarik membuka warung pancong.

“Aku terus kembangkan usaha dengan ilmu yang didapat di bangku kuliah. Sampai sekarang bisa dapatin investor-investor yang tertarik berbisnis kue pancong. Kuncinya, konsisten itu penting untuk pebisnis muda,” ujarnya.

Baca juga:  Potensi Lokal Gairahkan Ekonomi Desa

Gilang sendiri mengaku mulai berbisnis saat kuliah semester 6. “Waktu kuliah semester 6, banyak waktu kosong. Aku ngobrol aja tentang usaha dengan temanku, yaudah akhirnya kita sepakat untuk membuka warung pancong di Tembalang,” ceritanya.

Warung Parjo kini sudah menjadi tempat tongkrong yang didatangi oleh kalangan muda, khususnya para mahasiswa yang ingin mengerjakan tugas atau sekadar nongkrong saja. Parjo terkenal bukan hanya menu makanannya yang enak, tapi harganya juga terjangkau kantong pelajar dan mahasiswa.

Untuk promosi, selain menggandeng go food dan grab food, Gilang dan dan dua temannya juga aktif di sosial media Instagram. Ia selalu memposting promo-promo di dalam media sosialnya.

Baca juga:  Pakai APD Terasa Panas, Prosesnya Harus Cepat

Dengan modal belasan juta rupiah, kini omzet yang didapat mencapai ratusan juta rupiah. Gilang selalu mengatakan jangan pernah takut untuk berbisnis, karena di dunia ini yang paling menguntungkan dan membuat kita selalu kreatif adalah bisnis.
“ Berbisnis itu enak banget kalau emang kitanya mau konsisten, dan mau terus menjadi kreatif. Contohnya dengan Parjo ini sendiri aku buat warung dengan layout berbeda dengan burjo lain,” katanya.

Selain itu, dalam merintis usaha jangan takut gagal. Sebab, gagal itu adalah proses pembelajaran hidup. “Ketika gagal kita harus bangkit kembali membangun mimpi kita,” ujarnya yang mengaku sudah kerap mengalami kegagalan tapi selalu bangkit dari keterpurukannya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya