alexametrics


Syukur dan Tekun, Kunci Kinarto 28 Tahun Jalani Profesi Service Helm

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Kinarto (43) menatap tajam pengguna jalan yang lalu lalang di depannya. Senin siang itu (16/12/19) dia sedang menunggu konsumen yang hendak memperbaiki helm di tempatnya. Dia Mangkal di bawah pohon asem yang rindang, tak jauh dari Taman Indonesia Kaya, Jl Menteri Supeno.

“Agak sepi mas, dari pagi tadi baru ada satu pelanggan yang datang di tempat saya, mbenerin busa dalam helm,” tutur pria yang tinggal di Perum Pucang Gading ini.

Memanfaatkan trotoar sebagai tempat “dasaran”, sejumlah perkakas sederhana sebagai alat kerjanya seperti tang, obeng, lakban, gunting dan cuter, tampak berserakan di atas kain kumal. Sementara sebagai media promosinya, pria beranak dua itu memanfaatkan sepeda motor buntutnya untuk dipasangi sebuah papan bertuliskan jasa service helm.

“Sejak tahun sembilan satu saya menekuni profesi ini mas, sejak dulu sampai sekarang ya di sini saya mangkalnya,” ungkapnya.

Menekuni profesi sebagai tukang service helm, Kinarto menyediakan layanan mulai dari pasang kaca baru, karet dalam, list helm, ganti busa hingga cuci helm. Jasa yang ditawarkan pun bervariasi dari Rp 5 ribu hingga termahal Rp 50 ribu.

PROMO- Menggunakan sepeda motor buntut miliknya, Kinarto memasang papan promo service helm miliknya. (Sulistiono)

“Tergantung juga mas, kalau cuma ganti gasper atau sekrup paling 5 ribu rupiah, yang agak mahal kalau ganti kaca,” jelasnya. Dalam sehari dia mengaku bisa memperbaiki 10-15 helm, dengan pendapatan Rp 100 ribu .

Sementara itu, Susanti (46) warga Gergaji, yang datang ke service helm keliling Kinarto mengaku memperbaiki helm anaknya karena ongkos yang murah ketimbang membeli helm baru.

“Helm baru sekarang gak boleh 75 ribu, ini helm anak saya masih agak bagus, Cuma karetnya sudah aus, diganti paling ongkosnya 20 ribu, lumayan bisa hemat,” ungkapnya.

Kinarto menjalani profesinya sebagai tukang service helm yang sudah ditekuninya selama 28 tahun. Pekerjaan tersebut membuahkan hasil sebuah rumah mungil di perumahan Pucang Gading. Selalu bersyukur dan tekun, membuat dirinya menikmati profesinya.

“Disyukuri mas, saya tekuni pekerjaan ini, karena hanya ini keahlian yang bisa saya lakukan untuk menghidup anak istri,” pungkas pria asal Ambarawa, Kabupaten Semarang ini. (sls/ap)

Terbaru

Populer