Bikin Patung Dinosaurus 3 Meter dari Galon Bekas

Fajar Luthfi, Penyandang Disabilitas, Sulap Barang Bekas Jadi Kerajinan

320
KREATIF: Fajar Luthfi (tengah) memamerkan patung limbah galon berbentuk kepala banteng yang dibeli Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat peringatan Hari Disabilitas Internasional di Gedung Wanita Semarang. (Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang)
KREATIF: Fajar Luthfi (tengah) memamerkan patung limbah galon berbentuk kepala banteng yang dibeli Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat peringatan Hari Disabilitas Internasional di Gedung Wanita Semarang. (Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang)

Sejumlah patung berhasil diciptakan Fajar Luthfi dengan bentuk menarik. Menyerupai bentuk aslinya. Siapa sangka, karya tersebut dibuat dengan memanfaatkan galon bekas.

SIGIT ANDRIANTO, RADARSEMARANG.ID

GALON-galon bekas tersebut dipanaskan dengan kompor wos. Sebutan untuk kompor yang biasa digunakan oleh penjual mi ayam. Kompor ini berfungsi untuk melelehkan galon, sehingga mudah dibentuk.  ”Sebab, kalau menggunakan las yang biasa digunakan untuk besi itu terlalu kuat. Jadi pakainya kompor wos ini,” jelas Fajar Luthfi, lewat guru keterampilannya Budi Susilo.

Budi Susilo yang memberikan penjelasan lantaran anak didiknya itu adalah penyandang disabilitas. Luthfi memiliki keterbatasan pendengaran sejak kecil. Meski demikian, anak kedua dari Umi Fadilah ini tetap semangat menuntut ilmu di SLB-B YPPALB kelas 9 Kota Magelang.  Ia juga memiliki kelebihan mengubah barang bekas menjadi barang yang lebih bermanfaat. Salah satunya mengubah galon bekas menjadi aneka patung.

Budi Susilo menjelaskan, kerajinan yang dibuat Luthfi seperti membuat patung dari lempung atau tanah liat. Hanya saja, medianya adalah galon bekas melalui proses pembakaran. Karena itu, teknis pembakarannya harus dikuasai dengan baik.  Tentu kemampuan seni juga harus dimiliki untuk mengubah galon-galon yang sudah dipanaskan menjadi sejumlah bentuk patung. Sebab, semuanya memang dibentuk dengan keterampilan tangan atau handmade. Sama sekali tidak menggunakan cetakan.

Beberapa patung yang sudah dihasilkan di antaranya, patung kepala banteng. Satu kepala banteng ini dibuat dengan menghabiskan 10 galon bekas. Patung kepala banteng yang dibuat berhasil menarik perhatian Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Dua patung kepala banteng itu akhirnya dibeli Ganjar seharga Rp 1,8 juta.

Beberapa patung lainnya yang dihasilkan ada kepala badak, patung macan, dan patung dinosaurus setinggi 3 meter. Untuk patung dinosaurus ini bahkan berhasil laku dijual seharga Rp7 juta.  ”Kemarin itu dibeli sama Balkondes Saka Pitu Borobudur,” terangnya.

Keterampilan ini, dikatakan, berasal dari ketekunan mengasah bakat. Dibantu pelatih keterampilan yang dihadirkan ke sekolah.

Diakui, tidak ada kesulitan berarti untuk membuat karya seni tersebut. Hanya saja, di awal ada rasa takut karena alat yang digunakan cukup berbahaya, kompor api.  ”Tapi semakin ke sini, ketika bisa kerja sesuai prosedur yang benar dan hati-hati, semuanya menjadi biasa. Ditambah sentuhan seni, bisa menghasilkan karya seperti yang disaksikan,” jelasnya.

Dengan hasil karya yang menakjubkan tersebut, siswa tunarungu wicara ini bahkan sempat menyabet juara 1 lomba kreasi barang bekas 2018 tingkat nasional.

Budi mengaku anak didiknya itu memiliki kelebihan dibanding teman-teman di kelasnya. Luthfi juga berulangkali mewakili sekolahnya dalam ajang Lomba Ketrampilan Siswa Nasional Anak Berkebutuhan Khusus ( LKSN ABK) 2018 dengan beberapa tahapan. Awalnya, tahap se-eks Karesidenan Kedu mendapatkan juara, kemudian maju ke Provinsi Jawa Tengah pun mendapatkan juara, akhirnya melaju ke nasional dan mendapatkan juara. “Kami bangga atas prestasi yang ditorehkan Luthfi. Anaknya pun menurut dan mau diarahkan,” tutur Budi.

Guru yang sudah puluhan tahun mengajar anak ABK ini paham betul karakter anak didiknya. Keberhasilan Luthfi menjuarai lomba keterampilan karena berhasil mendesain apik keterampilan yamg dibuatnya dari barang-barang bekas yang  tidak memiliki nilai ekonomi. “Selain membuat oatung dari galon bekas, Luthfi juga pernah membuat lampu dari wadah air minum bekas ayam dan hiasan dinding dari ranting bambu. Lampu dan hiasan bambu itu terdapat gambar stupa Borobudur sebagai ciri khas Jawa Tengah,” papar Budi.

Selain tekun membuat kerajinan, siswa 18 tahun ini juga memiliki kegemaran mengotak-ngutik elektronik. Bahkan, Luthfi pernah ikut lomba robotik dengan peserta anak-anak normal. “Saya lihat Luthfi ini anaknya kreatif, makanya saya dukung dia untuk terus berkarya dengan mengikuti lomba -lomba,” tambahnya.

Pada peringatan Hari Disabilitas Internasional di Semarang beberapa hari lalu, ia membawa beberapa karya dari galon bekas untuk menyampaikan pesan bahwa penyandang disabilitas tidak kalah hebat ketika diberi kesempatan. ”Selain menjuarai sejumlah perlombaan, kemampuannya itu diharapkan dapat digunakan sebagai bekal hidup di kemudian hari,” ujar Budi. (*/aro)