alexametrics

Malu dengan ART yang Berpenghasilan Rendah, Justru Tergerak Membantu

Listyarini Meitasari, Ketua UMKM Jateng Pendiri Gerakan Seribu Rupiah Per Hari

Artikel Lain

Awalnya, Listya Meitasari yang menjabat sebagai Ketua UMKM Jawa Tengah ini, hanya fokus pada pemberdayaan perempuan dan kemajuan UMKM. Namun ketika melihat banyak warga di lingkungan sekitarnya membutuhkan bantuan, ia tergerak mendirikan gerakan sosial Seribu Rupiah Per Hari. Seperti apa?

NORMA SARI YULIANINGRUM, RADARSEMARANG.ID

SORE itu, sepasang mata yang berkaca-kaca. Adalah Listya Meitasari yang berkisah mengenai gerakan Seribu Rupiah Per Hari. Sebuah gerakan sosial yang berhasil mengumpulkan 150 anggota hanya dalam waktu setengah tahun lamanya.

Meita – sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa awalnya ia tak menyangka bahwa gerakan ini bisa diikuti oleh banyak orang, termasuk orang nomor satu di Semarang, Hendrar Prihadi. Ya, siapa sangka gerakan yang dibangun dari sosial media ini bisa turut melibatkan Hendi sebagai donatur.

Baca juga:  Belajar Otodidak, Paling Suka Tembang Jawa ”Lela Ledhung”

Anggota dan donatur Gerakan Seribu Rupiah Per Hari meliputi berbagai kalangan. Tak hanya dari golongan pejabat dan para elite, gerakan ini juga turut diikuti oleh pedagang ikan bahkan seorang asisten rumah tangga. Sontak, Meita menitikkan air mata tatkala ia bercerita, pada suatu hari datang seorang ibu yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga (ART) menemuinya dan mendaftarkan diri sebagai anggota. Tak hanya itu, ibu tersebut kemudian mengajak majikannya untuk turut bergabung menjadi anggota.

“Malu rasanya, kalau orang yang penghasilannya tidak seberapa, mau menyisihkan uangnya, tapi kita yang berkucukupan malah suka abai,” ujar ibu empat anak sambil menyeka air matanya.

Gerakan Seribu Rupiah Per Hari sendiri merupakan gerakan sosial yang mengajak para anggota atau donaturnya untuk menyisihkan uangnya seribu per hari dan akan dikumpulkan tiap sebulan sekali. Nantinya uang tersebut akan digunakan untuk membeli sembako atau keperluan lain guna membantu masyarakat kurang mampu di Semarang.

Baca juga:  Studi Tentang Pendapatan Daerah dan Produk Hukum Perlindungan Pasar Tradisional

Sejak pembentukannya pada Juli 2019 lalu, gerakan ini telah menyalurkan bantuan tak hanya untuk warga kurang mampu, namun juga untuk Panti Asuhan dan Panti Jompo di Semarang.

Meita juga berkisah bahwa mendirikan gerakan sosial merupakan cita-citanya sejak dulu. Sejak kecil pula Meita telah dibiasakan oleh kedua orang tuanya untuk berbagi. Ia mengaku, dulu ia harus menghabiskan masa kecilnya dengan berbagi rumah bersama saudara-saudaranya yang membutuhkan.

“Prinsip saya, selama masih hidup dan sehat, maka saya harus optimal melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Saya membantu bukan berarti karena saya memiliki hal yang lebih. Tetapi apa yang saya perbuat itu dikarenakan saya pernah mengalami hal serupa,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang ketika ditanya mengenai motivasinya mendirikan gerakan sosial ini.

Baca juga:  Diikuti 19 Negara, Raih 3 Stars dan The Most Favourite Team

Ke depannya, Meita memiliki keinginan besar supaya gerakan ini tak hanya berkiprah di Semarang. Ia ingin melebarkan sayap Gerakan Seribu Rupiah Per Hari hingga ke seluruh pelosok negeri. Karena baginya, jika bisa berbuat baik untuk banyak orang, kenapa tidak? (*/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya