Kapten Timnas Boking Tukang Bakso dan Gerobaknya

Mengikuti Nobar Laga Final Sepakbola SEA Games di Rumah Kapten Timnas Andy Setyo Nugroho

394
BERIKAN SEMANGAT: Warga saat nonton bareng laga final sepakbola SEA Games Filipina antara timnas Indonesia dan Vietnam di halaman rumah orangtua kapten Timnas U-23 Andy Setyo Nugroho. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Semarang)
BERIKAN SEMANGAT: Warga saat nonton bareng laga final sepakbola SEA Games Filipina antara timnas Indonesia dan Vietnam di halaman rumah orangtua kapten Timnas U-23 Andy Setyo Nugroho. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Semarang)

Kemeriahan laga final sepakbola SEA Games 2019 Filipina antara Timnas Indonesia melawan Vietnam terlihat di rumah kapten timnas Andy Setyo Nugroho di Secang, Kabupaten Magelang, Selasa (10/12) malam. Jawa Pos Radar Semarang sempat mengikuti nonton bareng (nobar) yang digelar di halaman rumah tersebut.

AGUS HADIANTO, Magelang, RADARSEMARANG.ID

MALAM itu, halaman rumah orangtua Andy Setyo Nugroho seluas hampir 400 m2 itu disulap menjadi arena nobar laga final sepakbola Timnas Indonesia melawan Vietnam. Selepas magrib, para tetangga Iptu Sugiyatno, ayah Andy, sudah berdatangan. Ada sekitar seratusan warga, mulai anak-anak, bapak-bapak maupun ibu-ibu. Mereka tampak asyik duduk di depan layar berukuran 1 x 1,5 meter. Layar tersebut dipasang di garasi rumah berukuran 8 x 6 meter yang disulap menjadi ruang operator multimedia lengkap dengan dentum soundsystem.

Persis di bawah depan layar, sekitar 35 anak berusia 10 tahunan asyik duduk lesehan di tikar. Sesekali mereka berteriak memberi semangat. “Ayooo om Andy,” kata anak-anak kecil itu serempak.

Ya, Andy adalah putra kebanggaan warga Dusun Mlanden RT 3 RW 5, Desa Madyocondro, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Andy merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Iptu Sugiyatno dan Dwi Endang Ratnawati. Saat ini, Sugiyatno menjabat Kasubag Binops Bagops Polres Temanggung. Dua adik Andy pun mengikuti jejak kakaknya menjadi pemain bola. Adik pertamanya, Aldi Yulistianto, menjadi pemain futsal. Sedang adik keduanya, Febrian Irgi Ardiansyah, mengikuti jejak Andy menjadi pemain sepakbola.

“Silakan, Mas, duduk di sini ramai-ramai,” ujar Iptu Sugiyatno ramah menyambut Agus Hadianto dari Jawa Pos Radar Semarang.

Sesekali teriakan ibu-ibu pun terdengar memberi semangat, seperti tak ingin kalah dengan bapak-bapak. “Ayo Mas Andy, semangat,” teriak ibu-ibu kompak. Bahkan ibu-ibu pun sempat marah-marah ketika ada pemain Indonesia yang dilanggar keras oleh pemain Vietnam. Iptu Sugiyatno dan sang istri pun ikut tertawa mendengar keriuhan tersebut.

Saat babak pertama berakhir, Iptu Sugiyatno kepada koran ini menuturkan, dirinya sengaja menggelar nobar bersama warga, lengkap dengan layar besar, tenda berukuran 3 x 8 meter, dan deretan kursi. Dia juga menyiapkan hidangan bakso dan aneka makanan kecil berupa kacang rebus, martabak, kue bolu serta minuman teh. “Saya mboking tukang bakso berikut gerobaknya, Mas. Semua gratis. Warga tinggal ngambil sesukanya,” ucapnya didampingi Ketua RT 03 RW 05 Nurhadi dan Kadus Mlanden Agus Winarso.

Diakui, biasanya nobar laga timnas di SEA Games cuma dilakukan keluarga dan tetangga dekat saja. Kira-kira 15 orang. Tapi saat partai final, sengaja nobar digelar lebih meriah dengan melibatkan banyak orang. “Agar warga bisa memberi semangat kepada Mas Andy dan kawan-kawannya,” katanya sambil tersenyum.

Iptu Sugiyatno mengaku, meski timnas Indonesia harus kalah dengan Vietnam, baginya perjuangan Andy dkk telah ikut mengharumkan nama Indonesia, terutama kampungnya di Kabupaten Magelang.  “Walaupun kalah, tetap sabar. Ke depan harus lebih baik. Kekalahan awal sebagai modal kesuksesan dan permainan lebih baik,” tuturnya sambil menyebut Andy sekarang bertugas sebagai prajurit TNI di Kesatuan Yonif 412/Raider Purworejo.

Di mata Sugiyatno, anaknya tersebut sangat penurut, pendiam, tidak neko-neko, disiplin, dan pekerja keras. Sikap inilah, menurut Sugiyatno, ikut mengantarkan anaknya menjadi pesepakbola profesional. Bahkan mengantarkannya diterima menjadi anggota TNI.

“Karir profesional Andy saat duduk di bangku kelas XI SMA Negeri 5 Magelang. Andy dipanggil memperkuat Timnas U-17. Saya sempat senang dan menangis. Tangisan kedua saya tentang Andy yakni pada seleksi pertama masuk TNI di Secaba. Saat itu, Andy ngasih kabar kalau seleksi renang gagal. Ada enam anggota yang tidak sampai finish. Nah pas hari Rabu pagi, Andy ngabari kalau lulus dan diterima. Di kantor saya langsung nangis. Itu tahun 2016, selepas Andy membela Timnas U-17,” ceritanya.

Ibunda Andy, Dwi Endang Ratnawati mengaku kecewa dengan kekalahan timnas. Meski demikian, Endang menilai, anaknya dan seluruh punggawa timnas sudah berjuang habis-habisan. Andi, menurut Endang, merupakan anak yang pendiam tapi nrimonan. Bahkan sejak kecil, kata Endang, Andy paling rajin masuk latihan saat di Sekolah Sepakbola (SSB) Naga Pakca Sambung dan beralih di SSB Putra Mandiri.

“Walaupun hujan, pasti Andy tetap berangkat dan semangat latihan. Saya saja sampai menunggu Andy dari pinggir lapangan dengan memakai payung. Anaknya sungguh sangat semangat dalam main bola. Andy suka bola sejak usia empat tahun gara-gara tetangganya ngajakin main bola. Andy sendiri saat kelas 5 SD sudah ikut POPDA tingkat provinsi dalam tim sepakbola,” kata Endang sambil menerawang seraya mengusap foto Andy.

Endang tidak pernah menyangka anaknya akan menjadi pemain timnas dan membawa harum nama Indonesia di kancah dunia. Bagi Endang, pilihan anaknya menjadi pemain sepakbola profesional akan terus didukungnya sampai kapanpun. Menurut Endang, sebelum masuk timnas, putranya yang berusia 22 tahun itu membela PS Tira Persikabo.

“Saya selalu memberi semangat kepada Andy agar banyak berdoa, pantang menyerah, harus rajin ibadah. Jangan patah semangat meski mengalami kekalahan,” ujarnya.

Kisah lucu Andy justru diperoleh melalui mantan pelatihnya semasa mengenyam di SSB Naga Pakca dan SSB Putra Mandiri, Hasan Killa. Menurut Hasan, Andy sejak kecil sudah terlihat bakat sepakbolanya, dan bahkan paling menonjol di antara teman-temannya. Selain itu, kata Hasan, kaki Andy pun berbentuk O dan memperlihatkan punya bakat pesepakbola.

“Saya masih ingat itu, waktu pertama kali Andy ikut pertandingan Turnamen Sepakbola Temanggung Kapolres Cup, pas usia 10 tahun. Andy mengompol di celana, karena waktu itu pertama kali bertanding di stadion besar. Saya dekati dan bilang tidak apa-apa, itu tandanya kamu siap. Saya juga suruh ganti celana, habis itu dia main sangat bagus sekali,” cerita Hasan sambil tertawa mengenang. (*/aro)