alexametrics

Begini Harapan Orangtua Kapten Timnas Sepak Bola Andy Setyonugroho

Artikel Lain

RADAR SEMARANG.ID, Jelang final sepak bola SEA Games 2019 di Filipina malam ini, keluarga kapten Timnas Indonesia Andy Setyonugroho di Secang, Kabupaten Magelang sangat berharap skuad Garuda bisa unggul atas Timnas Vietnam. Sehingga medali emas sepak bola yang sudah 28 tahun dinanti, bisa dibawa pulang ke Tanah Air.

RUMAH Sugiyatno di Dusun Mlanden RT 3 RW 5 Desa Madyocondro, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang selalu ramai saat Timnas Indonesia berlaga di SEA Games 2019 Filipina. Di rumah ini selalu digelar nonton bareng di ruang tamu rumah bercat hijau itu. Seluruh anggota keluarga, termasuk beberapa tetangga berkumpul menonton laga timnas lewat layar televisi LCD 32 inchi. Termasuk saat laga final yang akan digelar nanti malam. Keluarga ini juga sudah menyiapkan nonton bareng. Ya, maklum saja, salah satu punggawa timnas adalah putra Sugiyatno. Yakni, Andy Setyonugroho, kapten timnas.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Sugiyatno memiliki harapan besar agar timnas bisa meraih medali emas. Ia juga telah berpesan kepada anaknya agar bermain dengan santai tanpa emosi.

Baca juga:  Tim Sepak Bola Jateng Tersingkir Tanpa Meraih Kemenangan di PON Papua

“Saya selalu berpesan agar Andy selalu bermain tanpa emosi. Karena jika bermain dengan emosi, pasti hasilnya selalu buruk,” ucap pria yang menjabat Kepala Sub Bagian Pengendalian Operasi Polres Temanggung saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (9/12).

Ia juga berharap putra sulung dari tiga bersaudara tersebut dapat memimpin tim Garuda dengan kompak, sehingga mampu membawa medali emas ke Tanah Air. Sejumlah pesan khusus pun selalu disampaikan kepada anaknya yang kini menjadi anggota TNI.

“Setiap kali menghubungi Andy lewat telepon seluler, saya minta dia tidak meninggalkan salat lima waktu dan salat sunah. Berdoa memohon diberi keselamatan, kesehatan, dan kesuksesan sebelum bermain. Saya juga ingatkan agar tidak sombong dan jumawa kepada orang lain. Itu yang selalu sya sampaikan setiap kali telepon,” tutur perwira Polri berpangkat Iptu tersebut.

Sugiyanto bercerita bakat Andy dalam bermain sepak bola sebetulnya tidak terlihat sewaktu kecil. Bakatnya baru terlihat ketika masuk Sekolah Sepak Bola (SSB) di Magelang saat kelas 4 SD. Sejak itu, pemuda 22 tahun tersebut fokus berlatih sepak bola. Selepas SD dan SMP, Andy disekolahkan di SMA Negeri 5 Kota Magelang agar lebih fokus menimba ilmu sepak bola dan belajar akademik. “Dulu di SMA 5 itu kan ada jurusan olahraga, agar lebih fokus di sepak bola, maka kami masukkan di sana,” katanya.

Baca juga:  Masuk 12 Besar, Cetak Sejarah

Sejak saat itulah, ia mulai mengikuti sejumlah turnamen sepak bola antar sekolah hingga tingkat provinsi. Karena bakatnya yang luar biasa dan prestasinya yang gemilang,  skuad muda klub asal Kalimantan Timur, Pusamania Borneo FC melirik Andy dan merekrutnya. “Dari situlah Andy mulai dipanggil untuk memperkuat Timnas Indonesia,” ujarnya.

Karena prestasinya di Timnas Indonesia, Andy pun ditawari untuk menjadi anggota TNI dan peluang tersebut digunakannya untuk menjadi abdi negara dan melanjutkan perjuangan orangtuanya. Sejak saat itulah Andy mulai memperkuat Persikabo klub sepakbola milik TNI.

Sugiyanto juga menyampaikan, selama anaknya menjalani pertandingan untuk memperkuat Timnas Indonesia, dirinya memang belum pernah sekalipun menyaksikan secara langsung saat anaknya merumput di lapangan hijau. Hal itu karena kesibukannya sebagai abdi negara yang membuatnya hanya bisa mendoakan dari jauh. “Namun jika bermain di daerah Jawa Tengah, biasanya kami sekeluarga ikut menyaksikan sekaligus melepas kangen,” akunya.

Baca juga:  Pendekatan Media Audio Visual pada Teknik Dasar Menggiring Bola dalam Permainan Sepak Bola

Selain itu, setiap anaknya berlaga, di rumahnya digelar nonton bareng. “Kita selalu menggelar nonton bareng di rumah, tapi biasanya hanya 15 orang saja,” ucapnya.

Ia pun akan menggelar nobar saat laga final Indonesia melawan Vietnam malam ini. “Besok (hari ini) kita akan gelar kembali nobar. Bagi masyarakat yang akan ikut nobar dan mendoakan bersama dari rumah kami persilakan,” katanya.

Ia mengaku prihatin lantaran anaknya yang menjadi punggawa timnas justru tidak dikenal di Kabupaten Magelang. Padahal Magelang merupakan kampung halamannya. “Saya rasa apresiasi dari pemerintah daerah sangat kurang, dan ini sangat kami sayangkan,” ucapnya. (tabah.riyadi/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya