Pakai Pewarna Daun, Harga Capai Rp 1,5 Juta per Potong

Pintya Dwanita Ayu Pratesthi, Pengusaha Batik Ecoprint Semarang

322
Pintya Dwanita Ayu Pratesthi bersama peserta workshop ecoprint. (ALVI NUR JANAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Pintya Dwanita Ayu Pratesthi bersama peserta workshop ecoprint. (ALVI NUR JANAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Menjalani bisnis di usia muda tidak menyurutkan semangat Pintya Dwanita Ayu Pratesthi untuk berinovasi. Melalui ecoprint, ia mengenalkan seni mengolah kain dengan bahan alami yang bernilai seni tinggi.

ALVI NUR JANAH, RADARSEMARANG.ID

Berawal dari kecintaannya pada batik, Pintya Dwanita Ayu Pratesthi menginisiasi kain ecoprint yang diklaim belum ada di Kota Semarang.  “Saya merintis Pratesthi Batik and Craft dari Februari 2018. Awal merintis penuh perjuangan, karena beberapa konsumen sudah telanjur menyukai batik. Tapi saya bertekad untuk bisa membuat sesuatu yang berbeda demi mengejar ketertinggalan, makanya saya buat ecoprint,”ceritanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di workspace-nya Jalan Kanfer Raya T-2 Banyumanik, Kamis (5/12).

Dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat membuat Pintya –sapaan akrabnya– menjadi lebih bersemangat. Pada April 2018, ia memberanikan diri untuk launching. Hanya bermodal uang Rp 2 juta, ia bertekad untuk terus membesarkan usahanya.

“Kebetulan ibu juga berkecimpung di usaha batik dan membina ibu-ibu di sekitar sini. Meskipun ada darah wirausaha, tapi saya sudah membulatkan tekad untuk fokus ke ecoprint dan membuat brand sendiri,”tegas perempuan berusia 24 tahun ini.

Putri dari Sulistiya Rahayu itu, saat ini memiliki Pratesthi Batik and Craft. Galeri yang menampilkan batik, craft dan ecoprint. Ia juga menjelaskan perbedaan batik dengan ecoprint.

Ecoprint itu seni mengolah kain dengan bahan dasar pewarnaannya dari alam. Prosesnya manual, kami biasanya menggunakan dedaunan, bunga, batang, dan pewarna alami lainnya. Tumbuhan seperti daun jati, daun ketela, daun kersen, daun jarak, dan dedaunan hijau serta yang berwarna kemerah-merahan,” paparnya.

Dijelaskan, teknik pengolahan ecoprint ada dua, yaitu teknik pounding dan steam atau pengukusan. Salah satu yang akan dipraktikkan adalah teknik steam.

“Kita menggunakan kain tipis sifon, dengan daun jati yang sudah ditata rapi. Setelah itu, tutup kain dengan kain yang sama, atasnya dikasih plastik. Daun kemudian ditumbuk dengan palu agar warna aslinya keluar serta melemaskan tulang-tulang daun jatinya. Lalu digulung, ikat dengan pita kemudian masukkan ke dalam panci. Kain dikukus selama kurang lebih 30 menit,”jelasnya.

Pembuatan kain juga menggunakan tawas. Kain yang sudah jadi, ditiriskan hingga siap direndam dengan air tawas.  “Biasanya direndam selama 5-7 menit agar seratnya menempel dan awet. Lalu diangin-anginkan sampai kering, kemudian kita setrika. Kain bisa dibuat syal, pakaian, dan jilbab,”ujarnya.

Alumni Fakultas Perikanan Universitas Diponegoro (Undip) tersebut mengaku bahagia ketika produk yang ditawarkan disukai oleh pasar. Untuk batik, ia mengangkat motif Semarangan sebagai ciri khas, motif godhong, kembang, buah kersen dan warak.

Duta Muslimah Preneur 2019 ini menambahkan, motif ungkelan dan duri adalah motif yang paling laku dan banyak dicari. Selain itu, motif maheswari juga menjadi alternatif eksklusif konsumen ketika berkunjung ke Pratesthi. Motif dedaunan pilihan dan ramah lingkungan dibanderol mulai harga Rp 150 ribu – Rp 1,5 juta per potong.

“Paling laku motif ungkelan dan duri yang dibanderol dengan harga Rp 350 ribu. Konsumen kita juga ada yang dari Bandung, Surabaya, dan Jogja. Kita juga pernah mengirim hingga Kalimantan, Sulawesi, Bali, Sumatera dan ke depan ingin meluaskan pasar di Indonesia bagian Timur,”ungkapnya.

Berbagai cara dilakukan Pintya untuk terus mengembangkan bisnisnya. Timnya kini berjumlah lima orang yang membantu mempromosikan.  “Kita terus memberikan edukasi dan pengenalan mengenai ecoprint ke masyarakat. Caranya lewat workshop dan menitipkan produk di beberapa galeri untuk pemasarannya. Seperti di Semarang ada 6, Purwokerto 1, dan Jakarta 1. Workspace juga terbuka setiap weekend bagi siapa saja yang ingin belajar tentang ecoprint,” katanya.

Ke depan, Pintya punya obsesi memiliki tempat produksi sendiri yang terpisah dari rumah tinggalnya. Ia ingin memberikan tempat yang layak bagi pekerjanya dan para customer. (*/aro)