Sempat Terpuruk dan Tutup, Kini Punya Tujuh Cabang

Setyo Budi Rahayu, Generasi Kedua Legenda Soto Ayam Pak Wito Semarang

348
RACIK SENDIRI : Generasi kedua Soto Ayam Pak Wito, Setyo Budi Rahayu, ketika meracik soto di warung cabang ke tujuh. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RACIK SENDIRI : Generasi kedua Soto Ayam Pak Wito, Setyo Budi Rahayu, ketika meracik soto di warung cabang ke tujuh. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Siapa tak kenal dengan warung soto ayam Pak Wito? Nama warung soto asli Semarang ini cukup melegenda. Berdiri sejak 1955 silam. Warung soto ini dulunya bernama Soto Dargo Pak Wito. Kali pertama buka di emperan Pasar Dargo Semarang. Kini soto ayam Pak Wito telah memiliki tujuh cabang di Semarang dengan 45 karyawan.

ADENNYAR WYCAKSONO, RADARSEMARANG.ID,

Djoyo Suwito adalah pendiri warung soto ayam Pak Wito. Saat awal merintis usaha kuliner berkuah ini, Suwito mangkal di emperan Pasar Dargo Semarang. Kini, di tangan generasi kedua, Setyo Budi Rahayu, soto ayam Pak Wito berkembang pesat, meski pada 1998 lalu sempat terpuruk bahkan tutup. “Awal mula saya mencoba buka usaha sendiri sekitar tahun 1992 untuk meneruskan usaha bapak saya, Pak Djoyo Suwito. Saat itu masih berjualan di emperan juga, bahkan tahun 1998 sempat tutup karena krisis moneter,” cerita Setyo Budi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pria yang kini berusia 50 tahun ini menjelaskan, bumbu soto yang ia buat adalah resep rahasia dari sang ayah. Memang butuh penanganan khusus agar cita rasanya tidak berubah. Hampir 30 tahun Setyo Budi membuka usaha, tak sedikit pun resep soto yang diturunkan orang tuanya ini berubah.

“Dahulu saya juga jualan kaki lima dengan lapak semi permanen, tepatnya di Jalan Senjoyo Bugangan dengan memakai nama bapak sekitar tahun 1992. Meski pakai nama bapak, bukan perkara mudah untuk memulai bisnis,” kenangnya.

Seiring berjalannya waktu, ternyata Setyo Budi harus gigit jari dan menerima kenyataan harus merugi hingga menutup warungnya. Ia mengenang pengalaman pahit itu terjadi pada 1998 karena krisis moneter yang membuat harga –harga bahan pokok merangkak naik.

“Saat itu, saya kesulitan nyari bahan, buat beli ayam juga tidak bisa, harganya naik tiga sampai empat kali lipat, yang beli juga sedikit akhirnya saya bangkrut,” katanya sedih.

Pria yang rambutnya mulai memutih ini ternyata tidak patah semangat. Pada 2000, ia kembali merintis usaha dengan cara memanfaatkan bantuan modal dari bank swasta. Setyo Budi kembali memulai bisinisnya dari awal, dan masih memakai nama Soto Pak Wito warisan ayahnya. “Saya kemudian coba buka di Jalan Hasanuddin, Alhamdulillah rezeki, warungnya ramai sampai kuwalahan melayani pembeli,” ujarnya.

Karena tingginya minat masyarakat, Setyo Budi pun memberanikan diri membuka cabang baru di Kapuran pada 2006. Karyawannya pun mulai bertambah. Ibarat ketiban durian runtuh, peruntungannya kian menanjak. Berkat cabang baru yang ia buka, membuat namanya semakin tenar di kalangan pemburu kuliner.

“Dari situ ada yang usul untuk membuka cabang baru lagi. Karena modalnya sudah ngumpul, akhirnya saya buka cabang satu demi satu di Puri Anjasmoro, Kedungmundu, Bangkong, Ngaliyan dan terakhir di Madukoro ini. Masalah harga terjangkau, yakni Rp 12 ribu per porsi, ”katanya.

Meski tak lagi muda, Setyo Budi tak segan melayani langsung pembeli. Padahal total ia memiliki 45 karyawan dari tujuh cabangnya, seperti di warung baru yang ada di ruko Bizpark yang kebetulan didatangi pelanggannya sejak tahun 2000-an. “Pak bikinin tiga mangkuk, tapi bapak yang ngracik, saya nggak mau yang lain,” pinta Suwarto yang mengaku sudah berlangganan Soto Pak Wito sejak muda.

Dengan cekatan, tangan Setyo Budi mulai mengambil nasi, su’un, suwiran daging ayam, menambahkan sayuran, memberikan bawang merah dan bawang putih goreng, serta menuangkan kuah soto ke dalam mangkok.

“Saya jaga cita rasa kok, Mas, biar rasanya nggak berubah-ubah. Mulai dari bahan, bumbu, dan sampai jadi kuah soto dimasak di rumah saya. Nanti baru dikirimkan ke cabang-cabang, ada bumbu rahasianya juga warisan dari bapak saya,” katanya.

Dalam sehari, Setyo Budi mengaku bisa mengolah 60 ekor ayam kampung untuk sotonya.  Untuk omzet perhari, ia enggan menyebutkan. Yang jelas ia senang bisa mengangkat ekonomi warga lain, menyerap tenaga kerja, dan membuat peternak ayam memiliki pelanggan tetap. “Kalau masalah omzet ya cukup lah Mas, nggak kurang nggak lebih. Disyukuri saja,” ujarnya singkat.

Memasuki usia senja, Setyo Budi berencana akan menurunkan resep warisan dari ayahnya kepada anak-anaknya. Saat ini, ia memiliki tiga putra yang masih kuliah dan duduk di bangku SMA di Semarang.  “Tapi nanti akan saya wariskan ke anak-anak, Mas, biar bisa melanjutkan usaha saya,” katanya.

Ditanya perbedaan soto Semarangan dan Soto Kudus, Setyo mengaku jika kekhasan soto di tempatnya adalah pada bawang merah dan bawang putih goreng yang memiliki cita rasa gurih jika dicampur pada kuah soto. “Di sini bebas ambil bawang goreng, jadi itu yang akan membuat rasanya semakin gurih. Kalau bedanya, soto Semarang lebih encer karena tidak pakai santan,”jelasnya.

Meski sudah sukses, Setyo mengaku memiliki misi pribadi untuk membuat soto khas Semarang ini bisa dikenal secara luas. Bahkan ia bercita-cita membawa nama soto Semarang mendunia, dengan membuka cabang di luar negeri. “Kalau makanan barat bisa masuk, harusnya makanan Indonesia juga bisa ke luar negeri dong. Harapan saya tentu soto warisan ini bisa mendunia,” harapnya. (*/aro)