Ahmad Abu Rifa’i, dari Baca Buku Rongsokan, Kini Raih Dua Juara

567
SELEBRASI: Ahmad Abu Rifa’i saat menerima piagam dan piala sayembara penulisan hadiah dari Balai Bahasa Jawa Tengah di Hotel Patrajasa, Rabu (20/11). (NANANG RENDI AHMAD/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SELEBRASI: Ahmad Abu Rifa’i saat menerima piagam dan piala sayembara penulisan hadiah dari Balai Bahasa Jawa Tengah di Hotel Patrajasa, Rabu (20/11). (NANANG RENDI AHMAD/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Sejak kecil senang membaca, tetapi sulit mendapatkan akses membaca buku. Hal itu tak membuat Ahmad Abu Rifa’i menyerah mencari jalan lain. Dari buku rongsokan yang dibaca, ia dapatkan banyak pelajaran nilai-nilai kehidupan yang mengilhami tulisan-tulisannya. Kini, ia sering menyabet juara penulisan dalam berbagai lomba.

Wajah Ahmad Abu Rifa’i tampak riang saat Jawa Pos Radar Semarang menemuinya di Kedai Kopi Kang Putu, Gebyog, Gunungpati, Semarang pada Kamis (22/11) malam. Ia duduk di meja paling ujung di sebelah rak buku kedai itu. Di bawah sinar bohlam yang agak redup, ia ungkapkan awal mula dirinya mencintai dunia membaca hingga membawanya sering menjuarai ajang lomba penulisan. Terakhir, lewat esai berjudul Bahasa Meme: Bahasa Kritik Milineal dan cerpen Nasi Goreng Istimewa ia menyabet dua juara (juara 1 dan 2) di ajang Sayembara Penulisan 2019 yang dihelat Balai Bahasa Jawa Tengah (BBJT) kategori remaja.

Ia mengaku, sejak kecil suka membaca dongeng dan cerita rakyat. Juga suka menonton film anak-anak. Salah satu film favoritnya Kera Sakti. Dua rutinitas itu sangat berkesan dalam hidupnya dan tak bisa ia lupakan hingga kini.

“Saking senangnya membaca, apapun saya baca. Termasuk kertas undangan yang sampai ke rumah, semua saya baca. Bahkan saat mandi, saya membaca komposisi sampo yang tertera di kemasannya itu,” ungkapnya sambil tertawa dan merapikan poni rambutnya.
Sambil menggeser posisi duduknya, pemuda 20 tahun itu melanjutkan ceritanya. Ia mengatakan bahwa semua itu dilakukan karena keterbatasan akses bacaan di desanya. Ia memang bisa mengakses bacaan di perpustakaan sekolah. Namun karena koleksi bukunya sedikit, ia lampiaskan juga hasrat membacanya di rumah.

“Saat MI (Madrasah Ibtidaiyah), demi memenuhi hasrat membaca, saya datangi pengepul rongsok di dekat rumah. Di sana saya cari buku-buku bekas. Kadang saya baca di sana, kadang juga saya pinjam lalu saya baca di rumah. Beruntungnya dia (pengepul rongsok, Red) tak pernah keberatan,” ujar mahasiswa Sastra Inggris Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini.

Rutinitas membacanya sempat vakum saat ia memasuki Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) karena kesibukan di organisasi sekolah. Namun di akhir MA, rutinitas membacanya ia perkuat kembali. Tetralogi Laskar Pelangi (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov) karya Andrea Hirata adalah yang ia rampungkan kala itu. Setelah membaca tetralogi itu, ia terpantik menulis. Tulisan pertamanya adalah novel yang mengisahkan teman-teman sekolahnya. Novel itu masih ia simpan dan belum berniat menerbitkannya. Hingga menjadi mahasiswa, ia terus membaca dan menulis.
Menurutnya, titik balik dari pengalaman membaca dan menulisnya adalah ketika ia mengikuti kelas penulisan cerpen rutin dan gratis yang diampu Gunawan Budi Susanto (Kang Putu).

“Sampai menjadi mahasiswa, saya terus membaca dan menulis. Namun saya menulis hanya menulis. Belum mengerti betul soal kaidah dan teknik menulis cerita yang bagus. Setelah mengikuti kelas cerpen Kang Putu, tulisan saya mulai diterbitkan di sejumlah media massa,” katanya.

Terus melanjutkan cerita pengalamannya, anak pasangan petani itu tiba-tiba tampak berkaca-kaca. Dengan suara yang cukup terbata-bata, ia mengungkapkan bahwa satu hal yang muncul dalam benaknya ketika mengerti dirinya menjuarai lomba yang dihelat BBJT adalah ia merasa dapat membanggakan orang-orang di dekatnya, terutama orang tuanya.

“Kemarin, saat penyerahan hadiah dari BBJT, saya sengaja bawa bapak. Ingin rasanya bawa ibu juga. Sayang, ibu sedang merawat nenek di rumah. Saya pikir mereka layak bangga melihat anaknya berdiri di hadapan banyak orang. Karena, mereka telah merawat dan membersamai perjalanan hidup saya. Itu juga menjadi pembuktian untuk orang-orang yang pernah merendahkan keluarga saya. Saya bisa dan membuktikannya pada mereka dengan prestasi,” pungkas pemuda asal Pucakwangi, Kabupaten Pati ini.

Kini, ia sedang merintis lamannya sendiri yang bernama lokaswara.id. Rencananya akan ia isi dengan karya-karyanya. (nanang/aro)