alexametrics

Begini Cara Majelis Taklim Al-Fath Wonodri Berbagi Sarapan Gratis setiap Jumat

Artikel Lain

RADAR SEMARANG.ID, Berbagi kepada sesama bisa dilakukan oleh siapa saja. Termasuk yang dilakukan ibu-ibu yang tergabung dalam Majelis Taklim Masjid Al-Fath Semarang ini. Mereka rutin menggelar Jumat Berkah dengan berbagi menu sarapan gratis setiap hari Jumat di pinggir Jalan Sriwijaya, Semarang.

MAJELIS taklim tidak hanya identik dengan kumpul-kumpul di masjid atau musala. Tidak hanya membaca Alquran, mendengarkan kajian ataupun memainkan rebana. Ibu-ibu Majelis Taklim Al-Fath Jalan Wonodri Sendang I Kelurahan Wonodri, Kecamatan Semarang Selatan ini punya cara unik sekaligus bermanfaat. Mereka membagikan menu sarapan gratis setiap Jumat pagi kepada pengguna jalan yang melintas di Jalan Sriwijaya Semarang. Ibu-ibu itu menggelar tikar dan menyiapkan menu sarapan di atas meja di halaman salah satu toko di jalan tersebut. Tradisi sarapan gratis setiap Jumat ini sudah berlangsung sejak setahun lalu.

Menurut Sarah Fera Rufida, kegiatan tersebut dilatarbelakangi konsep yang selalu mereka pegang, yakni Islam yang rahmatan lil’alamin atau Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Ia dan ibu-ibu majelis taklim berkomitmen bisa membantu sesama walaupun hanya dengan nasi bungkus untuk sarapan pagi. “Awalnya untuk mensyiarkan Islam, memperkenalkan Islam yang saling mengasihi. Islam yang berbagi, bermanfaat untuk semua orang. Kami berbagi seperti ini sejak kira-kira setahun yang lalu,”ujar wanita keturunan Arab ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Selain dibiayai dari para donatur, lanjut dia, kegiatan ini juga didukung oleh dana yang dikelola oleh takmir Masjid Al-Fath. Kenapa memilih hari Jumat? Menurut Sarah, lantaran Jumat dinilai sebagai hari yang baik.  Bagi Sarah dan anggota majelis taklim lainnya, inilah cara mensyiarkan Islam, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara bersyukur dan berbagi kepada orang yang membutuhkan.

Baca juga:  Warga Semarang Kembangkan Batik Warna Alami, Lebih Ramah Lingkungan, Jadi Langganan Desainer Kanada

“Semua dilakukan atas niat ibadah, mengangkat agama Allah. Selalu mencari ridho Allah, ilmunya yang kita dapat pada kajian kita praktikkan langsung dengan cara membantu orang lain,” ujar ibu berusia 45 tahun ini.

Eni Kusuma, anggota majelis taklim lainnya menambahkan, niatnya melakukan kegiatan tersebut karena peduli terhadap sesama “Pagi-pagi mungkin belum sarapan, belum menyiapkan makan untuk keluarganya. Di sini siapa saja boleh makan, yang datang bebas menikmati nasi bungkus. Kebanyakan dari luar, seperti driver gojek, warga yang mau berangkat kerja, siswa sekolah, dan lain-lain,” papar Eni Kusuma.

Menu yang disajikan beragam. Tergantung keinginan ibu-ibu yang membuat. Ada tujuh orang yang membantu menyiapkan hidangan. Menunya kadang dibuat sendiri, kadang juga pesan ke warung sekitar. “Menunya beda-beda setiap minggu. Kadang nasi uduk, soto, lontong opor dan lain-lain. Kami juga membeli dari warung sekitar sini, karena kami tidak ingin mematikan rezeki mereka,” ujar wanita berusia 52 tahun ini.

Baca juga:  Hadir Setiap Jumat, Pengunjung Dibatasi Dua Barang

Anggota majelis taklim ini saling membantu menyiapkan hidangan. Ada yang menyiapkan tempat, membeli tempat makannya, termasuk dalam memasaknya, semua dilakukan secara bersama-sama.  Jumat (15/11) kemarin, menu yang dibagikan adalah nasi uduk. Sedikitnya 200 bungkus nasi uduk dibagikan dari pukul 06.00 hingga 07.30. “Nasi bungkus yang dibagikan habis lebih awal dari perkiraan kami,”ujar Sarah

Karena tradisi yang berlangsung sudah cukup lama, donatur kegiatan ini pun bermunculan dan terus bertambah.  “Ada yang kasih snack atau uang tunai. Kita tidak minta, tapi mereka datang sendiri. Para donatur senang dengan kegiatan ini. Mereka menyumbang untuk jumat berikutnya. Rata-rata mereka tidak ingin dipublikasikan namanya,” paparnya.

Baca juga:  Dikelola Siswa, Hasilnya Dijual secara Offline dan Online

Ia berharap kegiatan tersebut bermanfaat dan tetap istikomah digelar. “Kami ingin menunjukkan bahwa Islam tidak identik dengan teroris, tapi Islam saling berkasih sayang. Islam tidak memandang ras dan agama. Kegiatan ini juga untuk menumbuhkan ukhuwah islamiyah,” paparnya. (alvi.nur.janah/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya