alexametrics

Terinspirasi Walisongo, Jelaskan Bahaya Jajan Sembarangan

Shifa Qorib Nasrullah, Mahasiswa UPGRIS Edukasi Bahaya Bakteri lewat Wayang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Edukasi tentang bahaya bakteri coba dilakukan oleh mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Shifa Qorib Nasrullah. Ia menjelaskan bahaya bakteri menggunakan media wayang. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO, RADARSEMARANG.ID

WAYANG menjadi salah satu media yang digunakan Walisongo untuk menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Hal inilah yang menjadi alasan Shifa Qorib Nasrullah untuk menggunakan media wayang untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya bakteri dari jajanan yang kurang higienis atau akibat dari jajan sembarangan.

“Saya terinsipirasi dari Walisongo yang menyebarkan agama melalui pendekatan budaya. Akhirnya media ini saya pilih menjadi media sosialisasi tentang bakteri,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Syiar yang dilakukan adalah tentang pola hidup sehat. Menurutnya, sama seperti Walisongo, ia coba menyampaikan tentang bahaya bakteri jahat ini bisa lebih maksimal diterima oleh berbagai kalangan, termasuk anak kecil. “Tokohnya sengaja dibuat lebih menarik dan mudah dipahami,” ujar mahasiswa semester tujuh ini.

Baca juga:  Droping 80 Ribu Meter Kubik Air Bersih, Bantu Ribuan Warga Belasan Kecamatan

Melalui media tersebut, Shifa mengaku ingin menggugah kesadaran masyarakat, terutama anak-anak sekolah yang lebih suka jajan sembarangan. Selain itu, juga rendahnya kesadaran untuk mencuci tangan sebelum makan. Padahal berbagai macam bakteri jahat, siap mengancam kesehatan jika tidak dibuat higienis atapun lupa mencuci tangan. “Saat kita makan, selain gizi dan vitamin yang ada, kita harus tahu tentang kebersihannya, termasuk segi bakteri jahat yang membahayakan, jika kita jajan sembarangan atau kurang menjaga kesehatan,”jelasnya.

Dari sisi penokohan wayang, tak jauh beda dengan tokoh punokawan yang dibawakan oleh Walisongo. Ada semar, gareng, petruk, dan bagong. Bedanya ada tokoh wayang berbentuk bakteri, serta wayang yang menggambarkan penjual cilok dan tidak menggunakan media wayang kulit, melainkan wayang kertas dengan gambar yang hampir mirip dengan kartun.

Baca juga:  Juru Masaknya Chef Hotel, Warga bisa Makan Gratis

“Wayang yang saya gunakan, saya buat dari kertas. Tidak memakai wayang kulit, bentuk wayangnya juga dibuat lebih lucu hampir mirip kartun,” tuturnya.

Untuk lakon yang dimainkan, menggunakan Punokawan yang jajan sembarang setelah pulang sekolah atau kuliah. Tokoh petruk dan gareng, sebelum makan mencuci tangannya terlebih dahulu, sementara Bagong langsung makan tanpa mencuci tangan atau menjaga kebersihan.

“Setelah makan, bagong sakit perut dan mengganggu kegiatan sekolah. Setelah dicek ternyata tangan bagong tercemar bakteri e-coli. Itu terjadi karena dia mau mencuci tangan sebelum makan,” bebernya.

Shifa mengaku sengaja membuat lakon atau jalan cerita sederhana mungkin. Tujuannya adalah agar mudah dicerna dan dimengerti oleh masyarakat serta anak-anak kecil. Meski hanya dipentaskan, di KKN dan lingkup kampus, ia berharap usaha yang dilakukan bisa menggugah masyarakat untuk menjaga kebersihan tangan dan makanan.
“Harapannya agar masyarakat bisa melakukan gaya hidup sehat salah satunya dengan cuci tangan dan cara memilih makanan,” katanya.

Baca juga:  10 Bulan Latihan, Gisma Upgris Juarai Jakarta World Choir Festival

Rektor UPGRIS Dr Muhdi mengatakan, pihaknya terus memberikan wadah bagi mahasiswanya untuk berkarya maupun berinovasi, terutama untuk pembelajaran di sekolah.” Perlu dipahami bahwa calon guru di masa depan harus terus berinovasi dalam pemberian materi pembelajaran yang menyenangkan sekaligus edukatif,” ujarnya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya