alexametrics

Tiga Siswi SMAN 1 Ungaran Sulap Puntung Rokok Hasilkan Energi Listrik

Habis Rp 200 Ribu, Siap Ikuti Lomba di Korea Selatan

Artikel Lain

Indonesia termasuk penyumbang limbah puntung rokok terbesar di dunia. Tidak heran jika banyak sekali puntung rokok sisa isapan orang berserakan di mana-mana. Namun siapa sangka ternyata puntung rokok yang dibuang bisa dimanfaatkan menjadi sumber energi listrik. Seperti apa?

MARIA NOVENA- ISNA LETIDIA PUTRI, RADARSEMARANG.ID

SELAMA ini, puntung rokok menjadi limbah tak berguna. Setelah rokok habis diisap, puntungnya dibuang di sembarang tempat. Padahal satu puntung rokok yang dibuang diketahui memiliki zat berbahaya yang bisa membunuh lima ikan kecil dan mencemari 200 liter air. Belum lagi, filter rokok juga sulit terurai. Tidak heran jika banyak aktivis lingkungan berteriak terkait limbah rokok yang menimbulkan pencemaran.

Prihatin dengan banyaknya limbah puntung rokok di mana-mana, tiga siswi SMA Negeri 1 Ungaran, Kabupaten Semarang berinovasi dengan memanfaatkan limbah ini sebagai pengantar untuk menghasilkan energi listrik.

Ketiga siswi inovatif itu adalah Dheana Zahrani Nareswari, Nafisah Amalia, dan Yumna Dzakirah. Bahkan berkat temuannya itu, ketiganya akan mewakili Indonesia dalam ajang International Science Fair in Korea (ISFK) 2019 yang dihelat di Daejeon, Korea Selatan pada 17 hingga 22 Oktober 2019 mendatang.

Sebelum lolos ke Korea Selatan, karya ketiganya menjuarai Youth National Science Fair (YNSF) di Bandung kategori Fisika pada 10-12 Mei 2019 lalu. Dari situlah kemudian mereka lanjut ke ajang ISFK 2019.

Menurut Nafisah Amalia, ide memanfaatkan limbah rokok sebagai energi alternatif itu muncul saat melihat di lingkungan rumahnya yang banyak sekali puntung rokok berserakan. Ia lalu mencoba mencari tahu zat yang terkandung di dalamnya.

Baca juga:  Komunitas Harapan Bangkit Lagi, Didik Anak Kampung Sumeneban dan Anak Jalanan Pasar Johar

“Resah aja, di mana-mana ada puntung rokok. Lalu saya cari tahu, ternyata filter rokok itu tidak bisa terurai. Saya lalu coba-coba melakukan pengujian dan penelitian puntung rokok,” ceritanya sambil menunjukkan ribuan puntung rokok yang dikumpulkan.

Bersama dua temannya dan di bawah bimbingan guru fisika SMAN 1 Ungaran Drs R Hari Murti HP MEng, Nafisah pun mulai melakukan sejumlah uji coba. Prototype panel surya berelemen puntung rokok yang diaplikasikan di dinding atau rooftop pun dapat berhasil mereka buat.

“Untuk bahan-bahannya kami menggunakan puntung rokok, karbon armorf, semen, air, cermin, kabel, bubuk plastik, lapisan seng, dan silikon untuk lem. Jadi, nanti puntung rokok itu berguna sebagai penyerap panas matahari. Cermin juga berfungsi sebagai pemantul panas matahari, sehingga panas dari matahari dapat terperangkap di dalam,” jelas Dheana Zahrani Nareswari.

Nafisah menjelaskan, dalam pembuatan alat ini, di lapisan bawah terdiri atas semen, karbon armorf, bubuk plastik, dan lapisan seng. Pembatas bahan ini adalah cermin.  “Selanjutnya lapisan puntung rokok yang berfungsi untuk menyerap panas dari lapisan atas yang terkena sinar matahari,” terangnya.

Sedangkan untuk lapisan paling atas adalah semen dan karbon armorf.  “Semen sebagai bahan utama karena akan diaplikasikan ke tembok. Sementara karbon armorf sebagai pengganti pasir dan bahan yang lebih menyerap panas daripada tembok biasanya,” paparnya.

Baca juga:  Usung Materi Bank Syariah, Bersaing dengan Doktor dan Profesor

Dikatakan, biaya untuk pembuatan prototype ini relatif murah, tak lebih dari Rp 200 ribu. Dari percobaan yang dilakukan, untuk tembok berukuran 50×50 cm dengan berat 8 kg bisa mengalirkan listrik 0,8 volt. Semakin besar bidang tembok yang dibuat, maka semakin besar pula aliran listrik yang dihasilkan. Setelah panas terserap, selanjutnya bisa disalurkan.

“Tembok ini dijemur dulu untuk menyerap panas, waktu paling baik antara pukul 10.00 hingga 13.00 karena suhu sedang panas-panasnya. Suhu semakin tinggi, semakin tinggi pula tegangan listrik yang dihasilkan,” ungkap Yumna Dzakirah.

Yumna juga mengatakan penelitian tersebut dilakukan dengan alasan Indonesia merupakan negara tropis. Panas matahari merupakan kunci utama untuk keberhasilan penelitian tersebut. “Namun di penelitian ini, kami masih menggunakan thermoelectric generator yang mengubah suhu menjadi listrik sebagai alat bantu,” tambahnya.

Guru pembimbing Hari Murti  menambahkan, pembuatan alat tersebut memakan waktu sekitar 10 bulan. Awalnya, mereka tidak memilih untuk membuat alat penghasil listrik yang berbahan baku puntung rokok, justru membuat alat radar untuk mendeteksi kebakaran hutan.

“Kami mengalami banyak hambatan, prosesnya sangat rumit, padahal waktu lomba untuk seleksi yang diselenggarakan di Bandung sudah mepet. Akhirnya, diubah melakukan penelitian berbahan puntung rokok ini,” bebernya.

Dari penelitian ini, ketiganya masih terus melakukan uji coba. Jika memang alat tersebut bisa layak dan bermanfaat kemungkinan besar akan menjadi barometer pemanfaatan limbah puntung rokok sebagai sumber energi listrik alternatif.

Baca juga:  Beri Materi Kuliah sambil Momong Anak

Diakui, menyatukan tiga kepala menjadi salah satu masalah yang kerap dihadapi anak didiknya. Sebagai pembimbing, ia harus membantu menyelesaikan permasalahan beda pendapat yang dihadapi. Ia juga mengungkapkan bahwa kemampuan ketiga siswinya itu sudah melewati materi yang diajarkan di sekolah.

“Mereka sudah menggunakan berbagai teori untuk membuat prototype ini. Salah satunya penggunaan cermin sebagai bentuk implementasi teori efek rumah kaca,” paparnya.

Kendala lain yang dihadapi trio peneliti muda ini adalah manajemen waktu. “Kami harus membagi waktu sekolah, berorganisasi, dan juga waktu untuk diskusi. Biasanya kami menggunakan jam istirahat dan pulang sekolah untuk diskusi lomba ini. Kalau weekend, khusus untuk kumpul keluarga,” ujar Yumna.

Hari Murti selaku pembina menambahkan bahwa sekolah memberikan keringanan kepada mereka untuk dapat izin tidak full mengikuti pelajaran. “Ini bentuk support sekolah agar anak-anak bisa fokus pada ajang internasional ini. Selain menyiapkan materi, anak-anak paling stay di laboratorium fisika ini,” katanya.

Meskipun ini ajang internasional pertama, Nafisah, Yumna, dan Dheana tetap optimistis bakal juara. “Optimistis! Harus! Saya sudah siapkan bendera Indonesia,” tandas Hari penuh semangat.

Ketiga siswi XI MIPA ini pun mengaku optimistis, tapi tetap siap untuk kemungkinan terburuk. “Yah, optimistislah, tapi tetap netral juga. Jadi, misalnya tidak menang ya tidak akan kecewa. Kan tidak berhenti di sini perjuangannya,” ujar Yumna diamini Nafisah. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya