alexametrics

Masuk ke Sistem Pemerintahan untuk Majukan Dunia Olahraga

Wahyu ‘Liluk’ Winarto, Dari General Manager PSIS, Kini Wakil Ketua DPRD Kota Semarang

Artikel Lain

Tidak memiliki background sebagai politisi, Wahyu Winarto terpilih menjadi anggota DPRD Kota Semarang. Bahkan, posisinya kini menjadi salah satu wakil ketua. Ia membawa misi bagaimana memajukan dunia olahraga di Kota Semarang.

EKO WAHYU BUDIYANTO, RADARSEMARANG.ID

PERJALANAN karir setiap orang memang tidak ada yang bisa menebak. Seperti yang dialami Wahyu Winarto atau akrab disapa Liluk. Sebelum menduduki jabatan prestisius sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Semarang periode 2019-2024, Liluk dikenal oleh para pecinta sepak bola sebagai General Manager PSIS Semarang. Ya, Liluk memang sudah lama mengelola tim sepakbola kebanggaan warga Semarang tersebut bersama Yoyok Sukawi.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Liluk menceritakan lika-liku hidupnya. Dimulai pada 2004, Liluk mulai aktif dalam kepengurusan PSIS Semarang. Kala itu, ia memang dekat dengan pimpinan PSIS, Yoyok Sukawi.

“Saya sendiri terjun di politik sejak kepemimpinan Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip pada 2008. Sebelumnya saya hanya kontraktor di swasta, keluarga saya semua juga swasta di perdagangan,” jelas Liluk.

Saat terjun ke politik, ia bergabung ke Partai Demokrat. Kala itu, partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut memiliki basis massa yang sangat besar. Dari situlah dirinya juga aktif di organisasi kepartaian. Organisasi keolahragaan dan kepartaian akhirnya tersinergi saat PSIS Semarang mulai dipegang oleh Yoyok Sukawi. Apalagi Sukawi Sutarip juga menjadi Ketua DPD Partai Demokrat.

Baca juga:  Kota Magelang Bertarung di Tujuh Cabor Popda Jateng

“Dan kebetulan Mas Yoyok menjadi Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga,” ujar pria kelahiran Semarang, 15 November 1974 ini.

Singkat cerita, dirinya diminta oleh Yoyok untuk membantunya di bidang tersebut. “Karena Mas Yoyok berpikirnya saya mampu. Sebelumnya, karena saya dan Mas Yoyok sudah berkecimpung di sepak bola (PSIS), jadi mudah saja untuk berkomunikasi,” tuturnya.

Saat dirinya aktif tersebut memang belum tersirat di benaknya untuk mencalonkan diri maju dalam Pemilihan Legislatif (Pileg). Namun karena permintaan beberapa teman dan sahabat, akhirnya selang satu tahun yakni pada 2009, dirinya mau mencalonkan diri. Namun, lanjutnya, saat pencalonan tersebut memang ia niatkan untuk belajar. Artinya, dirinya hanya ingin mengerti bagaimana dinamika dalam Pileg.

Alhasil, dirinya tidak lolos di Pileg 2009. Karena sudah mengerti bagaimana dinamika di dalam Pileg. Namun pada Pileg 2014, ia belum mencalonkan diri lagi. Padahal jika ia mau mencalonkan diri berpeluang besar untuk lolos. Pasalnya, pada 2014 tersebut, dirinya sudah menjadi Ketua DPC Partai Demokrat Kota Semarang. Alasannya tidak mau mencalonkan diri memang masuk akal. Ia mengukur dirinya sendiri. Meski berpeluang lolos, namun belum tentu semudah yang dibayangkan. Maka pencalonan tersebut ia urungkan.

Baca juga:  Jadi Atlet Voli Profesional

“Kita harus mengukur diri sendiri dan melihat peluang,” tuturnya.

Akhirnya pada Pileg 2019, dirinya mencalonkan diri karena dorongan dari berbagai pihak. Selain itu, tentunya karena dirinya memiliki misi khusus. Di Pileg 2019, Liluk lolos ke kursi parlemen Kota Semarang. Bahkan berhasil mencatatkan namanya di kursi Pimpinan DPRD Kota Semarang sebagai Wakil Ketua.

Dikatakan Liluk, motivasinya menjadi anggota dewan yaitu untuk memajukan olahraga, khususnya sepak bola.

“Karena saya background-nya olahraga. Jadi, olahraga itu kita tidak hanya di luar saja, namun berjuang juga harus masuk ke sistem pemerintahan,” ujarnya.

Masuknya Liluk ke sistem pemerintahan, membuat dirinya bisa memberikan jalan atau solusi terkait perkembangan olahraga.  “Jadi, saya berangkat dari keprihatinan, karena belum adanya perhatian khusus terhadap olahraga, khususnya sepak bola. Sehingga saya masuk ke dewan,” ujarnya.

Liluk berharap, setelah masuk ke sistem pemerintahan, ia bisa menjadi pendorong untuk berbuat lebih banyak dalam memajukan olahraga.  “Lebih spesifiknya, paling tidak bisa memberikan masukan kepada pemerintah terkait dengan kekurangan perhatiannya. Baik itu dari sisi anggaran dan fasilitas,” kata suami dari Yuni Artati ini.

Baca juga:  Ikuti Duathlon, Raih Juara II

Meski begitu, lanjutnya, sekarang sudah ada perhatian untuk dunia olahraga dari pemerintah. Seperti halnya pembangunan beberapa sport centre di setiap kecamatan. Namun, lanjutnya, hal itu perlu ditingkatkan lagi. Kebutuhan masyarakat akan olahraga, menurutnya, sangat besar. Apalagi sepak bola, di mana pecinta olahraga ini sekarang sudah semakin banyak.

“Programnya kita nanti akan audiensi di organisasi keolahragaan. Bagaimana memajukan olahraga di Kota Semarang. Bukan hanya melalui penganggaran, namun juga dengan komunikasi dengan baik,” ujarnya.

Sebenarnya, sebelum seperti sekarang, pada 2017 lalu, dirinya memang sudah berkomunikasi intensif dengan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Ia ‘sregep’ memberi masukan kepada pimpinan daerah. Salah satunya, pembangunan Stadion Citarum.

Menurutnya, dengan intensitas penggunaan Stadion Citarum yang tinggi harus dibarengi dengan pemberian fasilitas yang mumpuni pula. “Supaya fasilitasnya bisa lebih bagus, karena kita melihat satu sisi Stadion Citarum itu kan intensitas pemakaiannya luar biasa,” paparnya.

Usulannya kala itu adalah penggunaan rumput sintetis. Sehingga bagi masyarakat yang hendak menggunakannya untuk aktivitas olahraga menjadi lebih nyaman. “Alhamdulillah Pak Wali Kota merespon. Saya melihat tahun ini sudah ada pembangunan untuk itu,” katanya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya