Kemasi Kopi Asal Desanya, Usung Brand Kopi Kampoeng

Muhammad Azharudin Maulana Lutfi, Mahasiswa Udinus yang Menekuni Bisnis Kopi

432
BISNIS KOPI: Muhammad Azharudin Maulana Lutfi dan Kopi Kampoeng, produknya yang berasal dari kampung halaman.(DOKUMEN PRIBADI)
BISNIS KOPI: Muhammad Azharudin Maulana Lutfi dan Kopi Kampoeng, produknya yang berasal dari kampung halaman.(DOKUMEN PRIBADI)

Kopi minuman yang banyak digandrungi masyarakat negeri ini. Kafe-kafe pun tumbuh subur. Jenis kopi juga beragam. Ini dibaca oleh Muhammad Azharudin Maulana Lutfi sebagai peluang bisnis. Mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) ini pun menekuni usaha kopi di sela kuliah.

ARIZAL MUHAMMAD V, RADARSEMARANG.ID

KOPI Kampoeng, begitu nama brand yang diusung Muhammad Azharudin Maulana Lutfi. Pria yang biasa dipanggil Aan ini merintis usaha kopi seorang diri. Ia mengambil kopi asli dari desa kelahirannya, yakni Desa Jrahi, Gunungwungkal, Pati. Ia mengambil langsung dari tangan pertama produsen kopi di desanya.

“Stok kopi di desa saya banyak dan mudah didapatkan. Saya pun terinpirasi untuk membawanya ke Semarang. Karena sekarang kopi adalah minuman yang paling disukai masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pria berperawakan kurus ini kebetulan memiliki perkebunan kopi di desanya. Dari situ timbul pemikiran untuk merintis usaha kopi kemasan asli dari desanya. Selain itu, Aan juga mengklaim jika kopi dari desanya memiliki cita rasa yang berbeda dibanding jenis kopi lainnya.

“Kopi dari desa saya diolah secara tradisional. Sekarang kan mulai jarang ditemui kopi yang diolah secara tradisional. Ini akan memberi cita rasa tersendiri dibanding kopi lain yang diolah secara modern,” klaimnya.

Untuk menarik konsumen, Aan pun membuat kemasan kopi dengan label Kopi Kampoeng. Ia memilih menggunakan nama brand itu lantaran kopi yang dijual berasal dari pedesaan atau bisa dibilang dari kampung halamannya sendiri. “Makanya saya beri nama Kopi Kampoeng,” jelasnya.

Kopi Kampoeng menggunakan kopi jenis robusta dengan dua varian, yaitu kopi hitam dan kopi plus jahe (koje). Aan membuat kemasan seberat 65 gram seharga Rp 7.500. Usaha yang dirintis sejak 27 April 2019 ini sudah membukukan omzet yang lumayan untuk sekelas mahasiswa.

Untuk mempromosikan produk kopinya, Aan menggunakan media sosial. Yakni, Facebook, WhatsApp dan Instagram. Jaringan pertemanan secara langsung juga menjadi media promosinya. “Saya pakai sistem getok tular alias dari mulut ke mulut,” ucapnya.
Tak hanya mahasiswa dan masyarakat umum, Dosen Udinus juga jadi sasaran penjualannya. Ia memberi bonus satu kopi gratis pada salah satu dosen di fakultasnya untuk perihal promosi.

“Saya ingin mengembangkan potensi desa saya, yaitu dalam bidang kopi. Karena saya tahu potensi kopi di desa saya sangat besar. Karena desa saya terletak di lereng Gunung Muria, sehingga dapat menghasilkan kopi yang berkualitas,” katanya.

Dalam menekuni usaha, Aan tak akan pernah lepas dari apa yang namanya cobaan. Ia kerap kali diremehkan orang lain dan dipandang usaha kopi yang dirintisnya tidak menghasilkan apa-apa. Namun Aan tidak patah arang. Ia tetap optimistis dengan usahanya itu. Karena dia pikir tidak ada gunanya mendengarkan perkataan orang yang tidak membangun.

Aan juga sering mengikuti pameran-pameran untuk mengenalkan produknya ke masyarakat luas. Seperti pada 28-29 September 2019 lalu, Aan mengikuti festival kopi Kota Pati yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Pati. Aan membangun usahanya sedikit demi sedikit untuk membuat produknya semakin dikenal masyarakat. Di sisi lain, Aan juga sering memberikan promo, misalnya beli dua gratis satu dan lainnya.

Kepada mahasiswa lainnya, Aan mengatakan meski masih kuliah, tidak ada salahnya mencoba usaha kecil-kecilan. Karena dari usaha kecil-kecilan kalau dijalani dengan serius dan strategi yang tepat, bisa jadi akan menjadi bisnis yang besar. “Cobalah hal-hal baru yang bersifat positif di sekitarmu, carilah pengalaman dan hargailah waktu. Time is money,”pesannya bijak. (*/aro)