alexametrics

Dua Kali Gagal Daftar Polisi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Dirresnarkoba Polda Jateng, Kombes Pol Wachyono tergolong seorang laki-laki yang tidak patah semangat. Cita-citanya sebagai seorang polisi sangat tinggi. Wachyono diterima sebagai anggota Polri setelah mendaftar yang ketiga kalinya, tahun 1983, usai lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) di Batang, tahun 1981.

“Lulus SMA kemudian daftar Akabri, kalau sekarang Akpol. Daftar tahun pertama gagal terus daftar kuliah IKIP D2 guru olahraga. Daftar tahun kedua gagal lagi, terus tahun yang ketiga diterima,” ungkapnya.

Pada saat diterima sebagai taruna Akpol, Wahcyono juga telah rampung dalam menyelesaikan kuliahnya di salah satu perguruan tinggi yang ada di Sampangan Kota Semarang. Awalnya ia sempat bimbang untuk mengambil salah satu keputusan tersebut.

“Saya dapat panggilan ke Magelang, ya di situ saya bingung, mau jadi guru atau jadi polisi. Akhirnya saya berangkat ke Magelang ikut tes tingkat pusat lulus. Akhirnya tidak jadi guru jadilah polisi. Padahal SKep saya sudah turun ngajar olahraga di SMP di daerah Batang,” bebernya.

Wachyono dilahirkan di Purwodadi Grobogan 17 Januari 1962, dari keluarga Polri yang sederhana. Semasa kecil tinggal bersama orangtuanya yang bertugas di wilayah Kabupaten Grobogan. Pada 1975, ia melanjutkan sekolah SMP ke Batang, tempat asal orangtuanya.

Baca juga:  Seperti Ini Kiprah Komunitas Sulbi yang Mengedukasi Anak Disabilitas

“Setelah SMA di Batang itu saya cari kuliah yang murah, SPP nya Rp 35 ribu. Karena adik-adik saya masih perlu biaya. Kos saja yang sebulan Rp 6 ribu, tidur hanya pakai tikar dan bantal. Kalau pakai kasur tidak boleh segitu. Sebulan dijatah Rp 20 ribu,” kenangnya.

Setelah menempuh pendidikan di Akpol selama 4 tahun dan lulus 1987, ia kemudian ditempatkan di Pama Polda Jateng. Kemudian pindah ke Pamapta (sekarang SPKT) di Polres Magelang. Setelah itu naik menjabat sebagai Kapolsek Candimulyo, di Magelang, tahun 1988.

“Itu tempatnya di pelosok belum ada listrik, masih mesin ketik, belum ada komputer. Tapi kamtibmas tidak rawan, masyarakat pekerjaannya ambil aren dari kelapa. Paling kasus orang jatuh dari pohon kelapa, kalau kasus kriminal rendah,” katanya.

Wachyono juga sekolah Reserse selama 6 bulan di tahun 1989. Setelah itu berpindah tugas sebagai Panit 1 Reserse Ekonomi Ditserse Polda Jateng. Kemudian ia dapat penugasan selama setahun menjadi Komandan Satuan Setingkat Kompi (Dan SSK) memimpin kompi Brimob, Aceh Timur pada tahun 1990 an. Menurutnya, pada masa itu, masih ramai-ramainya Gerakan Aceh Merdeka.

Baca juga:  Tidur lebih Tertata, Rajin Olahraga dan Tak Lupa Menyanyi

Setelah bertugas di Aceh, ia kembali ke Polda Jateng dan menjabat sebagai Kapolsek Tegal Barat, kurang lebih selama 2 tahun. Tidak lama, Wachyono mendapat tugas ditempat baru di NTT sebagai Kabag Narkotik. “Di sana memang susah, gersang. Mandi harus beli air. Kandungan kapurnya kental sekali, kalau ngrebus air kita saring sampai tiga kali,” katanya.

Wachyono juga pernah menjabat Wakapolres Sumba Barat, setelah itu langsung ke Kabag Diklat. Tahun 2002 Kemudian betugas sebagai penyidik Tipiter Direktorat Reserse Polda Jatim. Setelah itu pindah ke SPN Mojokerto jadi Gadig Madya, atau dosen 2002. Setelah dari SPN mengikuti Sespim tahun 2004 dan kemudian penempatan di Polda Papua 2005 sebagai Kasubdit 2 Ekonomi.

“Setelah itu Kapolres Fakfak kalau sekarang Papua Barat selama dua tahunan. Baru Kepala Sekolah Polisi (KSPN) hanya pelatihan-pelatihan saja tahun 2009. Setelah itu menjadi Kabid Humas di Papua tahun 2010. Kemudian Direskrimum Polda Papua,” bebernya.

Baca juga:  Di Lapangan Strong, Sehari-hari Tetap Feminin

Selama sudah tujuh tahun di Papua, Wachyono yang juga penggemar kopi ini kemudian pindah ke Mabes Polri sebagai Wasidik tahun 2012. Setelah 2 tahun di Mabes kemudian ke Akpol selama 4 tahun sebagai pengajar. Kemudian setelah itu ke Polda Jateng menajabat Dirresnarkoba.

“Sejak saya lulus Akpol tahun 1987, perjalanan sudah ke mana-mana, semua sudah diatur sama tuhan. Saya lebih dekat dengan anak buah daripada pimpinan,” katanya.

Saat ini, Wachyono telah dikaruniai tiga orang anak dari pernikahan dengan istrinya tercinta Nuarini, perempuan kelahiran Magelang. Sekarang ini ia juga masih menuntut ilmu akademik S3 Hukum di Kampus Universitas 17 Agustus 1945 Semarang. Sebentar lagi, Wachyono akan purnatugas pada tahun 2020.

“Yang penting setelah purnatugas itu harus ada kegiatan yang positif. Otak harus tetap digunakan. Kalau lulus S3 ya menjadi dosen, melanjutkan cita cita guru, cita-cita saya yang dulu,” ujarpria yang tinggal di Kecamatan Gajahmungkur ini. (m.hariyanto/ton)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya