alexametrics

Dari Buruh Pabrik ke Kursi Parlemen

Lebih Dekat dengan Mualim, Wakil Ketua DPRD Kota Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kisah hidup Mualim penuh liku. Ia pernah menjadi seorang buruh pabrik. Namun kini hidupnya berubah total. Ia mendapat amanah sebagai wakil rakyat. Bahkan kini menduduki jabatan sebagai Wakil Ketua  DPRD Kota Semarang.

EKO WAHYU BUDIYANTO, RADARSEMARANG.ID

NASIB orang memang tidak ada yang tahu. Hari ini sebagai bawahan, besok bisa jadi berubah menjadi seorang pejabat. Setidaknya, itulah yang dialami Mualim. Pria yang dulunya merupakan buruh parbrik ini, kini bertransformasi menjadi wakil rakyat di kursi parlemen Kota Semarang. Duduk sebagai anggota dewan memang tidak pernah terbesit di benak Mualim. Wakil Ketua DPRD Kota Semarang ini ternyata sebelumnya merupakan seorang buruh pabrik.

Tidak banyak yang tahu akan hal itu. Ketika ditemui di ruang kerjanya, ia menceritakan bagaimana awal perjuangannya hingga sampai duduk di kursi parlemen Kota Semarang. Mualim yang lahir di Kabupaten Boyolali ini kali pertama bekerja di Kota Semarang pada 2005. Saat itu, ia diterima di sebuah perusahaan asing yang bergerak di produk elektronik. Karirnya terbilang cukup cepat melesat. Karena kegigihannya dalam bekerja, ia kemudian diangkat menjadi Kepala Bagian Produksi di perusahaan asing tersebut.

Baca juga:  Aditya Ken Umara Kesuma Wati, Siswi SMAN 1 Ngluwar Magelang yang Jago Nyinden

“Ternyata perusahaan itu memiliki kongsi dengan perusahaan lokal. Kemudian saya diminta untuk posisi Manager HRD, jadi rangkap jabatan di dua perusahaan,” kata Mualim.

Mulai menjadi Manager HRD itulah dirinya mulai mempelajari bagaimana mengatur ribuan orang karyawan perusahaan. Dari situlah dirinya kemudian diminta oleh pemilik perusahaan untuk terjun ke dunia politik. Awalnya, pada 2010 orang kepercayaan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subiyanto datang ke pabrik tersebut. Dirinya lalu diminta untuk bergabung dengan Partai Gerindra.

Singkat cerita, dirinya akhirnya aktif menjadi seorang relawan Partai Gerindra untuk Prabowo Subiyanto. “Saya aktif saja, dan memang tidak terbesit untuk maju ke kursi dewan saat itu,” ujarnya.

Karena pintar dalam membagi waktu, pekerjaannya di perusahaan asing dan aktivitasnya sebagai relawan partai tidak pernah terganggu. “Saya juga menjadi penasehat di DPC Partai Gerindra kala itu,” tuturnya.

Karena loyalitasnya, dirinya kemudian diminta oleh Partai Gerindra dan pemilik perusahaan untuk maju sebagai calon anggota legislatif pada 2014. Namun saat itu, istrinya belum menyetujui apabila dirinya maju sebagai calon anggota dewan.  Karena upaya pemilik perusahaan untuk membujuk keluarganya berhasil, akhirnya istrinyapun menyetujui dirinya maju sebagai calon anggota legislatif. “Karena belum afdol, saya pulang ke Boyolali untuk meminta restu dan izin ibu saya. Alhamdulillah, ibu saya mengizinkan. Katanya saya masih memiliki trah sebagai pemimpin, jadi saya mantab saja hatinya,” tuturnya.

Baca juga:  Ajak Warga Kendal Menabung Sampah, Punya 500 Nasabah, Gandeng Sekolah dan Ponpes

Di Pemilihan Legislatif (Pileg) pertamanya, ia lolos dan melenggang ke parlemen Kota Semarang. Meski dalam perjalanannya memang tidak semulus yang dipikirkannya. Ia berhasil mengalahkan calon incumbent lain yang namanya sudah moncer di dapilnya, yaitu Dapil 6. Ditambahkan, dirinya saat maju sebagai calon anggota dewan kali pertama mengaku tidak memiliki apa-apa. “Karena pada dasarnya saya kan hanya buruh pabrik, jadi soal perekonomian juga pas-pas-an,” tuturnya.

Ilmu mengelola massa dari pabrik itulah yang hanya ia miliki sebagai modal kampanye pertama. Terbukti, dirinya melenggang  sebagai Wakil Kota Semarang pada 2014. “Sebenarnya saya tidak ada cita-cita sedikitpun untuk menjadi seorang anggota dewan,” katanya.

Baca juga:  Dua Kali Gagal Daftar Polisi

Bahkan ketika awal ia maju sebagai calon anggota dewan, tidak memiliki tim pemenangan. “Saat itu, saya yang masih bekerja sebagai buruh pabrik hanya meminta dukungan suara dari buruh pabrik di pabrik tempat saya bekerja saja,” tuturnya.

Karena berawal dari seorang buruh, dirinya juga memiliki misi menyejahterakan kaum buruh. Suara yang ia peroleh di Pileg pertama bukan main-main sebanyak 4.000. “Di dalam perjalanan menjadi dewan pertama kali saya juga terus menjalin komunikasi dengan teman-teman sesama buruh dan itu saya lakukan sampai sekarang,” katanya.

Hal serupa juga dilakukan di Pileg 2019 yang juga mengantarkan dirinya duduk kembali di kursi dewan dan membawanya menjadi Wakil Ketua DPRD Kota Semarang dari Partai Gerindra. “Alhamdulillah di 2019, meski banyak kompetitor, saya masih bisa terpilih kembali. Dengan suara terbanyak untuk caleg Partai Gerindra sebanyak 6.299 suara,” ujarnya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya