alexametrics

Tambahkan Kaki dan Tabung untuk Diisi Pupuk dan Pestisida

Tim Universitas Diponegoro Kembangkan Drone untuk Bantu Pertanian dan Perkebunan

Artikel Lain

Drone atau pesawat tanpa awak biasa dijumpai untuk fotografi dan videografi. Namun di tangan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip), drone menjadi alat bantu petani di sawah.
MARIA NOVENA, RADARSEMARANG.ID

Di tangan anak-anak muda terampil, hasil inovasi ini dapat digunakan untuk membantu masyarakat. Melihat dari sebagian besar mata pencaharian orang Indonesia merupakan petani, Tim Riset Pengembangan dan Penerapan (RPP) mengembangkan drone pertanian untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyemprotan pupuk dan pestisida. Tujuh anggota tim dan salah satu anggota RPP Undip, Yogi Reza Ramadhan mengungkapkan ide awal pembuatan drone pengangkut pupuk ini untuk membantu petani di sawah maupun kebun. Peluang untuk drone pertanian di Indonesia masih besar.

Menurutnya, saat ini jumlah tenaga kerja sektor pertanian sudah semakin sedikit. Karena generasi muda lebih menyukai bekerja di kota besar. Bahkan banyak yang belum mengenal macam-macam drone yang bisa digunakan tidak berpusat pada kameranya saja.

Baca juga:  Semprot Pupuk Cair dengan Drone

“Saya melihat peluang pertanian untuk pengembangan alat bantu sangat besar. Kita tahu pemilik sawah hingga perkebunan yang hitungannya hektare kebanyakan dimiliki oleh sektor swasta. Kami menciptakan alat ini memang akan menyasar ke sana, perkebunan teh atau karet yang jika dilakukan manusia untuk penyemprotan pestisida pasti membutuhkan waktu berminggu-minggu,”ceritanya usai ujicoba drone di kampus Undip, Tembalang, Semarang, Rabu (18/9) lalu.

Kajian yang dilakukan sudah sejak awal 2019. Jika dilihat sepintas, drone yang digunakan tak jauh berbeda dibanding drone pada umumnya. Hanya saja, di bagian bawah drone dibuat penambahan kaki dan tabung yang diisi pupuk bagi pertanian dan perkebuan. Drone pengangkut pupuk pertanian ini sudah beberapa kali diujicobakan di lahan-lahan pertanian dan perkebunan di sekitar Undip, Tembalang. Hasilnya, drone ini mampu mengangkut lima liter pupuk, dapat terbang di ketinggian hingga 20 meter, dan dapat memupuk lahan pertanian dan perkebunan seluas 8 hektare.

Baca juga:  Peserta Terkecil, Berjuang Demi Bertemu Ibu di Singapura

“Kami bekerja sama dengan Fakultas Perternakan dan Pertanian untuk mengetahui biasanya ada kendala ketika apa? Yang membuang waktu memang pada pemberian pestisida. Jika dilakukan manual membutuhkan waktu dua hari untuk kebun seluas satu hektare. Namun jika menggunakan drone ini tidak hanya bisa sebagai alat dokumentasi penyemprotan, tapi bisa dilakukan satu kali perjalanan,”tambahnya sambil menunjukkan drone yang menggunakan teknologi mounting sprayer ini.

Pembuatan drone oleh mahasiswa Teknik Undip ini bisa sesuai keinginan. Sasaran utamanya pada petani desa. Diharapkan para petani lebih untung karena mengurangi biaya pengeluaran pastisida yang terbuang jika dilakukan manual. Harga yang dibandrol untuk satu drone pun dipastikan tim RPP di bawah pasaran, dengan kualitas yang serupa dengan barang luar negeri.

Baca juga:  Dulu Produksi 2 Karung Tepung, Sekarang Tinggal 15 Kilogram

“Sebenarnya drone pertanian ini sudah ada di luar negeri, dengan harga Rp 150 jutaan itu yang hanya muat 3 liter saja. Kalau untuk drone buatan kami harga akan jauh dari pasaran, separonya lebih, di angka Rp 40 juta untuk kapasitas 5 liter,”ungkapnya.
Ketua Tim RPP Undip Bagus Herwibawa menambahkan, pihaknya saat ini memamerkan drone ini ke sejumlah pihak. Misalnya, PTPN IX, Sinar Mas yang memiliki lahan tanah besar.

“Kami mendapatkan apresiasi dan secepatnya kami diberi ruang untuk mengaplikasikan drone pengangkut pupuk ini di lahan-lahan perkebunan milik mereka. Kita akan fokus pada jasa. Jasa untuk pemeliharaan perkebunan atau sawah dengan alat drone ini terlebih dahulu sambil mengenalkan produk ini,”katanya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya