Di saat Sakit Stroke, Gagasan dan Ide Seninya tetap Bergejolak

Djawahir Muhammad, Budayawan Penerima Anugerah Jawa Pos Radar Semarang

364
SANGAT BERKESAN: Budayawan Semarang Djawahir Muhammad saat menerima Anugerah Jawa Pos Radar Semarang, Senin (9/9).(NUR CHAMIM/RADARSEMARANG.ID)
SANGAT BERKESAN: Budayawan Semarang Djawahir Muhammad saat menerima Anugerah Jawa Pos Radar Semarang, Senin (9/9).(NUR CHAMIM/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, Jawa Pos Radar Semarang menganugerahkan Lifetime Achievment kepada budayawan Djawahir Muhammad. Penghargaan ini sebagai tanda terima kasih atas perhatian dan dedikasinya terhadap dunia seni dan budaya Kota Semarang.

DEWI AKMALAH, RADARSEMARANG.ID

SOSOKNYA terkesan rapuh. Dengan didorong istri dan keluarganya, Djawahir Muhammad yang duduk di kursi roda mulai memasuki Gedung Rama Shinta Patra Semarang Hotel & Convention, tempat digelar Anugerah Jawa Pos Radar Semarang, Senin (9/9) malam. Ia sempat menyalami dan melambaikan tangan kepada semua orang yang menyapanya. Meskipun tanpa bicara, dia merasa bahagia, menurut penuturan Hartini, istri tercintanya.

Bagi siapapun yang berkecimpung dalam kesenian Jawa Tengah khususnya Semarang, tidak akan asing dengan sosok Djawahir Muhammad. Tak terhitung karya yang telah ia ciptakan. Mulai dari puisi, syair, novel, buku, serta skenario pertunjukan. Bahkan beberapa kali dirinya turut serta dalam pementasan yang ia tulis sendiri. Menurutnya, seni adalah jiwanya. Karya adalah hidupnya. Dan selama ia hidup, ia akan terus berkarya.

“Bapak itu seniman sejati. Kalau sudah mulai menulis atau membuat skenario tidak ada sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian bapak. Bahkan sampai lupa waktu. Seringkali bertengkar cuma untuk mengingatkan makan yang tidak pernah digubris beliau. Biasa ngeyel sak-sik,” ujar Hartini sambil tertawa.

Namun semua drama keluhan lupa waktu kepada bapak dua anak ini harus berhenti dua tahun lalu. Tepat sehari sebelum ujian tertutup disertasi miliknya pada Desember 2017 lalu. Djawahir jatuh sakit dan divonis stroke. Secara otomatis semua dunianya runtuh. Raganya tak lagi mampu berjalan sesuai dengan pikirannya. Meski ide dan gagasan terus bergejolak, namun apa daya tubuhnya tak lagi bisa diajak bekerja sama. Untuk bergerak saja terbatas, apalagi menulis.

“Awalnya dulu tidak terima. Tiba-tiba tidak bisa menulis, tidak bisa berkarya, tidak bisa kumpul dengan seniman lainnya. Sempat stres karena ruang geraknya terbatas. Namun seiring waktu, bapak sudah menerima. Saya selalu memberikan penjelasan bahwa dengan sakit ini beliau harus istirahat dan menghabiskan masa tua dengan hidup bahagia bersama keluarga,” lanjutnya.

Meskipun sudah menerima kondisi yang dialami, bukan berarti perhatian Djawahir terhadap kesenian berakhir. Ia masih rajin menyaksikan pementasan dan obrolan seniman melalui layar kaca. Tak jarang di sela acara, meski  dengan terbata-bata dirinya bercerita mengenai pengalaman yang pernah dirasakan dulu. Dan dengan sabar, sang istri menjadi pendengar setia dan menanggapi segala ceritanya.

“Bapak masih mengikuti perkembangan kesenian melalui televisi. Kadang bercerita bagaimana saran dan pendapat beliau terkait obrolan yang ditayangkan. Meskipun hanya sanggup bercerita, saya sudah luar biasa bahagia. Sebab, hal tersebut menjadi salah satu cara terapi agar bapak tidak hilang ingatannya. Bahkan bapak masih sanggup mengenali semua yang ia pelajari dulu,” lanjut belahan jiwanya yang menemani 43 tahun lamanya ini.

Dan cerita lucu ia bagikan ketika sosok Djawahir dengan semangat membara tidak sabar datang ke acara malam Anugerah Jawa Pos Radar Semarang 2019. Sejak sehari sebelum pergelaran berlangsung, sang seniman meributi dirinya terkait baju, sepatu, dan segala kelengkapan yang akan ia kenakan nanti. Alhasil, tiga potong baju batik telah ia siapkan dan meminta pria 65 tahun ini untuk memilih.

“Saya sampai ditanya terus sama bapak, sudah disemir belum sepatunya? Baju sudah disiapkan apa belum? Waktu juga sudah diperhitungkan bapak. Berangkat harus jam segini. Agar tidak telat. Pokoknya, saya melihat bapak antusias sekali untuk datang. Anugerah ini berkesan dan akan diingat selalu oleh bapak,” lanjutnya.

Mengenai langkah ke depannya, dengan kondisi sekarang ini, Djawahir hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan keluarga. Hidup bahagia, menikmati masa tua, dan sesekali berbagi bercerita dengan seniman yang sering berkunjung ke rumahnya. Hidupnya sudah sempurna. Bersama dengan istri, kedua anak dan keempat cucunya, ia ingin merangkai cerita baru di masa pensiunnya.

Saatnya generasi muda, seniman baru melanjutkan perjuangannya. Dari jauh dirinya akan memantau mereka. Dan ia akan selalu membuka pintu selebar-lebarnya bagi yang meminta saran dan pengalaman darinya.

“Saat ini Alhamdulillah sudah berjalan sempurna. Bapak ingin menghabiskan waktu dengan keluarga. Beliau juga sudah menerima saatnya menyerahkan tonggak perjuangan bagi generasi muda. Namun bagi siapapun yang memerlukan ilmu dan pelajaraan dari beliau, pintu rumah akan selalu terbuka. Karena saya menyadari seni adalah jiwa bapak. Dan sampai kapanpun dedikasi beliau untuk dunia kesenian tidak akan pernah berakhir. Bahkan akan beliau bawa sampai akhir hayatnya,” pungkas sang istri disertai senyum tulus. (*/aro)