Tempat Ibadah Dibangun Berdekatan, Rutin Gelar Acara Keagamaan

258
KAMPUNG TOLERANSI: Kemeriahan serah terima jabatan Ketua RT 2 RW 2, Kelurahan Karangayu antara Ong Budiono dengan Supriono, dihadiri seluruh warga secara terbuka. Melongok Kampung Toleransi di Kenconowungu I, Karangayu. (JOKO SUSANTO/RADARSEMARANG.ID)
KAMPUNG TOLERANSI: Kemeriahan serah terima jabatan Ketua RT 2 RW 2, Kelurahan Karangayu antara Ong Budiono dengan Supriono, dihadiri seluruh warga secara terbuka. Melongok Kampung Toleransi di Kenconowungu I, Karangayu. (JOKO SUSANTO/RADARSEMARANG.ID)

Indonesia Mini memang layak disematkan di kampung Kenconowungu I, yang terletak di RT 2 RW 2, Kelurahan Karangayu, Semarang Barat, Kota Semarang. Sekalipun penduduknya tidak banyak hanya berisi sekitar 25 kepala keluarga (KK), namun penuh dengan kedamaian, kerukunan antar warga dan sikap saling hormat menghormati tumbuh subur di kampung tersebut. Seperti apa?

JOKO SUSANTO, RADARSEMARANG.ID

KAMPUNG tersebut bahkan selalu menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, yang memiliki makna Berbeda-beda tetapi tetap satu. Hal itu dibuktikan setiap acara keagamaan yang ada dikampung tersebut, selalu merayakan secara rutin tahunan dengan penuh kekeluargaan. Seperti imlek, halal bihalal, nyepi, natal dan tahun baru ditambah acara perlombaan memperingati hari kemerdekaan setiap 17 Agustus.
Keunikan lainnya, kampung dengan jumlah penduduk sekitar 150 jiwa itu dihuni warga dengan empat agama, yang semuanya tak pernah bergesekan. Diantaranya ada agama Islam, Kristen, Khonghucu dan Katolik. Dari suku juga beragam, ada yang Jawa, Tionghoa, Batak dan Sunda.

“Kampung kami merupakan Indonesia mini karena berbagai entis dan suku dari berbagai wilayah tinggal di kampung ini. Bahkan sekalipun beragam perbedaan disini sikap toleran dan hormat menghormati selalu terjaga,” kata sesepuh warga Kelurahan Karangayu, Ong Budiono kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Agenda-agenda tahunan itu, lanjutnya, sudah diterapkan sejak sepuluh tahun lalu. Tujuannya untuk mempererat tali silaturahmi dan menjaga toleransi antar warga. Apalagi, lanjutnya, dikampungnya terdiri beragam, suku, agama, RAS dan golongan.
Tak dipungkirinya, sekalipun warga sudah sangat guyub dan rukun cobaan tersebut memang pernah terjadi. Saat itu, tepat ketika masih menjabat Ketua RT 2, Ong, dilaporkan oleh warga pendatang asal Jakarta, Setiadi Hadinata, karena jabatannya dituduh melakukan pemerasan iuran RT.

Padahal iuran itu, telah disepakati oleh seluruh warga. Namun demikian atas musibah itu, akhirnya kebenaran berpihak padanya, yang akhirnya berakhir vonis bebas murni dari Pengadilan Negeri (PN) Semarang hingga Mahkamah Agung (MA), sekalipun sempat dikriminalisasi karena di masukkan dalam jeruji besi Mabes Polri selama 10 hari.

“Dulu pas kasus, warga berbondong-bondong ikut mengawal proses sidangnya, semua bersatu memberikan dukungan. Padahal kami beragam suku dan agama, dan semua mendoakan kebenaran,” kenangnya.

Disampaikannya, atas kasus itu ada hikmah yang bisa dipetik, salah satunya kebersamaan warga yang sudah teruji, kemudian semangat nasionalisme yang benar-benar harus diwujudkan dan semangat Pancasila yang harus dipegang teguh aparat penegak hukum.

“Akibat kasus hukum itu, tepat vonis bebas murninya 13 Juli dijadikan sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) Kampung Kenconowungu I. Hal itu sebagai tanda atas kebebasan dan kemerdekaan melawan hukum dimenangkan warga asli,” sebut Ong, yang sudah 16 tahun mengabdi sebagai Ketua RT 2 di kampung tersebut.

Tak hayal, julukan-julukan sebagai kampung toleransi dan kampung kebhinekaan rasanya memang layak disematkan. Pasalnya di kampung itu juga berdiri satu gereja, yang diberi nama gereja Isa Almasih, berdekatan dengan kelenteng tempat ibadah Khonghucu di kediaman Whie Ing dan Teguh, tak jauh dari kampung itu, juga ada masjid Nurul Huda. Dengan demikian, warga disana juga biasa mendengar ‎suara adzan, lonceng gereja hingga pengajian.

“Harapan saya, tetap pertahankan yang baik jadi kampung toleransi dan Kebhinekaan. Jaga terus kerukunan. Masyarakat harus maju jangan ada celah untuk kenakalan remaja, radikalisme dan permasalahan hukum terjadi lagi,” pesan Ong.

Ditambahkan, kunci keragaman itu menurutnya sangatlah sederhana yakni kekerabatan dan hidup rukun yang terus terjaga satu sama lain untuk menjaga perbedaan. “Acara keagamaan tetap rutin diadakan setiap tahun sekali, semua guyub disini. Selalu diadakan terpusat di kampung, kadang sesekali jalan-jalan bareng antar warga,” imbuhnya. (*/bas)