alexametrics

Gunakan Platform Digital, Ajak Lestarikan Hutan

Hario Laskito Ardi, Kampanye Cinta Lingkungan melalui Start-up Lindungi Hutan

Artikel Lain

Hario Laskito Ardi memanfaatkan perkembangan teknologi dengan membuat start-up gerakan cinta lingkungan. Ia membuat sebuah perusahaan start-up (rintisan) berbasis fintech bernama Lindungi Hutan. Seperti apa?

JOKO SUSANTO, RADARSEMARANG.ID

 

TAK BISA dipungkiri teknologi memberikan banyak kemudahan bagi para penggunanya. Ini juga dirasakan Hario Laskito Ardi. Alumnus Pascasarjana jurusan Sistem Informasi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini memanfaatkan perkembangan teknologi dengan membuat sebuah perusahaan startup  yang memanfaatkan teknologi dan pemberdayaan anak muda untuk mengembalikan kelestarian hutan melalui penanaman pohon. Ia merintis usaha tersebut bersama dua temannya, Chashif Syadzali dan Miftachur Robani, sejak 18 Desember 2016.

CEO Lindungi Hutan tersebut menjelaskan, ide start-up tersebut bermula dari ketertarikan terhadap dunia traveling dan eksplore lingkungan. Pria asal Kediri ini sempat terenyuh dengan permasalahan lingkungan, tepatnya saat dirinya melakukan perjalanan di Tanjung Mas, Semarang.

Ia merasa miris karena fenomena alam di wilayah itu justru banyak rumah terkena abrasi dan erosi. Bermula dari keprihatinan itu, mendorongnya untuk melakukan aksi yang dapat membantu masyarakat sekitar. Ia lalu menemui salah satu tokoh warga di Tanjung Mas, Junaedi, yang merupakan Ketua Kelompok Camar.

Baca juga:  Tambahkan Kaki dan Tabung untuk Diisi Pupuk dan Pestisida

Hario tertarik dengan gebrakan yang dilakukan Kelompok Camar. Yakni merawat dan budidaya pohon mangrove di sekitar wilayah itu. Sayangnya, belum banyak orang yang tahu dengan aksi positif Junaedi dan kelompoknya tersebut. Dari pertemuan itulah, Hario berinisiatif membuat sebuah platform nirlaba yang sengaja dibuat untuk memfasilitasi masyarakat mengampanyekan penghijauan hutan sekaligus mengajak mereka berpartisipasi (crowdsourching).

Platform lindungihutan.com tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk melakukan upaya penggalangan dana (crowdfunding) untuk usaha-usaha penanaman pohon atau pelestarian hutan. “Ya, pada intinya menyediakan wadah untuk penggalangan dana dan publikasi aksi penghijauan hutan,” katanya.

Begitu start-up selesai dibuat, Hario terus konsisten untuk menyosialisasikan lindungi hutan, sekalipun memuai banyak lika-liku. Bahkan ia sempat diusir dari kontrakan, konflik, terjebak banjir rob hingga mengalami kecelakaan. Ada pula rekan-rekan sepermainannya yang mencemooh dan tidak mendukung aksi baiknya itu, mengingat konsep gagasan yang diwujudkannya tidak dapat memberikan profit.

Baca juga:  Mudik sebelum Penyekatan, Langsung Lapor ke Posko PPKM Mikro

Namun ia tak pernah menyerah begitu saja. Hario justru semakin bersemangat untuk menggalakkan aksinya hingga menemukan orang-orang yang sevisi dengannya. Satu-persatu rekan-rekan sevisinya ditemukan, sehingga lebih mudah mencapai tujuan. Baginya, selalu konsisten mengampanyekan alam, karena ada impact yang dihasilkan.

Impact yang bisa dihasilkan adalah ketika kita bisa mencapai tujuan. Impact bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Makanya saya berbuat saja secara ikhlas, mungkin di dunia nggak dapat keuntungan uang, namun di akhirat akan ada yang dipetik melebihi uang,”kata Hario.

Alumnus sarjana Sistem Informasi Universitas Airlangga Surabaya ini juga  menyampaikan, satu visi terbesar di Lindungi Hutan adalah menjaga kehidupan dengan melakukan pembaharuan terhadap lingkungan dan terhadap hubungan. Menurutnya, Lindungi Hutan bukan hanya start-up, tetapi juga pergerakan di dunia yang impact-nya juga di akhirat. Termasuk bukan semata hanya untuk timnya, tetapi juga relawan dan teman-teman yang terlibat dalam pergerakan.

Baca juga:  Komunitas Lemari Buku-Buku Kota Semarang; Galang Donasi Buku lewat Seni Menggambar

Atas terbentuknya start-up itu, dibuatlah konsep kampanye alam melalui berbagai strategi, seperti menggandeng komunitas, mengadakan gathering, melakukan kerja sama dengan instansi-instansi dan lainnya dengan memanfaatkan teknologi digital dan relawan yang ada di daerah-daerah. Hingga kini, Lindungi Hutan yang awalnya hanya beranggotakan 13 orang telah memiliki sekitar 1.000 relawan.

“Relawan-relawan tersebut menjadi sebuah komunitas yang tersebar di 51 kota di Indonesia, mulai dari Sumatera hingga Papua dan mereka juga siap mewujudkan visi Lindungi Hutan,”ujarnya.

Selain itu, berbagai penghargaan juga telah diraih, seperti juara 1 DietPi Start Up Digital 2016, start up pilihan tempo 2017, Top Six the Nex Game kategori agriculture dan lolos start up top 100 di Istanbul. Atas pencapaian penghargaan itu, Hario berharap semakin banyak yang peduli terhadap lingkungan.

“Sesuai dengan slogan Lindungi Hutan: Bersama Menghijaukan Indonesia, saya berharap yang menghijaukan Indonesia bukan hanya relawan Lindungi Hutan, bukan hanya orang-orang Lindungi Hutan, tetapi juga keterlibatan masyarakat secara besar,”ungkapnya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya