alexametrics

Solar Cell Rusak, Jendela Jebol, Penuh Debu

Kondisi Terakhir Rumah Apung Tambaklorok, Semarang Utara

Artikel Lain

Rumah apung di Tambaklorok, Semarang Utara merupakan rumah apung pertama di Indonesia yang didesain mengambang di atas air. Rumah apung ini menjadi solusi di tengah penurunan muka air tanah di wilayah tersebut yang begitu tinggi. Sayangnya, kini kondisi rumah apung bernilai miliaran rupiah itu sangat memprihatinkan.

DICKY ABDILLAH, RADARSEMARANG.ID

RUMAH apung Tambaklorok diresmikan pada 25 November 2016 oleh Menteri PUPR M Basuki Hadimuljono.  Bangunan ini memiliki fasilitas ramah lingkungan. Seperti solar cell yang berfungsi sebagai sumber tenaga listrik tenaga surya di rumah itu dan sebagai sumber air yang diembunkan dari matahari. Juga fasilitas perpustakaan, dapur, sanitasi, toilet, sistem pengolahan limbah, dan masih banyak lagi.

Namun dalam perjalanannya, ternyata tak semulus yang diharapkan. Minimnya dukungan dana perawatan dari pemerintah, membuat fasilitas yang ada di rumah apung ini tak berfungsi sebagaimana mestinya.

Baca juga:  Mudik sebelum Penyekatan, Langsung Lapor ke Posko PPKM Mikro

Pengelola rumah apung Tambaklorok Ahmad Arifin mengatakan, fasilitas yang ada di rumah apung ini sebenarnya. Mulai perpustakaan, ruang pertemuan, hingga adanya listrik tenaga surya. Namun keberadaan solar cell tersebut hanya bertahan setahun. Saat ini warga kembali menggunakan listrik biasa.

Diakui, rumah apung ini masih di bawah wewenang pemerintah pusat, dan belum dilimpahkan ke Pemkot Semarang. “Saya dan warga sini sebetulnya ingin membetulkan fasilitas-fasilitas yang rusak tersebut, namun berhubung rumah apung ini masih di bawah wewenang pemerintah pusat, kami tidak berani. Takut ada kesalahan,” kata pria yang memiliki usaha air isi ulang di depan rumah apung tersebut.

Selain solar cell rusak, salah satu jendel di rumah apung juga jebol. Tampak buku-buku koleksi perpustakan berserakan tidak rapi. Debu juga terlihat di mana-mana. Di rak buku, lantai, dan pagar lantai dua. Ini membuktikan jika sudah cukup lama, ruang baca itu tidak dipakai.

Baca juga:  Bekerja dengan Hati dan Humanis

Menurut Arifin, sebenarnya sejumlah kegiatan kerap digelar di rumah apung ini. Mulai acara internal warga Tambaklorok hingga acara yang lingkupnya Kota Semarang. “Rumah apung ini dipakai rutin setiap sebulan sekali oleh acara pertemuan RT dan RW se-wilayah Tambaklorok, juga rutin digunakan oleh acara ibu-ibu PKK, dan kegiatan SDI Tahfiyatul Watok Tambaklorok,” bebernya.

Ketua RT 1 RW 16 Tambaklorok ini menjelaskan, dirinya mengiginkan adanya perhatian khusus dari pemerintah untuk pemeliharaan rumah apung ini. “Saya merasa selama sekitar tiga  tahun ini rumah apung dibangun, perhatian pemerintah dalam pemeliharan sangat kurang. Terkesan hanya membuat saja, lalu meninggalkan,” tegasnya.

Hal senada dilontarkan oleh Maftuh, warga RT 1 RW 16 Tambaklorok sekaligus sebagai salah satu pengurus rumah apung tersebut. Ia menceritakan, sejak awal dibangun, tidak ada dana sepeserpun dari pemerintah untuk pemeliharaan dan perawatan rumah apung ini.

Baca juga:  Ahmad Abu Rifa’i, dari Baca Buku Rongsokan, Kini Raih Dua Juara

“Warga dan pengurus sini pakai biaya swadaya. Banyak bagian rumah apung yang rusak seperti pintu, jendela, dan jembatan penyeberangan sudah berkarat. Bukan kami tak ingin membetulkan, hanya saja terkendala biayanya,” tuturnya.

Pria 55 tahun ini mengaku, akhir Juli lalu ada kunjungan dari Kementerian PUPR.  Dalam kunjungan tersebut, pihak PUPR berjanji akan segera memperbaiki fasilitas-fasilitas yang rusak.

Ke depan, Maftuh berharap ke depan ada dana perawatan rumah apung dan perhatian serius dari pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah kota. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya