alexametrics

Sering Telat setiap Kuliah Pagi, Raih IPK 3,9

Nashrur Rohim, Loper Koran Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo

Artikel Lain

Bekerja sambil kuliah dilakoni Nashrur Rohim. Meski begitu, pemuda yang sehari-hari menjadi loper koran ini berhasil menjadi wisudawan terbaik UIN Walisongo.

 DEWI AKMALAH, RADARSEMARANG.ID

 

TENANG, bersahaja dan berwibawa. Gambaran itulah yang dapat mendeskripsikan sosok Nashrur Rohim. Meskipun begitu ketika  RADARSEMARANG.ID menemuinya, terpancar raut sumringah menghiasi wajahnya. Hal tersebut mengingat Rabu (28/8) hari ini merupakan hari bersejarah baginya berhasil menuntaskan perkuliahan yang penuh tantangan. Ditambah lagi  dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang nyaris sempurna, yakni 3,9. Bahkan, Nashrur Rohim menjadi salah satu wisudawan terbaik UIN Walisongo.

Ia mengaku, untuk meraih prestasi tersebut dirinya harus bekerja keras agar bisa terus kuliah. Pria berkacamata ini rela menjadi loper koran untuk dapat memenuhi kebutuhan selama menempuh kuliah di Semarang.

Nashrur menjelaskan, menjadi loper koran dilakoni sejak empat tahun lalu. Setelah lulus SMA, ia tidak langsung melanjutkan perkuliahan. Nashrur justru mendaftar ke Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Semarang dan direkrut untuk menjadi loper koran selama setahun. Namun mimpinya untuk melanjutkan kuliah tidak dapat dibendung lagi. Ia pun mendaftar ke UIN Walisongo, namun tidak melepaskan pekerjaan yang dilakoni sebagai loper koran.

Baca juga:  Arahkan CSR untuk Entaskan Kemiskinan

“Saya sempat berhenti kuliah setahun untuk bekerja. Awalnya enak kerja dapat uang sendiri. Namun lama-lama keinginan saya untuk kuliah semakin kuat. Saya juga ingin lulus dari bangku perkuliahan dan mendapat pekerjaan yang jauh lebih baik. Maka dari itu, saya mendaftar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam jurusan Perbankan Syariah,” ujarnya.

Kuliah sambil bekerja tentu tidak mudah. Begitu halnya yang dirasakan oleh anak bungsu dari empat bersaudara ini. Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, dirinya mulai keluar dari rumah di daerah Mranggen Demak  pukul 05.00. Setelah itu, ia mengambil koran dan mulai berkeliling dari Jalan Wonodri, menuju MT Haryono, Jalan Barito, Jalan Majapahit, Jalan Soekarno-Hatta, Tlogosari, Jalan Wolter Mongensidi, Tlogomulyo, Penggaron dan kembali lagi ke rumahnya. Setelah itu, ia harus bersiap untuk berangkat kuliah di UIN Walisongo yang jaraknya jauh dan membutuhkan waktu hampir satu jam untuk sampai di sana. Namun ia tetap semangat demi mengikuti perkuliahan yang ada.

“Kuliah sambil kerja itu susah. Apalagi kalau ada kuliah pagi. Pasti telat tiap hari. Untungnya dosen memaklumi. Kalau untuk perkuliahan sendiri Alhamdulillah saya tidak keteteran. Terpenting tugas dosen saya kerjakan dan semuanya pasti beres. Kalau soal IPK tinggi sejak awal kuliah sampai sekarang memang selalu di kisaran 3,8 hingga 3,9” katanya sambil tersenyum.

Baca juga:  Usung Konsep Mural Simbolik Keluarga, Hasilnya Dipamerkan Virtual

Ia mengaku banyak temannya yang tidak mengetahui dirinya bekerja menjadi loper koran. Meskipun tidak malu dengan pekerjaannya, ia ingin mahasiswa lain memandang dirinya sama dan tidak mengasihaninya. Bahkan banyak temannya yang akhirnya mengetahui setelah pihak kampus mengumumkan pada upacara perpisahan fakultas yang dilaksanakan Senin (26/8) lalu. Mereka mengaku bangga dan terinspirasi bahwa meskipun menjadi loper koran ia mampu menjadi mahasiswa berprestasi.

Hebatnya lagi, di tengah padatnya jadwal kuliah dan bekerja, Nashrur masih sempat mengurus anak yatim di kampungnya. Baginya persamaan nasib telah ditinggal ayahnya  membuat jiwa sosialnya terdorong untuk membantu dan berbagi kepada mereka. Baginya, mereka adalah keluarga dan menjadi salah satu semangat selain ibu dan keluarganya.

“Saya memang aktif di kampung untuk mengurus anak yatim. Saya tidak terlalu suka aktif di kampus, namun tidak bisa sosialisasi di kampung. Banyak anak sekarang yang jadi aktivis kampus, namun di kampung halamannya ternyata tidak memberikan kontribusi kemajuan kampung. Maka dari itu, saya lebih respek kepada mereka yang memiliki kontribusi di kampung daripada hanya bisa koar-koar di kampus saja,” lanjutnya.

Baca juga:  Sumbang 35 Hewan Kurban ke Pelosok Nusantara

Terakhir dirinya berpesan bagi siapa saja untuk selalu menghargai apapun yang mereka punya. Selain itu jangan pernah malu kuliah sambil bekerja. Selama halal dan berkah pekerjaan apapun tidak menjadi masalah. Mandiri dan membantu orang tua menjadi alasannya selalu bersemangat, sehingga tidak membebani. Ia bertekad ketika sukses nanti akan membahagiakan keluarganya terutama sang ibu yang sudah banting tulang mengurus dirinya seorang diri.

“Bagi anak yang merengek saja sudah dapat apa yang ia inginkan harus bersyukur. Setidaknya mereka tidak perlu kerja keras untuk meraih impiannya. Namun bagi siapa saja yang seperti saya, jangan patah semangat. Selama halal berkah tidak perlu malu. Untuk prestasi kuncinya cuma satu. Semua perkataan dosen dijalani. Tugas dikerjakan. Insya Allah dapat IPK bagus,” katanya. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya