alexametrics

Peninggalan Belanda, Pertahankan Keaslian Bangunan

Mengunjungi Puri Gedeh, Rumah Dinas Gubernur Jateng

Artikel Lain

Puri Gedeh, bangunan peninggalan Belanda saat ini digunakan sebagai rumah dinas Gubernur Jateng dari masa ke masa. Selain memiliki kisah unik dari sisi bangunan, para gubernur yang pernah tinggal di rumah dinas ini juga memiliki hobi dan kebiasaan berbeda.

M HARYANTO, RADARSEMARANG.ID

Puri Gedeh terletak di Jalan Gubernur Budiono, Gajahmungkur, persisnya di samping Taman Sudirman. Bangunan tersebut berdiri di lahan seluas 400 meter persegi. Terbagi tiga bagian rumah, yakni rumah induk, sekretariat, kamar untuk ajudan, ruang staf yang sedang piket, dan tamu gubernur yang menginap.

“Rumah induk ditempati Pak Gubernur beserta istri dan anaknya,” kata Koordinator Rumah Dinas Gubernur Jateng Bima Sakti saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (14/8) lalu.

Rumah induk terdiri atas beberapa ruangan. Mulai ruang rapat, ruang keluarga dan ruang kerja. Ada juga ruang tamu dengan fasilitas meja-kursi panjang dari kayu jati. Ruangan tersebut terkesan santai. Tampak beberapa hiasan dinding bergambar Gubernur Ganjar Pranowo, mulai dari lukisan, karikatur, foto, dan sebagainya. Termasuk hiasan berupa miniatur yang diberikan tamu gubernur juga dipajang. “Ruangan tamu ini dibuat santai, jadi Pak Gubernur kalau menerima tamu ya di sini juga,” terangnya.

Bangunan kuno ini memang sengaja dipertahankan keasliannya. Seperti halnya jendela, pintu, ubin, dan lain sebagainya, belum mengalami perubahan. Keaslian itu juga dijaga hingga peranti-peranti yang berada di dalam rumah. Seperti lemari, rak, meja, kursi, dan lain-lain. “Semuanya masih asli. Hanya ada perbaikan kecil untuk menjaga agar bangunan tetap kokoh,” ucapnya.

Baca juga:  Kini Berusia 212 Tahun, Pernah Nyaris Dirobohkan

Selain itu, lanjut dia, di tempat tersebut juga terdapat fasilitas olahraga. Seperti lapangan bulutangkis, futsal dan tenis. Fasilitas olahraga tersebut sering digunakan oleh para pekerja.

Bima menyebutkan penghuni bangunan di Puri Gedeg jumlahnya mencapai puluhan orang, terdiri atas Satpol PP di penjagaan, staf, cleaning service, pelayan, dan driver, termasuk tukang kebun.

“Ada sekitar 50 orang di sini, termasuk di Wisma Gubernur. Sebenarnya itu satu wadah, satu Subbag (sub bagian). Kita menjaga keharmonisan dengan cara saling percaya. Kita di sini sudah seperti saudara. Kalau ada suka atau duka seperti kesripahan, kita bareng-bareng takziah,” katanya.

“Kalau ada salah ya kita diskusikan, kita saling mengingatkan. Jadi, semua kerja untuk memaksimalkan pelayanan kepada Pak Gubenur, keluarganya termasuk para tamu yang datang ke sini. Tamunya banyak banget, kadang sampai malam. Bahkan Pak Gubernur juga tidak memilih-milih tamu yang datang ke sini, pasti semua diterima,” lanjutnya.

Bima mengaku bekerja di rumah dinas baru berjalan empat tahun atau selama kepemimpinan Gubernur Ganjar Pranowo. Menurutnya, kesibukan gubernur lebih sibuk dibandingkan para penghuni rumah tersebut. Namun demikian, Ganjar selalu menyempatkan hadir ketika mendengar kabar suka maupun duka terhadap penghuni rumah Puri Gedeh.

“Pak Gubernur pun sangat respect dengan itu. Kecuali kalau urgen banget, ada acara. Karena beliau itu yang mencontohkan ke kami, meski beliau itu sibuknya luar biasa sepeti itu saja, tetap care sama kami semua di sini. Sehingga kami jika dibandingkan kesibukannya tidak apa-apanya dengan beliau,” jelasnya.

Baca juga:  Saking Jujurnya, sampai Tak Punya Rumah dan Tanah

Bima menyebutkan, saling komunikasi adalah kunci utama dalam kelancaran bekerja. Meski aturan di tempat tersebut tidak kaku, namun tidak saling menyelepekan. Menurutnya, Gubernur Ganjar juga tidak semena-mena memperlakukan pekerja disitu meski dia seorang pemimpin.

“Pak Gubernur sebenarnya juga santai, karena mereka tahu kalau kita sampai malam di sini. Sehingga Pak Gubernur juga mengerti, dan tidak terus kaku. Tidak banyak nuntut kamu harus gini, kamu harus gitu. Karena di sini rumah tangga, dan semua bergerak, tidak hanya secara administrasi saja, tetapi di lapangan mengondisikan tamu,” jelasnya.

Ditanya hobi yang disukai Gubernur Ganjar Pranowo, Bima menyebutkan sepedaan merupakan hobinya yang dilakukan bersama sang istri, Ny Atikoh Ganjar Pranowo. Hobi tersebut sering dilakukan pada Sabtu dan Minggu sekitar pukul 05.30. Kecuali manakala tidak ada acara yang sangat urgent yang tidak bisa ditinggalkan. “Kalau sepedaan pasti pagi makan soto, langganannya banyak,” katanya.

Bima menambahkan, sering mendengar cerita atau pengalaman pekerja di Puri Gedeh di masa kepemimpinan sebelum-sebelumnya. Menurutnya, perlakuan yang diberikan kepada penghuni rumah tersebut, juga hampir sama seperti gubernur sekarang.

“Saya juga sering mendengar banyak yang curhat. Perlakuan pak gubernur yang sebelum-sebelumnya juga bagus juga. Sama dengan beliau. Pak Gubernur Ganjar juga angat memanusiakan manusia, kalau berangkat kerja ya pasti menyapa teman-teman di sini,” imbuhnya.

Baca juga:  Sempat Dicurangi, Berhasil Kalahkan 600 Peserta lain

Widodo mengakui bekerja di bagian teknik bukan cuma menangani instalasi listrik, misalmnya AC. Di tempat tersebut harus bisa serabutan, termasuk mengantar makanan kepada gubernur di tempat kerjanya.

“Ya, harus begitu, karena Pak Gubernur itu juga kepengin dekat dengan pekerja di sini. Pak Gubernur menganggapnya yang di sini itu lebih ke teman,” terangnya.

Bapak tiga anak ini mengaku bekerja di Puri Gedeh sejak 2000-an. Ia pernah mengalami bekerja bersama sejumlah gubernur. Antara lain, Geburnur Ismail, Mardiyanto, Ali Mufiz, Bibit Waluyo dan Ganjar Pranowo. Menurutnya semua pejabat sama baiknya.

“Semuanya baik. Kalau hobinya Pak Ismail dan Pak Bibit dulu hobi golf. Kalau Pak Ali hobinya badminton dan sering ngajak teman-teman di sini. Kalau Pak Ganjar hobinya sepedaan, sampai Semarang, Wonosobo sama ibu (istri Ganjar Pranowo),” kata pria yang juga PNS ini.

Hal paling utama dalam kelancaran bekerja, menurut Widodo, sekarang ini lebih mudah dan enak karena adanya media sosial WhatsApp. Sehingga komunikasi dan koordinasi dalam bekerja sangat mudah.

“Kita kan ada grup WA, kita saling koordinasi dan saling membantu pekerjaan bisa selesai dengan baik. Makanya HP itu tidak boleh ditinggal, HP harus standby. Karena ini juga tanggung jawab kerja,” ujarnya. (mha/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya