alexametrics

Sukarelawan Pengawal Ambulans Bebas Macet

Lebih Dekat dengan Indonesia Escorting Ambulance (IEA) Semarang

Artikel Lain

Melihat kemacetan di Kota Semarang mendorong organisasi Indonesia Escorting Ambulance (IEA) Semarang untuk melayani. Bermodal nekat, teman-teman IEA membantu memberikan jalan ambulans menuju rumah sakit. 

MARIA NOVENA, RADARSEMARANG.ID

 

“Terbentuknya IEA Semarang karena sering melihat mobil ambulans yang terjebak macet. Padahal mobil ambulans tersebut harus menyelamatkan pasien. Atas dasar itu, hati kami tersentuh untuk melakukan pendampingan secara suka rela. Hal itu demi kelancaran mobil ambulans supaya pasien segera tertangani,” ujar Humas 2 IEA Semarang, Rio Irlanno Rizky kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menjadi sukarelawan pendamping mobil ambulans memang tidak mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi saat mengawal mobil ambulans. Apalagi kondisi lalulintas di Kota Semarang semakin padat. Hal itu dapat menimbulkan kemacetan. Bahkan raungan sirine mobil ambulans seringkali diabaikan oleh pengguna jalan, sehingga kemacetan sulit untuk ditembus. Atas dasar itu terbentuklah organisasi Indonesia Escorting Ambulance Semarang.

Baca juga:  Bingung setelah Di-PHK, Berharap Bantuan Dermawan

IEA Semarang merupakan organisasi untuk melakukan pendampingan ambulans. Mereka merupakan sekumpulan anak muda, yang membantu mobil ambulans saat terjebak kemacetan. Adapun pendampingan yang dilakukan tergantung situasi yang dihadapi. Terkadang bisa mengawal dari belakang maupun depan. Namun saat terjadi kemacetan parah. Tim IEA Semarang berusaha membuka celah jalan untuk mobil ambulans. Dengan begitu mobil ambulans tetap bisa berjalan lancar dan tidak terjebak kemacetan.

Menurutnya, menjadi relawan pendamping ambulans memang harus memiliki mental baja. Sebab, saat melakukan pengawalan di lapangan banyak rintangan yang dihadapi. Di antaranya, pengguna jalan masih belum menyadari kepentingan bersama. Terkadang pengendara tidak mau mengalah. Padahal sudah mengetahui kalau suara sirine mobil ambulans gawat darurat telah berbunyi. Tetapi pengendara masih saja mengabaikan.

Baca juga:  Bantuan Ambulans untuk Penanganan Covid

“Saat kami melakukan pengawalan di depan mobil ambulans malah kena semprot dari pengguna jalan. Bahkan sampai ada yang membentak-bentak. Namun karena semua yang dilakukan ini timbul dari hati, jadi tidak ada rasa dendam maupun marah dengan pengguna jalan,” katanya.

Ternyata pekerjaan yang mulia tersebut mendapatkan respon positif dari masyarakat.  Pekerjaan IEA Semarang dilindungi oleh Undang-Undang Lalulintas Nomor 22 Tahun 2019 pasal 134. Termasuk bersinergi dengan Bankom Polrestabes sejak 2018.

“Walaupun mereka tidak meminta bayaran, tapi sangat puas sekali bisa mempercepat laju mobil ambulans. Supaya pasien dapat terselamatkan. Jika pasien bisa selamat, maka kami sangat bangga sekali. Kami tak hanya melakukan pendampingan, tapi juga sosialisasi ambulans hebat. Sosialisasi berupa pembagian stiker informasi ambulans hebat,” imbuhnya.

Baca juga:  Kasus Covid-19 Turun, Permintaan Ambulans Berkurang

Kemudian berkembang di media sosial Facebook dan Instagram. Mereka membuat komunitas IEA Semarang. Dari situ banyak masyarakat berminat menjadi pendamping mobil ambulans demi menyelamatkan pasien. Hingga kini sejak terbentuknya organisasi IEA Semarang pada Juli 2017sudah memiliki 58 anggota.

Lebih dari itu di beberapa wilayah ikut mendirikan relawan pendamping ambulans. Adapun sistem perekrutan anggota cukup melalui Instagram dan Facebook. Perekrutan anggota dilakukan setiap tahun dua kali. Persyaratan awal masuk anggota IEA Semarang wajib mengumpulkan fotokopi KTP dan SIM.

Selain itu, dalam melakukan pendampingan mobil ambulans, Tim IEA Semarang bersinergi dengan Badan Komunikasi (Bankom) Polrestabes Semarang. Kerja sama itu untuk memonitoring informasi dari Bankom ketika ada informasi kecelakaan. Jika terjadi kecelakaan, Tim IEA Semarang langsung mengoordinasikan dengan ambulans hebat di Kota Semarang. (*/aro)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya